24 April 2026
HomeBeritaDosen dan Koreografer Tari ISI Yogya Iwan Dadijono: Penari yang Sadar...

Dosen dan Koreografer Tari ISI Yogya Iwan Dadijono: Penari yang Sadar Perannya di Sebuah Film, Bisa Membuat Film itu Tambah Menarik

SHNet, Jakarta-Penari yang secara sadar akan peran di sebuah film, bisa menjadikan film itu tambah menarikdengan catatan bahwa tarian dibawakan dalam adegan yang tepat. Film tahun 1970-an sebut saja Grease atau Saturday Nite Fever yang dibintangi oleh John Travolta sangat menarik. Karena penempatan tarian pada adegan yang tepat, didukung artis memang bisa menari dengan baik di masa itu. Dan rasa geraknya muncul walaupun dari mata kamera.

Dosen tari Institut Seni Indonesi (ISI) Yogyakarta, Darmawan Dadijono  yang akrab disapa Mas Iwan mengemukakan hal tersebut dalam wawancara dengan SHNet, Jumat (24/04/2026) terkait hubungan antara penari-koreografer dan sinemtik.

Iwan Dadijono yang ikut bermain di film yang baru tayang, Para Perasuk (PP)  sebagai Eyang Banar. Peran yang punya roh tingkat tinggi yaitu roh Kuda Laut lebih lanjut mengatakan, setelah dance film Mahendraparvata, dirinya  mendapat kesempatan bermain di Para Perasuk.

Di awal proses Para Perasuk, Iwan  mencoba memperlihatkan melalui video kepada sutradara dan team kreatif yaitu gerak-gerak  kuda laut.  eksplorasi saya terhadap Kuda Laut yaitu dengan melihat binatang itu di sebuah akuarium besar. Sebuah ketenangan bagai patung namun bergoyang lembut terkena gerakan air, menjadikan kuda laut itu seperti melayang-layang.

“Tubuh saya berdiri tegap, satu atau dua tangan menjulur ke atas menekuk ke arah depan kadang kaki diangkat menekuk ke belakang bagai ekor kuda laut. Gerakan-gerakan lembut tubuh saya muncul dengan perlahan. Kemudian saya konsultasikan kepada koreografer dan sutradara,” ujar Iwan yang dikenal juga sebagai penari dan koreografer.

Iwan menegaskan, naskah yang harus menunjukkan gerak tari ya harus diwujudkan. Beberapa penari yang sudah mengikuti latihan bersama dan mendapatkan materi gerak tari berdasar karakter roh binatang menjadi penting. “Namun demikian atas arahan secara verbal dari koreografer, saya mendapatkan kepercayaan untuk  bisa menggerakkan tubuh saya dengan bebas sesuai interpretasi dan ekspresi “rasa” saya terhadap karakter roh binatang yang dimaksud, misal ayam jago, macan, lintah dan lain-lain,” paparnya.

Dosen, penari, dan koreografer Iwan Dadijono

Ungkapan Rasa yang Diwujudkan dengan Gerak Tubuh

Menurut Iwan, tari adalah hasil ungkapan rasa/hati yang diwujudkan dengan media gerak dan instrumen tubuh. Tidaklah mudah manakala rasa gerak itu muncul dari hasil tangkapan mata kamera, yang mana rasa gerak itu adalah ekspresi pribadi. “Di Para Perasuk tidak semua penari mampu memunculkan taksu sesuai peran penari nya,” tambahnya.

Menjawab pertanyaan seputar hubungan sesungguhnya koreografer, artis peran, dan sutradara. Iwan menjelaskan,  secara fungsi mereka mempunyai peran masing-masing dalam sebuah proses/produksi film. Dalam sebuah dance film atau dalam film yang membutuhkan gerakan-gerakan tari, ketiga unsur itu akan bisa saling mendukung.

Dikemukakan Iwan, koreografer akan menata gerak berdasarkan skenario atau kebutuhan dalam film tersebut, dengan arahan dari Sutradara. Artis peran yang bermain harus mampu menterjemahkan skenario dengan media gerak juga (jikalau aktris dituntut untuk  bisa mengekspresikan dengan gerakan tubuh/koreografi).

Sedangkan sutradara lanjut Iwan, dengan cara pandang berproses pembuatan film tentunya juga punya standar sendiri untuk bisa menghidupkan dramatik, adegan maupun suasana film. “Hubungan yang terkoordinasi sejak awal akan membentuk kesatuan utuh untuk  terwujudnya sebuah film,” ujar Iwan. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU