SHNet, Jakarta- Kampus-kampus terbaik di Indonesia dan mancanegara selalu menjadi incaran puluhan ribu lulusan SMA/SMK. Untuk menembus perguruan tinggi terbaik di dalam negeri dan di luarnegeri juga butuh strategi yang ampuh, di samping kemampuan akademis, bahasa Inggris, dan keterampilan serta organisasi yang diikuti siswa. Dengan strategi yang tepat, calon mahasiswa akan bisa menembus kampus impian.
Latar belakang dan kondisi real yang enuh persaingan itulah yang mendorong pimpinan SMA An Nahl Islamic School (AIS) Cibubur untuk menggelar acara menarik bertajuk Seminar “Dream Big, target Hight: Strategi Jitu Menembus kampus Impian di Dalam dan Luar Negeri” yang digelar di sekolah ini pada Sabtu (13/06/2026) yang diikuti guru, orang tua dan siswa.
Seminar ini menghadirkan narasumber mereka yang sudah sangat pengalaman membahasa tema tersebut yakni, Firman Nosida, pengajar dan koordinator BTA (Bimbingan Tes Alumni) Cibubur-Kota Wisata, Suradi, M.S.i, praktisi pendidikan yang ketiga anaknya studi di luar negeri, Bharra Fathi Alayman, lulusan Pondok Pesantren Kafila International Islamic School Jakarta, penerima Beasiswa Garuda 2026 di New South Wales-Australia, dan pasangan suami istri Wisnu Adipratomo-Yunita Sari (orang tua Bharra).
Agenda seinar dirancang sedemikian rupa agar efektif dan menggugah pertanyaan peserta. Bagian pertama, penjelasan soal Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di dalam negeri dan strategi mengahadapinya yang disampaikan Firman Nosida dan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan terkait studi di luar negeri. Mulai paparan Suradi, lalu cerita Bharra bagaimana bisa lolos Beasiswa Garuda, dan terakhir paparan Wisnu Adipratama dan Yunita Sari mengenai peran orang tua mendampingi Bhrra menyiapkan dokumen dan mental untuk lolos mendapatkan beasiswa.

Kepala Sekolah SMA An Nahl Islamic School (AIS), Jafar Siddiq, M.P.d mengambut baik terselenggaranya seminar ini. Dia mengatakan, acara ini sangat bermanfaat dan bermakna sebagai edukasi dan motivasi bagi siswa ataupun orang tua karena menghadirkan pembicara berpengalaman (expert) di bidang strategi masuk kuliah, serta berbagi pengalaman langsung (sharing session) dari siswa dan orang tua yang telah sukses menembus PTN dan PTLN.
“Kegiatan ini merupakan salah satu ikhtiar kami membekali para siswa menuju perguruan tinggi yang mereka impikan. Semoga kegaitan ini bisa mengantarkan para siswa kami menuju gerbang perguruan tinggi yang diimpikannya,” papar Jafar Siddiq.

Tiga Jalur Seleksi PTN
Firman Nosida menjelaskan, sampai saat ini ada tiga jalur masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, yaitu: Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT)dan jalur Mandiri.
Ketiga seleksi mempunyai kriteria yang berbeda, untuk SNBP jalur masuk PTN yang menggunakan raport dari semester 1 hingga 5 dan nilia raport tersebut nantinya akan divalidasi oleh nilai TKA (Tes Kemampuan Akademik), sedangkan SNBT menggunakan UTBK (Ujian Tes Berbasis Komputer) dan terkahir untuk jalur Mandiri ada yang menggunakan nilai raport , nilai UTBK dan ada yang menggunakan tes tersendiri setiap universitas seperti SIMAK UI, SSU ITB dan UTUL UGM.“Apapun jalur masuk PTN semuanya memerlukan persiapan yang matang,” tandas Firman.
Firman menegaskan, tidak ada hal instan yang akan mendapatkan hasil yang maksimal. Seperti anak saya yang alhmadulillah masuk PTN di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). “Kami (siswa dan orang tua) sudah mempersiapkan diri dari kelas 7. Mulai dari Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sudah kami berikan tambahan belajar diluar jam pelajaran sekolah. Penekanannya pada pemahaman konsep dan penalaran materi bukan hanya pada hafalan,” katanya.
Hal ini penting lanjut Firman. tidak hanya untuk mengerjakan ulangan ujian di sekolah ataupun UTBK bahkan dikuliah sangat diperlukan untuk memahami materi kuliah yang kadang sulit dicerna. “Iini dirasakan anak saya, yang segala puji hanya untuk Tuhan, IPKnya saat ini bisa mendapat nilai 4.Semoga anak-anak kita bisa mendapatkan pendidikan yang baik untuk masa depan mereka yang gemilang,” kata Firman yang lulusan UI ini.

Strategi Tembus Beasiswa Luar Negeri
Tidak mudah untuk mendapatkan beasiswa studi di luar negeri, tetapi bukan berarti sulit ditembus, asalkan kita mengtahui sejak awal tahapan dan strateginya. Inilah tema yang diungkap praktisi pendidikan, Suradi. Pengalaman sebagai guru di SMAN 8 Jakarta dan kemudian pekerjaannya sebagai jurnalis membuat dia mengetahui dari awal apa dan bagaimana seleksi beasiswa studi di luar negeri. Karena itu sejak kecil ketiga putra-puterinya dibiasakan membaca, belajar bahasa Inggris dan bahasa lain, lalu ikut organisasi di sekolah dan di luar sekolah, kemudian masiang-masing diasah keterampilannya.
“Dengan persiapan dari awal atau dari kecil, kebiasan membaca dan belajar bahasa asing sudah sangat mendukung proses seleksi. Juga membiasakan menulis sejak dini memudahkan ketiga aanak kami menulis essay, suatu syarat penting dalam meraih beasiswa luar negeri,” ungkap Suradi.
Saat ini Suradi bisa bernafas lega, karena ketiga anak-anaknya sudah selesai studi dan mulai tahun ini anak bungsunya memasuki dunia kerja, menyusul dua kakaknya yang telah selesai studi dan telah bekerja di Eropa dan Kanada.
Adapun ketiga anak Suradi ini pertama yang sulung mendapatkan beasiswa untuk meneruskan SMA di Vancouver-Kanada yaitu United Word College (UWC), lulus 2016 lalu lanjut S1 bidang Ekonomid di Amerika Seerikat, lulus 2020. Dari AS, melanjutkan S2 bidang Data Science di University of British Columbia (UBC) Kanada.
Anak Kedua Suradi setelah lulus dari SMAN 8 Jakarta, 2016 mendapat kesempatan kuliah di IE University, Spanyol bidang Hukum Bisnis, lulus 2020 dan kini bekerja sebagai konsultan keuangan dan hukum di Luxembourg.
Sedangkan si bungsu, sejak lulus SMP sudah melanjutkan SMA di Knightbridge School International (KSI) di Montenegro, lulus 2018. Dari sini dia melanjutkan Si bidang Ekonomi dan S2 bidang Computer Science di KU Leuven, lulus 2026.Kini telah diterima bekerja sebagai konsultan bidang IT di Belgia.

Bharra Fathi Alayman dan Raihan Beasiswa Garuda
Lulusan Pesantren Kafila International Islamic School Jakarta, Bharra Fathi Alayman sangat baik menggambarkan bagaimana sebagai seorang santri, juga punya angan-angan bisa kuliah di luar negeri, khsusnya bidang robotik di universitas ternama di Australia yakni UNSW. “Saya ingin jadi Scientist yang juga hafal Qur’an,” ujar Bharra.
Dia menceritakan, kuliah di luar negeri ternyata nggak harus pakai Lembaga Konsultansi Pendidikan dan nggak perlu repot mengikuti tes masuk berkali-kali. Kamu cukup fokus mengejar skor tes standarisasi seperti SAT (target 1250-1350) atau IELTS (band 6.5). Modal satu kali tes ini sudah bisa dipakai untuk mendaftar ke banyak kampus top sekaligus. Semua kampus itu pada dasarnya hanya membutuhkan transkrip rapor SMA dan nilai tes standarisasi tersebut.
Tantangan sesungguhnya ungkap Bharra, justru ada di penulisan esai. Kampus luar negeri tidak mencari daftar prestasi yang hanya dipamerkan, melainkan menguji ketahanan mental dan cara berpikirmu. Misalnya, menceritakan perjuangan jatuh bangun menjadi hafiz Quran bisa menjadi nilai tambah yang sangat kuat, karena membuktikan kegigihan dan ketahanan mentalmu secara nyata.
“Sebagian universitas meminta kamu merefleksikan momen konflik kepemimpinan paling kritis, sementara universitas lain memberikan tantangan ekstrem: menjawab tantangan terbesar dunia hanya dalam 50 kata, atau mendeskripsikan dirimu dengan 5 kata. Ini adalah ujian kedewasaan dan empati, bukan sekadar tes bahasa,” kata Bharra
Bila ingin mengincar Beasiswa Garuda, tandas Bharra, seleksinya jauh lebih transparan dan mendetail. Selain wajib memiliki skor SAT minimal 1170, tes IQ di atas 110, dan kurasi prestasi tiga tahun, kamu juga harus menulis esai sepanjang 1.500-2.000 kata tentang kesadaran diri serta kesiapan untuk menjalankan studi. Lalu diwawancara langsung selama 45 menit oleh psikolog menggunakan Bahasa Indonesia untuk membedah esai tersebut. Negara jelas mencari siswa yang cerdas, berkarakter, dan siap kembali untuk membangun Indonesia.

Orang Tua: Pahami Minat
Orang tua Bharra, Wisnu Adipratomo mengatakan, langkah paling krusial adalah orang tua harus benar-benar memahami minat anak. Setiap anak memiliki keunikan, kepribadian, dan keinginan masing-masing untuk masa depannya. Tugas utama orang tua bukanlah memaksakan kehendak, melainkan menggali, memotivasi, dan mengarahkan potensi tersebut. Ketika orang tua dan anak memiliki tujuan yang sama serta bergerak secara sinergis, lalu berusaha mewujudkannya dengan kerja keras dan diiringi doa, In Syaa Allah hal yang telah dicanangkan dapat dicapai.
Selanjutnya, kata Wisnu, orang tua dan anak dapat membagi peran dengan jelas layaknya sebuah sistem kerja yang terstruktur. Ayah bertindak sebagai Legislatif yang menentukan arah garis besar beserta rambu-rambu pendukungnya. Ibu berperan sebagai Yudikatif yang mengawasi dan mengontrol pelaksanaannya agar tetap pada jalur. Sementara itu, anak bertindak sebagai Eksekutif yang menjalankan usaha-usaha nyata di lapangan. Sistem kolaborasi ini sangat fleksibel dan dapat diadaptasi dalam berbagai kondisi, termasuk bagi santri yang mondok di pesantren.
Memang, padatnya kegiatan pondok membuat waktu diskusi langsung dengan orang tua menjadi terbatas dan menuntut upaya ekstra. Namun, kemandirian dan kedisiplinan yang telah terbentuk di pondok justru menjadi modal berharga. Hal ini membuktikan bahwa santri mondok pun memiliki kesempatan yang sama besarnya untuk meraih beasiswa di universitas teknik luar negeri, selama komunikasi dan dukungan tetap terjalin dengan baik.
Sinergi dan pembagian peran inilah yang dapat menjadi inspirasi bagi banyak keluarga. Persiapan matang untuk menembus universitas impian dan meraih beasiswa dapat direalisasikan dalam waktu 12 bulan dengan izin Allah. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, karena keberhasilan ini bukanlah beban satu orang, melainkan hasil dari kerja sama tim keluarga yang solid. Yunita Sari:
Sementara ibunda Bharra, Yunita Sari ikut berbagi pengalaman. Katanya, menyatukan hati, membangun mimpi. Adalah langkah awal yang krusial bagi orang tua untuk menciptakan komunikasi yang aktif, hangat dan terbuka, untuk menemukan minat, harapan, dan tujuan anak. Dengan demikian, anak akan memiliki motivasi dalam diri yang kuat karena tahu kemana dia akan melangkah.
Setelah minat anak ditemukan, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana yang realistis. Kuliah di luar negeri bukan sekadar gengsi, melainkan proyek besar keluarga yang butuh perhitungan matang. Orang tua dan anak perlu duduk bersama memetakan pilihan jurusan yang relevan dengan kebutuhan masa depan, sekaligus menghitung realistis biaya hidup di negara tujuan. Karena kuliah di luar negeri adalah perjalanan panjang yang menuntut kesiapan mental dan finansial, bukan sekadar modal nekat.
“Bagi yang mengincar Beasiswa Garuda dari pemerintah, persiapannya harus jauh lebih terukur dan ketat. Negara tidak membagi beasiswa secara acak, melainkan mencari pemuda-pemudi yang kematangan akademik dan psikologisnya sudah teruji. Mulai dari nilai rapor, skor tes standar, prestasi akademik maupun non akademik, serta profil kepemimpinan. Semuanya disaring dengan standar tinggi. Pesan dari negara sangat jelas: mereka mencari talenta terbaik yang benar-benar siap memikul tanggung jawab untuk masa depan bangsa,” papar Yunita Sari. (sur)

