15 October 2026
HomeBeritaPariwisataPerdana, 1.300 Penari Gandrung Sewu 2026 Pentas di Malam Hari

Perdana, 1.300 Penari Gandrung Sewu 2026 Pentas di Malam Hari

SHNet, Jakarta – Ribuan penari akan menyulap panggung Gandrung Sewu 2026 menjadi pertunjukan kolosal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mengusung konsep Glow in the Dark, festival budaya kebanggaan Banyuwangi ini akan digelar pada malam hari, 24 Oktober 2026, dengan melibatkan sekitar 1.300 penari dari dalam dan luar daerah.

Bukan sekadar menghadirkan kemegahan pertunjukan, inovasi ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperkuat daya saing pariwisata berbasis budaya. Berkolaborasi dengan InJourney (PT Aviasi Pariwisata Indonesia), Banyuwangi membidik peningkatan kunjungan wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat.

Memasuki penyelenggaraan ke-14, Gandrung Sewu terus dikembangkan sebagai panggung untuk memperkenalkan identitas, sejarah, dan kekayaan seni budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas. Pergeseran konsep pertunjukan ke malam hari juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari penataan artistik dan pencahayaan hingga penyelarasan gerak ribuan penari.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, Gandrung Sewu memiliki makna lebih besar daripada pertunjukan tari kolosal. Festival ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memastikan generasi muda mengenal dan mewarisi kebudayaan daerahnya.

“Gandrung Sewu bukan hanya bicara tentang bagaimana penari gandrung kolosal ditampilkan, tetapi juga bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk melestarikan dan meregenerasi budaya Banyuwangi,” ujar Ipuk dalam konferensi pers kolaborasi InJourney dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Menurut Ipuk, kekuatan budaya yang autentik menjadi pembeda Banyuwangi di tengah persaingan antara destinasi wisata. Karena itu, penyelenggaraan festival tidak cukup hanya menarik perhatian penonton, tetapi juga harus mampu membangun citra daerah dan mendorong wisatawan untuk datang langsung menikmati kekayaan budaya setempat.

Budayawan Banyuwangi sekaligus Patih Senawangi Gandrung Sewu, Suko Prayitno, menjelaskan bahwa pertunjukan tahun ini melibatkan sekitar 1.300 penari, terdiri atas 1.100 penari asal Banyuwangi dan 200 penari dari luar daerah.

Mereka akan menyatu dalam koreografi kolosal yang menggambarkan perjalanan cerita tentang doa, perjuangan, hingga keikhlasan. Keselarasan gerak menjadi elemen penting untuk membangun kekuatan pertunjukan, terlebih konsep malam hari membutuhkan persiapan artistik yang lebih matang.

Bagi Banyuwangi, keterlibatan ribuan penari juga menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya membutuhkan partisipasi masyarakat dan regenerasi seniman. Gandrung Sewu tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga wadah bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam menjaga tradisi.

Suko menuturkan, kekhasan Gandrung Sewu terletak pada karakter budaya Banyuwangi yang tumbuh dari tradisi lokal dan perpaduan berbagai ekspresi seni. Kehadiran konsep baru setiap tahun diharapkan membuat festival ini tetap relevan sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi penonton.

Gandrung Sewu di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu (14/10/2026). (Dok.SHNet/Stevani)

Memperluas Jangkauan Promosi

Kolaborasi dengan InJourney diarahkan untuk memperluas jangkauan promosi dan memperkuat keterhubungan antara transportasi, atraksi wisata, dan pengalaman wisatawan di daerah tujuan.

Direktur Human Capital dan Digital InJourney, Herdy Harman, mengatakan bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat hanya mengandalkan sektor transportasi. Perjalanan wisatawan mencakup berbagai mata rantai, mulai dari bandara, akomodasi, destinasi, atraksi budaya, hingga layanan pendukung lainnya.

Menurut Herdy, peningkatan pergerakan penumpang perlu diikuti kualitas pengalaman wisata yang baik. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di daerah tujuan.

Ia menilai Banyuwangi menunjukkan bagaimana kreativitas pemerintah daerah dan masyarakat dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang memiliki karakter kuat. Kolaborasi dengan InJourney diharapkan memperluas pengenalan potensi tersebut kepada pasar wisata yang lebih besar.

Direktur Komersial InJourney Airports, Very Y. Setiady, menambahkan bahwa konektivitas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan pariwisata. InJourney Airports mengelola 36 bandara dan melayani 158 juta penumpang sepanjang 2025.

Jaringan bandara tersebut memiliki peran strategis dalam menghubungkan wisatawan dengan berbagai destinasi di Indonesia. Untuk kegiatan yang berpotensi meningkatkan kunjungan, InJourney Airports juga dapat berkoordinasi dengan maskapai guna menjajaki peluang peningkatan penerbangan.

Very berharap kolaborasi antara pengelola bandara dan pemerintah daerah dapat berlangsung berkelanjutan, sehingga festival budaya tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat arus wisatawan ke daerah.

Destinasi Wisata Budaya

Bagi Banyuwangi, keberhasilan pariwisata tidak semata-mata diukur dari banyaknya pengunjung atau kemeriahan festival. Lebih jauh, pariwisata diharapkan memberikan dampak nyata terhadap peluang usaha, pendapatan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Ipuk menyebut pertumbuhan ekonomi Banyuwangi mencapai 5,8 persen pada 2025. Pada periode yang sama, angka kemiskinan turun menjadi 6,13 persen dari sekitar 8 persen ketika ia mulai menjabat. Pendapatan per kapita masyarakat disebut mencapai Rp65 juta.

Capaian tersebut, menurut Ipuk, perlu ditempatkan dalam konteks pembangunan daerah secara menyeluruh. Pengembangan pariwisata harus berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal.

Festival budaya seperti Gandrung Sewu diharapkan membuka peluang bagi pelaku usaha, sektor kuliner, akomodasi, transportasi, serta berbagai layanan yang berkaitan dengan perjalanan wisata. Namun, besarnya manfaat ekonomi akan sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat lokal dan kemampuan daerah mengelola kunjungan wisatawan secara berkelanjutan.

Melalui Gandrung Sewu 2026, Banyuwangi ingin menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan yang dipertahankan, melainkan juga aset strategis untuk membangun identitas daerah, memperluas pasar pariwisata, dan menciptakan peluang ekonomi.

Ketika 1.300 penari tampil dalam satu panggung pada malam hari, pesan yang ingin disampaikan bukan hanya tentang keindahan tari Gandrung. Lebih dari itu, festival ini menjadi gambaran bagaimana tradisi lokal dapat terus hidup, beradaptasi, dan mengambil peran dalam pembangunan daerah.

Dengan dukungan konektivitas dan promosi yang lebih luas, Gandrung Sewu diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata budaya unggulan Indonesia. (Stevani Elisabeth)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU