SHNet, Bogor — Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i mendorong agar anak-anak lebih banyak dilibatkan dalam berbagai kegiatan literasi.
Menurutnya, keterlibatan anak tidak hanya memperluas dampak gerakan literasi, tetapi juga secara tidak langsung mengajak orang tua dan keluarga untuk ikut berpartisipasi.
Hal itu disampaikan Wamenag saat membuka Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) 1448 H di Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama, Bogor, Kamis (30/7/2026).
Wamenag menilai, salah satu indikator keberhasilan sebuah program adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu menarik minat anak-anak. Karena itu, ia mengapresiasi berbagai aktivitas Milfest yang melibatkan anak, termasuk lomba mewarnai dan kegiatan edukatif lainnya.
“Kalau anak-anak kita libatkan, orang tuanya akan ikut,” ujar Wamenag.
Menurutnya, pendekatan yang berorientasi pada anak akan membuat gerakan literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi budaya yang tumbuh sejak usia dini.
Untuk memperkaya kegiatan literasi, Wamenag mengusulkan agar Milfest ke depan menghadirkan lebih banyak perlombaan kreatif yang memadukan ilmu pengetahuan dan seni. Salah satunya adalah lomba menciptakan lagu bertema sains yang mudah dipahami anak-anak.
“Saya kira perlu juga perlombaan lagu-lagu ilmu pengetahuan. Misalnya lagu tentang flora dan fauna, bagaimana tumbuhan hidup dan bernapas. Hal-hal seperti ini bisa dijadikan lagu,” katanya.
Menurut Wamenag, berbagai kreativitas tersebut dapat dikembangkan menjadi agenda rutin sehingga gerakan literasi memiliki kalender kegiatan yang menarik dan berkelanjutan.
“Yang kreatif-kreatif seperti ini saya kira bisa dijadikan agenda rutin atau kalender kegiatan,” tambahnya.
Selain lomba lagu, ia mendorong pengembangan berbagai aktivitas kreatif yang dapat membuat proses belajar lebih menyenangkan sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap ilmu pengetahuan.
GERNAS RANA
Wamenag menjelaskan, orientasi terhadap anak juga sejalan dengan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (GERNAS RANA) yang bertujuan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, baik di rumah, sekolah, ruang publik maupun ruang digital.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang tumbuh yang sehat agar terlindungi dari berbagai pengaruh negatif di era digital. Karena itu, Kementerian Agama tengah menyiapkan penguatan materi pendidikan yang berorientasi pada perlindungan serta pembinaan karakter anak.
“Kawan-kawan di Kementerian Agama sedang menyusun kurikulum yang akan di-insert ke dalam kurikulum yang berjalan. Lagi-lagi untuk anak-anak. Karena cerita masa depan itu cerita anak-anak, bukan cerita kita,” ungkapnya.
Semangat tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan bahwa pendidikan tidak semata-mata bertujuan membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang kuat.
Keluarga, sekolah, dan madrasah dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak. Pendidikan yang humanis dan berpihak pada anak diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, sekaligus berkarakter.
Wamenag pun mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama menjadikan kepentingan anak sebagai bagian penting dalam setiap penyusunan program.
“Mari kita sepakat bahwa apa pun program yang dibuat harus ada porsi yang berorientasi kepada anak-anak,” pungkasnya. (Stevani Elisabeth)

