2 June 2026
HomeBeritaPakar UNDIP : AMDK Berbahan Daur Ulang Memiliki Nilai Tambah di Mata...

Pakar UNDIP : AMDK Berbahan Daur Ulang Memiliki Nilai Tambah di Mata Konsumen

JAKARTA — Semangat daur ulang saat ini terus digencarkan agar saling menjaga lingkungan dan bumi. Tantangan pun muncul terhadap seluruh lini produksi, termasuk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk dapat mendaur ulang produk mereka.

Tantangan tersebut akan menjadi nilai tambah bagi produsen AMDK apabila mampu mengolah kembali kemasan mereka menjadi kemasan baru yang lebih ramah lingkungan. Hal tersebut sebagaimana disampaikan Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro Universitas Diponegoro, Mochamad Arief Budihardjo.

“Produsen AMDK dengan kemasan daur ulang akan mendapatkan extra value atau citra baik terhadap produknya,” kata Arief Budihardjo di Jakarta, Kamis (8/6).

Dia melanjutkan, hal tersebut akan berdampak pada peningkatan daya saing terhadap kompetitor mereka. Sayangnya, sambung dia, kondisi tersebut dapat dicapai apabila tingkat kepedulian masyarakat terkait lingkungan semakin tinggi.

“Selama proses menuju ke sana, intervensi pemerintah melalui regulasi dan/atau pemberian insentif kepada produsen yang menerapkan EPR (Extended Producer Responsibility) juga diperlukan,” katanya.

Salah satu produsen yang menggunakan komponen kemasan daur ulang adalah AQUA. Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin menegaskan bahwa AQUA life merupakan produk AMDK dengan kemasan 100 persen terbuat dari Recycled PET (rPET).

“Sementara kemasan botol AQUA lain juga menggunakan rPET dicampur virgin PET,” kata Arif Mujahidin.

Sebagai catatan, konsep sirkular ekonomi berbeda dengan recycle ekonomi. Ekonomi sirkular bukan hanya tentang menggunakan bahan daur ulang tetapi menggunakan kembali sumber daya di akhir penggunaan.

Konsep ekonomi sirkular dilakukan dengan menjaga sumber daya supaya dapat dipakai selama mungkin dengan menggali nilai maksimum dari penggunaan, memulihkan dan meregenerasi produk dan bahan. Artinya, perusahaan membuat produk dari material yang telah dipakai menjadi barang yang lebih baik lagi.

Perlu Campur Tangan Seluruh Stakeholder

Meski demikian, Arief menilai bahwa penerapan EPR yang dilakukan produsen AMDK masih belum cukup maksimal. Kemungkinan secara ekonomi, daur ulang kemasan AMDK menjadi produk AMDK kembali akan meningkatkan biaya produksi.

“Dalam hal ini pengolahan limbah AMDK menjadi produk lain bisa lebih menguntungkan,” katanya.

Penerapan sirkular ekonomi sebagai bagian dari EPR sejalan dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah meminta tanggung jawab produsen atas pembuangan kemasan dan produk yang tidak atau sulit dikomposkan. Arief mengatakan, EPR merupakan salah satu alternatif penanganan sampah yang cukup baik.

Dia melanjutkan, namun EPR tidak akan berjalan sendiri dan efektif apabila dilakukan produsen saja. Dia mengatakan, diperlukan peran serta semua pihak dari level produsen hingga konsumen termasuk juga regulator agar program itu berjalan baik.

“Term siapa saja yang termasuk producer juga perlu diperjelas, misal apakah importir produk juga termasuk dalam kategori produsen,” katanya.

Namun, Arief mengatakan kalau terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dalam penerapan EPR, diantaranya adalah finansial, teknologi, operasional dan monitoringnya serta kebiasaan atau perilaku masyarakat.

“Penerapan EPR juga memungkinkan penambahan biaya produksi yang kemungkinan akan menjadi beban konsumen,” katanya.

Seperti diketahui, semangat EPR ini juga sejalan dengan Permen KLHK nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Mereka wajib melaksanakan praktik sirkular ekonomi dalam bisnisnya dengan menjalankan prinsip pembatasan timbunan sampah (Reduce), pemanfaatan kembali sampah (Reuse) dan pendauran ulang sampah (Recycle). (Rzy)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU