22 April 2026
HomeBeritaStaf Khusus BPIP: Literasi Digital Penting dalam Pengarusutamaan Pancasila

Staf Khusus BPIP: Literasi Digital Penting dalam Pengarusutamaan Pancasila

Surabaya-Badan Pembinaan Ideologi Pancasila menyelenggarakan Jejaring Panca Mandala Provinsi Jawa Timur yang dihadiri peserta kegiatan Pengurus Jaringan Panca Mandala di Provinsi Jawa Timur yang berjumlah 195 orang diĀ  Surabaya, Selasa (26/7/2022).

BPIP menggandeng 38 kabupaten/kota di Jawa Timur BPIP berupaya membentuk forum collaborative governance yaitu Jejaring Panca Mandala yang diinisiasi oleh dan dari komponen masyarakat yang bersifat sukarela dan berdasar akan kesamaan tujuan,dalam ikut berperan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Seminar secara Luring ini dihadiri Antara lain Direktur Hubungan AntarLembaga dan Kerjasama Elfrida Herawati Siregar, S.P.,M.M Direktur Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila Toto Purbiyanto S.Kom.,M.Ti, Direktur Jaringan Pembudayaan Dr Irene Camelyn Sinaga, AP.,M.Pd, Budayawan Dr Zawawi Imron dan undangan lainnya. Dalam Diskusi sesi 1 di acara jejaring Panca Mandala Provinsi Jawa Timur dengan tema Literasi Digital Pancasila melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Pengantar Sosialisasi, Promosi Pancasila. Romo Benny menyatakan literasi digital sangat penting dalam pengarusutamaan Pancasila.

Antonious Benny Susetyo menyatakan, pentingnya literasi agar berita hoax jangan segera di share ke Publik.Gunakan 5 jari untuk mengetik dengan bijaksana, Bangsa Indonesia harus memberantas berbagai kebohongan di sosial media dengan budaya pemutus kata bukan pengiya kata.

ā€Jika berbicara tentang digitalisasi itu menjadi kemampuan kita untuk memiliki kesadaran kritis untuk memanfaatkan media dan sarana komunikasi mana yang boleh dishare dan mana yang tidak boleh di-share,” jelas Benny.

Jik ada yang menyebarkan konten SARA makaĀ  secara langsung akan merusak persatuan dan kesatuan bangs aini yang berakibat bangsa hancur dan negara menjadi tidak ada lagi.

Dewasa ini, kata Benny, manusia semakin pragmatis dalam menciptakan konten dan hal itu bisa menghancurkan kepakaran. Dengan muncul berbagai macam komentar tanpa filter di dunia digital maka seolah manusia direduksi oleh teknologi yang lebih lanjut menyebabkan manusia dijajah oleh teknologi sehingga manusia kehilangan kesadaran kemanusiaan.

“Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Jika kita memiliki kesadaran literasi maka kita bisa memiliki alat untuk mempersatukan bangsa ini dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya,” ujar Benny.

Benny menyatakan, ujaran kebencian banyak dilakukan oleh orang dengan rata-rata usia 40 tahun ke atas. Oleh karena itu, dengan kemampuan anak-anak muda generasi milenial menciptakan konten positif bisa mempengaruhi pergerakan tak terbatas ruang dan waktu.

Dampak dari konten positif ini adalah munculnya ruang kreasi seni dengan budaya lokal yang kuat. “Bagaimana ruang digital ini menjadikan Pancasila sebagai habituasi. Kekuatan publikasi digital dan dukungan dari media secara persuasif diharapkan membuat Pancasila nantinya menjadi living ideology dan working ideology,ā€ tegas Benny.

Antonius Benny Susetyo menyampaikan paparan.(ist)

Dalam prakteknya, kata Benny,Ā  Presiden Joko Widodo ingin menjadikan sila ke-3 dan sila ke-5 terimplementasi merata di seluruh Indonesia.Hal itu sudah terlihat baik dari pemerataan pembangunan maupun perbaikan SDM di masing-masing wilayah di Indonesia. Pancasila itu sampai saat ini merupakan kesepakatan sehingga kita bisa hidup dengan damai.

ā€Bagaimana cara menanamkan nilai Pancasila dalam era digital yang terdiri dari pertarungan gagasan dan ideologi? Ibarat siapa yang menguasai konten dan pengetahuan maka dialah yang menguasai dunia, maka Pancasila harus selalu hadir dalam ruang digital tersebut,ā€ ujar Benny.

Menurut Benny, sekarang sangat penting bagaimana menegakkan Pancasila melalui budaya. Bagaimana mengangkat budaya lokal menjadi refleksi keteladanan Pancasila, terutama budaya yang menjunjung tinggi kebersamaan.

“Banyak dari kita kehilangan kesadaran berpikir ketika muncul media digital, pendidikan karakter hilang, budaya korupsi meningkat ketika terjadi hedonism. Maka sudah seyogyanya kita Kembali ke industry dan budaya lokal. Pancasila sudah terbukti membuat Indonesia eksis sampai sekarang. Saatnya kita merebut dunia digital dengan Pancasila supaya timbul kebudayaan tanpa merusak dan menuntun budaya kita menjadi tindakan lokal pemikiran global,” ujarnya.

Benny menambahkan,Ā  dari semua pengalaman yang ada, ditekankan bagaimana secara bersama menyadari bahwa ruang public itu tidak hampa dan mengisi konten itu adalah tugas bersama. Apakah konten itu adalah kearifan lokal, makanan, budaya, kerukunan, gotong royong dan hal baik harusĀ  dihidupkan.

“Kemampuan kita secara persuasive dalam membuat konten sangat ditekankan bukan sekadar mengajari atau menggurui,” katanya.

Menurutnya, kemampuan menciptakan konten creator yang mempengaruhi ruang public juga perlu lebih proaktif untuk melawan kisruh ruang public yang memanfaatkan emosi reaktif. Dengan membuat bahasa sederhana akan konten positif maka arogansi akan runtuh.

Benny mengatakan, media harus objektif dan mentajikanĀ  berita yang tidak meresahkan masyarakat serta membesarkan kasus SARA.

“Tantangan kita di era digital adalah dengan memproduksi konten orisinil. Kita harus bisa menciptakan branding value dalam konten itu ditambah bantuan gotong royong pemerintah dan masyarakat dalam menmasarkan konten tersebut,” tegas Benny.

Benny berharap,Ā  seluruh media baik di Jawa Timur baik di tingkat kampung maupun daerah bisa bermitra dalam membangun konten positif.

Direktur Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila Toto Purbiyanto menyatakan, peran peserta JPM ini sangat penting dalam membumikan Pancasila kepada masyarakat.

“Dengan JPM ini kita berkomitmen bahwa apa yang kita sampaikan di Sosmed adalah hal yang baik, dan jangan sampai kita berpikir ego sectoral. Mari kita dukung sesama rekan di kabupaten dan kota untuk saling men-share idenya supaya Kabupaten lain dapat terinspirasi serta dapat mereplikasi ide dengan terobosan yang lebih maju”, lanjutnya.

Pembumian Pancasila

Dalan kesempatan itu, Antonious Benny jugaĀ  membahas mengenai urgensi pembumian Pancasila. “Kita harus sadar bahwa bangsa ini majemuk baik suku agama lokal, budaya dan menjaga harmoni itu penting. Ir. Sukarno menegaskan negara Indonesia itu bukan milik golongan, tidak ada dominasi mayoritas minoritas tetapi kita memiliki kesadaran.

“Menurut Ben Anderson tentang imajinasi orang Indonesia memiliki ikatan itulah kesadaran yang menyatukan kita. Habitualisasi itu gugus instink dalam bertindak, berpikir dan berelasi. Pentingnya pendidikan moral Pancasila dalam keluarga dan kehidupan masyarakat adalahĀ  dengan mengkembalikan dongeng dan permainan tradisional. Pendidikan Pancasila harus menjadi gerakan pembumian dalam masyarakat.

“Bagaimana tradisi lokal itu diangkat kembali. Sila dalam Pancasila itu jika diperas menujukkan bahwa Pancasila itu menjadi habitualisasi bangsa dan jika diimplementasikan maka menjadi internalisasi,” jelasnta.

TantanganĀ  dalam membumikan Pancasila dalam praktek kehidupan sehari-hari, katanya, menjadi kesadaran dan internaliasi dimulaiĀ  dari konten positiif, bagaimana kreasi kita setelah semua itu menjadi kebersamaan dan gotong royong sehingga kita semua saling share untuk menyamakan gagasan.(den)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU