21 October 2026
HomeBeritaKesraPendapatan Rendah, Harga Susu Mahal, Masyarakat Pilih Kental Manis untuk Anak

Pendapatan Rendah, Harga Susu Mahal, Masyarakat Pilih Kental Manis untuk Anak

SHNet – Meski sudah banyak tahu mengenai kental manis bukan merupakan susu, masih banyak yang memberikan produk tersebut kepada anak sebagai susu. Survei Universitas Islam Bandung (Unisba) pada 2026, sebanyak 70,7 persen responden memilih kental manis karena lebih murah, sedangkan 68,1 persen menilai produk susu lain terlalu mahal.

Ekonom INDEF, Nailul Huda, hal tersebut menunjukkan faktor ekonomi masih cukup dominan, dalam menentukan apa saja yang harus dibeli. Ketika harga susu formula dinilai mahal dan pendapatan rumah tangga terbatas, kental manis menjadi alternatif yang dianggap lebih terjangkau.

“Beban bagi masyarakat yang semakin berat, membuat mereka hanya berpikir ‘yang penting anak anteng’. Kombo inilah yang menyebabkan banyak masyarakat yang mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu,” kata Nailul.

Nailul menilai pemerintah perlu meringankan beban pengeluaran masyarakat dengan menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok, menyediakan produk susu dengan harga terjangkau, serta meningkatkan pendapatan untuk memperkuat daya beli.

“Pemerintah seharusnya meringankan beban masyarakat dengan menciptakan harga kebutuhan pokok yang terjangkau, hingga menyediakan susu formula bagi masyarakat dengan harga terjangkau. Di sisi lain, kenaikan pendapatan juga harus bisa dikerek secara optimal guna meningkatkan daya beli,” ucap Nailul.

Selain faktor ekonomi ekonomi, masih banyak yang mengonsumsi kental manis sebagai susu tidak terlepas dari persepsi kental manis merupakan susu yang sudah dibangun selama puluhan tahun. Sebelum ada PerBPOM Nomor 20 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, kental manis juga diiklankan sebagai susu. 

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun, Fajar Junaedi, mengatakan iklan yang dikemas dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat membangun ingatan dan persepsi yang bertahan lama.

“Iklan bisa terus membekas di benak audiens ketika tagline dan call to action-nya related dengan audiens. Audiens merasa apa yang disampaikan iklan sejalan dengan apa yang mereka alami,” kata Fajar.

Oleh karena itu, Fajar menyebut para pegiat kesehatan yang berkutat dalam kampanye pelurusan persepsi seperti Majelis Kesehatan (Makes) PP Aisyiyah harus lebih pintar dalam membuat konten edukasi terutama di ranah digital. Menurutnya, tidak cukup hanya menyampaikan informasi yang benar, tetapi juga harus dikemas dengan pendekatan komunikasi yang mampu menarik perhatian dan melekat di benak audiens.

“Tantangan yang dihadapi adalah kuatnya pesan iklan ini membekas di audiens. Untuk meluruskannya, kader Aisyiyah harus bisa mengemas iklan yang what to say-nya dalam how to say yang menarik. Tagline dan call to action yang kuat menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengemas pesan iklan untuk meluruskan persepsi salah tentang kental manis,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wakil Ketua (Makes) PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes., mengatakan pihaknya menemukan masih banyak orang tua yang memberikan kental manis kepada balita karena menganggap produk tersebut sebagai susu. Seperti yang ditemukan oleh Makes PP Aisyiyah beberapa waktu lalu saat melakukan edukasi di Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. 

“Di awal program pada 2024, banyak orang tua memberikan kental manis karena mengira itu susu. Pada tahun 2026 ini, kami melangkah lebih jauh di Kabupaten Pringsewu dengan melakukan intervensi pendampingan gizi seimbang harian,” jelas Chairunnisa.

Dampaknya pun langsung terlihat dari edukasi yang dilakukan Makes PP Aisyiyah, banyak orang tua yang akhirnya sudah tersadar. Kini, orang tua sudah mulai memberikan pangan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak dan tidak lagi memberikan kental manis.

“Ibu-ibu sudah paham bahwa kental manis itu bukan susu pertumbuhan. Mereka kini memberikan susu yang tepat serta makanan bernutrisi untuk tumbuh kembang anak,” ungkap Chairunnisa.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU