Oleh: Atiqah Nurul Balqis Katili
Nama Kim Garam kembali ramai dibicarakan di media sosial X. Meskipun ia sudah tidak lagi menjadi bagian dari grup LE SSERAFIM sejak tahun 2022, perbincangan tentang dirinya belum benar-benar mereda. Setiap kali muncul unggahan lama, foto baru, atau kabar mengenai kehidupan pribadinya, namanya kembali naik ke permukaan dan memicu diskusi panjang dikalangan netizen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam dunia digital, sebuah kontroversi tidak pernah benar-benar selesai. Internet memiliki “ingatan kolektif” yang kuat, di mana jejak masa lalu dapat dengan mudah diangkat kembali kapan saja. Kasus Kim Garam menjadi contoh nyata bagaimana satu isu dapat terus hidup dan berkembang melalui interaksi pengguna di media sosial, bahkan setelah individu yang bersangkutan tidak lagi aktif di dunia hiburan.
Dalam perbincangan yang terjadi di X, terlihat jelas adanya dua kelompok utama, yaitu promoter (pendukung) dan detractor (penentang). Kedua kelompok ini tidak hanya berbeda pendapat, tapi juga memiliki cara pandang, emosi, dan cara berkomunikasi yang sangat berbeda dalam menilai sosok Kim Garam.
Kelompok promoter biasanya berusaha membela dan memperbaiki citra Kim Garam di mata publik. Mereka melihat kasus perundungan yang pernah menjeratnya sebagai sesuatu yang sudah terlalu lama dibesar-besarkan. Dalam sudut pandang mereka, Kim Garam adalah seorang remaja yang mengalami tekanan publik yang sangat besar di usia muda.
Narasi yang dibangun cenderung berfokus pada empati dan kemanusiaan. Kalimat seperti “dia juga manusia”, “semua orang bisa berubah”, atau “publik terlalu kejam terhadap remaja” sering muncul dalam unggahan mereka.
Selain itu, para promoter juga aktif mengunggah kembali foto-foto lama Kim Garam saat awal debut, serta membandingkan kasusnya dengan idola lain yang pernah mengalami kontroversi serupa. Tujuannya adalah membangun persepsi bahwa perlakuan publik terhadap Kim Garam tidak adil, sekaligus mengajak orang lain untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih manusiawi.
Tak jarang, mereka juga mencoba “meng-counter” narasi negatif dengan membuat thread panjang yang berisi klarifikasi versi mereka. Di sisi lain, kelompok detractor memiliki pandangan yang berlawanan. Mereka menilai bahwa kontroversi yang melibatkan Kim Garam, khususnya terkait dugaan perundungan di masa sekolah, tidak bisa diabaikan begitu saja.
Bagi mereka, figur publik harus tetap bertanggung jawab atas masa lalu, terlebih jika kasus tersebut pernah menjadi perhatian luas dan berdampak pada orang lain. Detractor cenderung menggunakan pendekatan yang lebih keras dalam menyampaikan pendapat.
Mereka sering mengangkat kembali bukti-bukti lama seperti tangkapan layar, berita,atau laporan yang pernah beredar untuk memperkuat argumen mereka. Dalam beberapa kasus, bahasa yang digunakan juga lebih tajam dan emosional.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam ruang digital, kritik sering kali tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh emosi kolektif dan rasa keadilan yang subjektif. Menariknya, konflik antara promoter dan detractor ini tidak hanya soal benar atau salah, tapi juga soal bagaimana sebuah cerita dibingkai.
Kedua pihak sama-sama berusaha membangun narasi yang dapat memengaruhi opini publik. Promoter menekankan sisi kemanusiaan dan kesempatan kedua, sementara detractor menekankan tanggung jawab dan keadilan bagi korban.
Di titik ini, media sosial berubah menjadi arena “perang opini” yang tidak pernah benar-benar selesai. Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari budaya fandom yang kuat, terutama dalam industri K-pop. Loyalitas penggemar sering kali memengaruhi cara seseorang melihat sebuah kasus.
Bagi sebagian orang, membela idola adalah bentuk dukungan emosional, sementara bagi yang lain, mengkritik adalah bentuk kepedulian terhadap nilai moral. Akibatnya, diskusi yang terjadi sering kali tidak lagi netral, melainkan sudah dipengaruhi oleh posisi masing-masing individu sejak awal.
Lebih jauh lagi, algoritma media sosial seperti di X turut memperkuat polarisasi ini. Konten yang memicu emosi yaitu baik dukungan maupun kemarahan lebih cenderung mudah viral dan terus muncul di lini masa. Hal ini membuat pengguna lebih sering terpapar pada opini yang sejalan dengan pandangan mereka, sehingga memperkuat keyakinan masing-masing kelompok tanpa banyak ruang untuk sudut pandang lain.
Kasus ini memperlihatkan bahwa media sosial bukan sekadar tempat berbagi informasi, tapi juga arena pertarungan narasi. Setiap individu dapat menjadi “produsen opini” yang ikut membentuk persepsi publik.
Dalam konteks ini, reputasi seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh fakta, tapi juga oleh bagaimana fakta tersebut dikemas, disebarkan, dan diterima oleh audiens. Selain itu, fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana publik berhak terus menghakimi masa lalu seseorang?
Di satu sisi, transparansi dan akuntabilitas memang penting, terutama bagi figur publik. Namun di sisi lain, ada batas tipis antara kritik yang konstruktif dan penghakiman yang berlarut-larut tanpa akhir. Batas ini sering kali menjadi kabur di media sosial.
Apa yang awalnya berupa diskusi bisa berubah menjadi serangan personal, dan empati bisa tergeser oleh dorongan untuk “ikut berkomentar”. Dalam situasi seperti ini, individu yang menjadi objek pembicaraan sering kali kehilangan ruang untuk benar-benar melanjutkan hidupnya.
Pada akhirnya, kasus Kim Garam memperlihatkan bahwa media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk dan mempertahankan reputasi seseorang. Dukungan dan kritik akan selalu berjalan berdampingan, dan keduanya berperan dalam membentuk cara publik melihat seorang tokoh.
Di era digital seperti sekarang, reputasi tidak lagi bersifat statis. Ia terus berubah mengikuti arus percakapan yang terjadi di media sosial. Siapa pun yang mampu mengendalikan narasi, baik melalui empati maupun argumentasi atau memiliki peluang lebih besar untuk memengaruhi opini publik.
Kasus Kim Garam menjadi pengingat bahwa satu nama bisa terus dibicarakan bahkan bertahun-tahun setelah kontroversi terjadi. Dan selama media sosial masih menjadi ruang utama interaksi publik, perdebatan seperti ini kemungkinan akan terus berulang dengan tokoh yang berbeda.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya siapa yang benar atau salah, tapi juga bagaimana kita sebagai pengguna media sosial memilih untuk bersikap. Apakah kita ingin menjadi bagian dari arus yang memperpanjang konflik, atau justru mencoba memahami kompleksitas di balik sebuah isu? (Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta).

