SHNet, Depok — Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) Kota Depok menggelar diskusi Perlindungan dan Kesejahteraan Guru Agama Kristen bertajuk “Guru yang Mengayomi, Mencerdaskan Anak Bangsa yang Berkarakter” , di GBI Rock Depok, Senin (25/05/2026).
Diskusi tersebut sebagai ruang dialog untuk membahas tantangan pendidikan, kesejahteraan guru agama Kristen, hingga pentingnya membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, legislatif, tokoh pendidikan, hingga organisasi masyarakat yang menyoroti pentingnya perhatian terhadap guru sebagai ujung tombak pembangunan manusia.
Nick Irwan dari Departemen Advokasi DPP PEWARNA menegaskan bahwa guru agama selama ini banyak bekerja bukan semata-mata karena materi, melainkan karena panggilan pelayanan. Namun demikian, menurutnya, para guru tetap membutuhkan perlindungan dan kesejahteraan yang layak.
“Atas nama PEWARNA, kami mengucapkan terima kasih. Ini bentuk kepedulian nyata untuk mengayomi dan mencerdaskan anak bangsa yang berkarakter. Tantangan zaman semakin kompleks, tetapi peran guru belum diimbangi dengan kesejahteraan yang memadai,” ujarnya.
Nick Irwan mengatakan, PEWARNA siap menjadi jembatan antara suara para guru dengan para pemangku kebijakan agar lahir solusi nyata bagi kesejahteraan guru agama serta penguatan karakter generasi muda.
“Kami ingin karakter anak bangsa menjadi kuat dan hebat. Karena itu, kesejahteraan guru agama juga harus diperhatikan,” katanya.
Perwakilan DPP PEWARNA ini menekankan pentingnya akses pendidikan dan kesejahteraan guru sebagai bagian dari keseriusan membangun Kota Depok secara bersama-sama.
PEWARNA sendiri kini telah hadir di berbagai daerah di Indonesia dan terus mendorong anggotanya menjadi “garam dan terang” di lingkungan masing-masing.
Anggota Komisi A DPRD Kota Depok dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Binton Nadapdap, memastikan bahwa Kota Depok terus memperkuat nilai toleransi dan hak pendidikan bagi seluruh masyarakat, termasuk pendidikan agama.
“Saya memastikan Kota Depok sudah menjadi kota toleransi. Kita sudah menyelesaikan Perda tentang HAM, naskah akademiknya sudah selesai dan tinggal menunggu pengesahan,” ujarnya.
Menurut Binton, dalam perda tersebut juga diatur hak masyarakat untuk mendapatkan pendidikan agama secara layak.
Ia mendorong gereja-gereja untuk menghadirkan pendeta maupun pengajar agama Kristen di sekolah-sekolah. Menurutnya, pemerintah juga telah menyiapkan kuota dan anggaran bagi guru agama.
“Kita harus menjaga toleransi di Kota Depok. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita harus menjadi saluran berkat di mana pun berada,” katanya.
Binton menilai diskusi tersebut menjadi langkah penting untuk menampung aspirasi guru agama Kristen yang selama ini dinilai masih kurang mendapatkan perhatian.
“Guru memiliki peran strategis sebagai pembentuk karakter dan benteng moral bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, H. Wahid Suyono, S.Pd., mengatakan bahwa keberhasilan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan peran guru mulai saat ini.
“Kalau kita berhasil mencapai Indonesia Emas tahun 2045, itu keberhasilan kita semua termasuk para guru,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa persoalan kekurangan guru saat ini bukan hanya terjadi pada guru agama, melainkan hampir di semua bidang pendidikan. Menurutnya, dalam waktu lama pemerintah mengalami kondisi zero growth atau minim penambahan tenaga guru baru untuk menggantikan guru yang pensiun.
“Nanti akan tiba saatnya guru di sekolah negeri habis, termasuk guru agama. Mudah-mudahan ada formula baru untuk pengangkatan guru di Indonesia,” katanya.
Wahid juga menyoroti kesenjangan kualitas sekolah di Kota Depok. Meski jumlah sekolah dinilai cukup, kualitas pendidikan masih beragam sehingga perlu peningkatan mutu secara merata.
“Tahun ini kami mulai memperketat standar jumlah siswa dan sekolah yang masih menggunakan sistem shift. Penerimaan siswa baru tidak boleh lagi sistem shift agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ujarnya.
Terkait kesejahteraan guru, Wahid menegaskan Pemerintah Kota Depok terus berupaya meningkatkan perhatian kepada tenaga pendidik, termasuk guru PPPK dan guru swasta.
“Pak wali berkomitmen untuk kesejahteraan guru. Untuk sekolah negeri saat ini sekitar Rp2.250.000 dan secara gradual akan terus ditingkatkan,” katanya.
Ia juga mengajak guru agama Kristen mengikuti program sertifikasi guru agar memperoleh peningkatan kesejahteraan.
Selain itu, Wahid mengingatkan pentingnya peran guru di era digital untuk menjaga anak-anak dari kekerasan seksual maupun penyimpangan perilaku.
“Kalau ada anak murung atau menyendiri harus segera didekati. Kalau ada kejadian jangan ditutup-tutupi. Anak-anak harus kita jaga,” tegasnya.
Andreas Wenas dari Direktorat Pendidikan Nasional, DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam diskusi tersebut menilai pembangunan manusia sangat ditentukan oleh kualitas guru. Ia mencontohkan Jepang yang mampu bangkit pascaperang karena menghargai peran guru.
“Guru punya ladang pelayanan di sekolah. Kita bicara soal panggilan dan mutu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya integritas dalam dunia pendidikan, termasuk keberanian mengkritisi berbagai penyimpangan yang merugikan dunia pendidikan.
Sementara itu, Ketua Pewana Kota Depok Christin mengatakan, acara ini puji syukur sudah terlaksana dengan lancar. Para peserta diskusi berharap semoga bisa berlanjut.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan, dengan harapan lahirnya kolaborasi nyata antara pemerintah, legislatif, organisasi masyarakat, gereja, dan dunia pendidikan untuk menciptakan generasi berkarakter dan berkualitas di Kota Depok. (Stevani Elisabeth)

