26 April 2026
HomeBeritaBukan Hanya Sebatas Kritik Sastra, Semiotika Dibutuhkan untuk Rekonstruksi Sosial

Bukan Hanya Sebatas Kritik Sastra, Semiotika Dibutuhkan untuk Rekonstruksi Sosial

SHNet,Jakarta- Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, DR.Tommy Christomy mengatakan, dalam berbagai peristiwa sosial dan politik, banyak peristiwa yang telah berlalu, termasuk sudah menjadi sejarah puluhan tahun, berusaha untuk direkonstruksi untuk kepentingan tertentu, termasuk pelurusan sejarah. Nah, dalam konteks ini, ilmu yang disebut semiotika yang memang mempelajari dan mengupas tentang tanda, antara lain lewat Bahasa, sangat dibutuhkan. Jadi tidak sebatas untuk kepentingan bidang kesusasteraan seperti kritik sastra.

Pernyataan tersebut dikemukakan Tommy ketika menanggapi  buku karya Narudin berjudul “Semiotika Dialektis” yang dibedah di Gedung  Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa” di Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (1/11/2022).

Tommy mengatakan, realitas sosial tidak pernah terulang, termasuk peristiwa yang sedang menjadi perhatian publik yakni kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J)  yang pelakunya sedang diadili di PN Jakarta Selatan. “Kalau kita perhatikan, kasus itu kan ingin diungkap secara tuntas melalui pengadilan dengan merekonstruksi ulang. Majelis hakim dalam persidangan ini mendengarkan semua yang terlibat, saksi, jaksa penuntut, dan kuasa hukum terdakwa,”

Dalam paparannya, Tommy menjelaskan, bahasa itu membentuk realitas, baik menyangkut struktur, sitem, sintagmatik, dan paradigmatik.  Lalu katanya, pertanyaan para semiotik adalah,”Bagaimana proses signifikasi terjadi? Bagaimana  realitas ditandai? Bagaimana makna dibangun melalui struktur dan sitem penandaan?” katanya.

Pembahas lain, dosen Universitas Negeri Jakarta,  DR. Saifur Rohman dalam paparan yang diberi judul  “Kajian Epistemologi dan Sumbangannya dalam Ilmu-ilmu Humaniora” menyebutkan, buku karya Narudin ini hadir di tengah kelangkaan teori semiotik yang ringkas.

“Buku ini memberikan kesempatan bagi pembaca untuk memahami satu persatu tokoh-tokoh semiotika,” katanya smabil menambahkan bahwa buku ini bernilai karena menghargai tradisi dengan cara reinterpretasi tokoh-tokoh semiotic. Selain itu, menawarkan sebuah nilai baru yang dibutuhkan masyarakat ilmiah.

Sumbangan Teori

Penulis buku yang dibedah, Narudin mengatakan, buku karyanya, Semiotik Dialektis merupakan sumbangan pemikirannya bagi perkembangan teori yang dicetuskan oleh ilmuan kita. “Ke depan, kita tidak bergantung pada teori pemikira dari luar negeri saja,” katanya.

Bagaimana dengan buku terbarunya yang diterbitkan UPI Press Bandung ini? Narudin mengatakan, sintesis semiotik terhadap pemikiran semiotikus dalam atau luar negeri ini tentu dapat dimanfaatkan untuk penelitian atau kritik sastra yang orisinal.

Lebih jauh dikemukakan Narudin, Semiotika Dialektis atau Sintesemiotik merupakan sintesis terhadap pelbagai teori Semiotika sebelumnya. Dalam kajian ini dibagi 2, sintesis semiotik terhadap “trikotomi analisis semiotik” Morris, Zoest, Zaimar, dan Sumiyadi. Lalu sintesis semiotik terhadap Semiotika Roman Jakobson, Michael Riffaterre, Charles Sanders Peirce, dan Aart van Zoest yang memiliki kedekatan teoretis.

Secara ilmiah, Narudin menjelaskan Trikotmi Analisis Semiotik yaitu

  1. Sintaksis

Objek tataran linguistik berupa kalimat, klausa, dan frasa disebut sintaksis. Pedoman tahap analisis ini menyangkut analisis tata Bahasa dan ejaan (PUEBI atau EYD).

  1. Semantik

Teori arti atau makna. Pedoman tahap analisis ini merupakan interpretasi dari deskripsi sintaksis, dapat berupa trikotomi makna (makna integral, makna periferal, dan makna sentral), selain 7 tipe makna dari Leech (1976)

  1. Pragmatik

Kajian makna yang di maksudkan oleh pembicara (Yule, 1998). Pedoman tahap analisis ini ialah dua subjek komunikasi dalam teks (penulis-pembaca, “aku-lirik” dan “engkau-lirik”, dan lain-lain), juga melibatkan makna tak tampak, konteks, rujukan, dan praduga.

Prof Aminudin Aziz, M.A., PhD

Sedangkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof Aminudin Aziz, M.A., PhD dalam sambutan pembukaan bedah buku ini mengungkapkan kegembiraannya bahwa lembaga yang dipimpinnya kembali menggelar acara bdah buku ini sebagai puncak penutupan acara Bulan Bahasa, meski penyelenggaraannya bukan tanggal 28 Oktober melainkan 1 November.

Menurut Aminudin, Narudin, penulis buku Semiotik Dialektis selama ini sangat rajin menulis, baik puisi, esai, dan buku. “Keajekan menulis ini penting dan tidak semu aorang dapat melakukannya. Jadi, saya apresiasi,” katanya.

Ihwal bedah buku ini, kata Aminudin, menjadi ajang untuk mengulas dan memperdalam, bukan sebagai forum pengadilan terhadap karya seseorang. Nantinya kita serahkan pada masyarakat untuk membaca dan menilainya . (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU