Jakarta – Baru-baru ini Ketua Komisi Penegakan Regulasi Satgas Sampah Nawacita Indonesia, Asrul Hoesein, mengungkapkan telah mengendus adanya teror yang acapkali mendiskreditkan air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang. Teror dilakukan secara masif dan terstruktur melalui organisasi bentukan baru yang tidak jelas, lobby politik dan kebijakan, berita media berbayar dan di sosial media.
Dalam acara Ngobrol Tempo yang digelar Jumat (2/9) lalu, Asrul mengungkapkan bahwa dirinya sudah bertemu dengan si peneror galon guna ulang itu. “Saya tahu siapa di belakangnya. Dan saya juga sudah mengingatkannya untuk menghentikan tindakannya itu,” ucapnya.
Kata Asrul, tindakan meneror yang dilakukan terhadap galon guna ulang ini sebenarnya bukan hanya menciderai usaha air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang saja, tapi juga menciderai rakyat. “Saya katakan kepada si peneror bahwa dia itu bukan menciderai perusahaan AMDK galon guna ulang saja, tapi juga rakyat. Karena, yang masuk-masuk ke rumah tangga itu kan AMDK galon guna ulang,” katanya.
Pengamatan di sosial media Twitter, terpantau ada sejumlah akun yang sering melakukannya.
Beberapa akun yang dimaksud kebanyakan buzzer yang menggunakan pseudoname seperti Brainbox @Jagal_Abbiliwo, Prada is back! @AlumniMudaIPB, Simpenan Pejabat @BanyuSadewa, NEG @negativisme, dan Kopi Perjuangan @twitkuaing, Habib Think @habibthink dan Yusuf Dumdum @yusuf_dumdum.
Akun-akun pseudoname ini seringkali menggiring opini dan narasi bersumber dari organisasi bentukan baru yang tidak jelas rekam jejaknya, memelintir penelitian ilmiah dan pendapat pakar. Opini utamanya menggunakan narasi tuduhan akan bahaya AMDK galon guna ulang mengandung BPA yang membahayakan kesehatan.
Sebelumnya, Pegiat Literasi yang juga Co-founder REDAXI (Indonesian Antihoax Education Volunteers), Astari Yanuarti, melihat serangan negatif BPA galon guna ulang berbahan polikarbonat yang dilakukan buzzer lebih digiring ke arah Twitwar atau perang opini di Twitter. Pemilihan topiknya juga sengaja dibuat oleh sekelompok pihak seperti buzzer/influencer untuk isu-isu yang sudah dipesan. “Twitwar bisa berulang, terutama jika topiknya memang sengaja diciptakan seperti topik galon BPA ini,” ujarnya.
Menurutnya, secara umum, salah satu karakter penyebaran hoaks adalah daur ulang isu yang serupa. Artinya, hoaks yang sudah disebarkan dalam periode tertentu, akan disebarkan lagi di masa mendatang, meskipun sudah ada klarifikasi terhadap hoaks tersebut.
“Pola ini juga terjadi pada hoaks terkait bahaya BPA pada balita, ibu hamil, dan menyusui. Hoaks yang sudah tersebar sejak beberapa tahun lalu dan sudah diklarifikasi oleh berbagai pihak yang berwenang seperti Badan POM dan para dokter, namun sampai hari ini masih diedarkan oleh berbagai pihak di media sosial. Bahkan hoaks ini masih dipercaya oleh sebagian pihak sehingga tidak heran jika sampai hari ini masih beredar,” katanya.
Seperti diketahui, ahli pangan dan pakar kimia dari universitas ternama di Indonesia seperti UI dan ITB memastikan bahwa air kemasan galon berbahan Polikarbonat (PC) atau galon guna ulang aman untuk dikosumsi. Apalagi menurut para pakar pangan dan kimia ini, produk tersebut sudah memiliki sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI).
Guru Besar Bidang Keamanan Pangan & Gizi di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, C.Ht, mengatakan jika sudah memiliki sertifikat SNI, galon isi ulang berbahan polikarbonat itu sudah dijamin keamanannya.
Pakar polimer dari ITB, DR Ahmad Zainal, bahkan sangat menyayangkan adanya narasi yang salah dalam memahami kandungan BPA dalam galon berbahan PC yang dihembuskan pihak-pihak tertentu akhir-akhir ini. Sebagai pakar polimer, dia melihat PC itu merupakan bahan plastik yang aman. Menurutnya, beberapa pihak sering hanya melihat dari sisi BPA-nya saja yang disebutkan berbahaya bagi kesehatan tanpa memahami bahan bentukannya yaitu Polikarbonatnya yang aman jika digunakan untuk kemasan pangan.

