3 June 2026
HomeBeritaKesraSistem Algoritma Media Sosial Permudah Pengguna

Sistem Algoritma Media Sosial Permudah Pengguna

SHNet, Pontianak — Media sosial seringkali membuat manusia bingung akan kecanggihannya, padahal hal tersebut dikarenakan adanya sebuah sistem yang dikenal sebagai algoritma.

Algoritma tersebut memicu munculnya suatu konten di media sosial kita terkait apa yang kita cari baru-baru ini. Sistem tersebut memerlukan proses berupa masukan dan keluaran agar konten yang dihasilkan sesuai dengan tiap-tiap penggunanya.

Demikian yang mengemuka dalam webinar bertema “Mari Mengenal Algoritma Media Sosial”, Jumat (12/8), di Pontianak, Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Hadir sebagai narasumber adalah Relawan TIK Kalimantan Selatan Azmi Irfala; Edukator Kakatu (Layanan Edukasi Digital Anak) Verra Rousmawati; dan M Adi Bagus Tri P selaku Relawan TIK Kalimantan Selatan.

Dalam webinar tersebut, Azmi Irfala menyebutkan bahwa algoritma pada media sosial terjadi karena perilaku penggunanya, misalnya konten apa yang mereka lihat, lalu hal tersebut disinkronisasikan oleh sistem.

Namun sayangnya masih banyak orang yang beranggapan hal ini menyeramkan lantaran takut diawasi oleh pihak platform. Menurutnya, algoritma ini berfungsi tidak hanya untuk menyaring konten tetapi juga untuk meningkatkan kualitasnya.

Azmi turut menjelaskan cara kerja algoritma, di mana secara garis besar yaitu sistem menampilkan konten secara acak dengan membaca interaksi pengguna atau pencarian terbanyak. Selanjutnya, hasil data dari analisis sistem algoritma akan disajikan kepada penggunanya berdasarkan kesukaan masing-masing.

“Kadang kita mencari apa, namun hal tersebut muncul juga di media sosial kita padahal beda platform. Nah, mereka itu bekerja sama melalui search engine yang kita gunakan. Email yang kita gunakan pada search engine itu sama dengan email yang kita gunakan di media sosial.
Sama juga dengan marketplace, mereka bekerja sama dengan mengumpulkan data kita,” ujar Azmi.

Terkait etika digital, Verra Rousmawati menekankan perlunya pemahaman masyarakat terkait keamanan digital karena data-data kita akan mudah diakses oleh masyarakat luas. Kemudian, ia
turut menggarisbawahi apabila tidak semua diantara pengakses internet merupakan orang yang baik karena setiap celah keamanan dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan, mulai
dari pencurian data hingga bentuk kerusakan pada sistem.

Verra mengatakan “Misalnya, teman-teman menyukai BTS dan Blackpink. Teman-teman sering mengakses informasi-informasi mereka, maka akan otomatis di seluruh sosial media yang teman-teman miliki, contohnya Youtube, Instagram, Facebook akan muncul mengenai BTS dan
Blackpink.”

Pada sesi terakhir, M. Adi Bagus Tri P. menjabarkan jenis-jenis hard skill, seperti T-shaped (bisa melakukan banyak hal tetapi tidak terlalu jago dalam semuanya dan bisa berkolaborasi), M- shaped (menguasai banyak keterampilan secara umum dan menguasai beberapa keterampilan secara mendalam), dan I-shaped (menguasai hanya satu hal atau keterampilan secara
mendalam).

Pemaparan dilanjutkan oleh Adi terkait piramida efektivitas belajar, dimana persentase tertinggi dihasilkan oleh cara mengajarkan kepada kawan, yakni sebesar 70-80%.

“Untuk membentuk karakter, diperlukan waktu yang lama memang, biasanya sistematis dan berkelanjutan. Oleh karena itu, apabila guru sedang mengajar di kelas, maka perlu diperhatikan soalnya nanti ada proses pembiasaan yang sengaja di bikin sistematis oleh ibu bapak guru untuk kebaikan adik-adik kedepannya. Maka dari itu, pembentukan karakter memerlukan pembiasaan,” tuturnya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas,
tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU