SHNet, Jakarta-Penerapan Zero ODOL (Over Dimension Over Loading) tidak bisa dilakukan tanpa perencanaan yang jelas, logis, dan rasional. Karenanya, pelaksanaannya juga harus dilakukan secara bertahap dan tidak bisa terburu-buru.
Senior Vice President PT Pupuk Indonesia (Persero), Veronika Trisna Sukmawati mengutarakan tidak mudah bagi industri pupuk untuk menerapkan kebijakan Zero ODOL ini. Dia menuturkan perusahaan pupuk milik BUMN ini baru bisa mewujudkan Zero ODOL per 1 Agustus 2024. “Kami melakukan Zero ODOL ini secara bertahap hingga per 1 Agustus 2024, seluruh perusahaan kami sudah kami berlakukan Zero ODOL untuk angkutan darat,” ujarnya.
Veronika mengatakan pemberlakuan Zero ODOL di Perusahaan Pupuk Indonesia awalnya dimulai dari tahun 2022 di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kemudian di 2023, Zero ODOL ini diterapkan di daerah Sumatera. Per 1 Agustus 2024, Zero ODOL ini lalu diterapkan di seluruh Bali, Jawa, dan Nusa Tenggara. “Jadi, terhitung 1 Agustus 2024 seluruh Indonesia untuk pemuatan pupuk itu sudah Zero ODOL,” katanya.
Veronika mengakui banyak kendala yang dilalui perusahaan hingga bisa menerapkan Zero ODOL ini. Di antaranya terkait penyesuaian rute-rute yang dilalui, ketersediaan armada, serta cyclenya dari titik yang satu ke tempat lainnya dan arah baliknya yang memerlukan adaptasi. “Kalau kendala pastilah terutama ketika masa transisi dari awalnya menggunakan tronton yang muatannya 35 ton menjadi 15 ton. Pasti di awal perlu masa-masa transisi dan penyesuaian untuk mengatasinya,” ungkapnya.
Dia mengakui adanya penambahan biaya untuk menerapkan Zero ODOL ini. Dari pengalaman mempersiapkan Zero ODOL ini, dia menyampaikan penambahan biaya yang terjadi di masing-masing daerah bervariasi. “Penambahan biaya di masing-masing daerah variatif karena kalau angkutan darat itu kan banyak faktornya. Tidak bisa serta merta kita sampaikan menjadi berapa kali, tapi pasti ada kenaikan biaya,” ungkapnya.
Untuk mengatasi terjadinya penambahan biaya dari penerapan Zero ODOL, menurut Veronika, perusahaan terpaksa melakukan efisien di sisi lainnya. Di antaranya pengadaan moda transportasi selalu dilakukan dengan vendor sehingga mendapatkan harga yang sangat kompetitif. Kemudian, melakukan efisiensi-efisiensi bidang lainnya misalnya warehousing yang dilakukan efisiensi berdasarkan okupansinya, serta mencari supply point untuk laut sehingga mendapatkan tarif secara operasional lebih kompetitif.
Dia mengakui penerapan Zero ODOL di perusahaan pupuk BUMN ini memicu kenaikan sebesar 7-8 persen dibanding Harga Pokok Penjualan (HPP) keseluruhan.
Namun, dia mengutarakan truk ODOL ini masih diperlukan dalam kondisi tertentu seperti jalan longsor. “Kami melakukan Zero ODOL, tapi ada kondisi seperti jalan longsor atau jalan putus sehingga menghambat pendistribusian, maka kami akan ambil kebijakan menggunakan truk ODOL,” katanya. (CLS)

