10 June 2026
HomeBeritaKuliah Umum di IMDE, Tips Bikin Konten Langsung Masuk FYP dan Sedot...

Kuliah Umum di IMDE, Tips Bikin Konten Langsung Masuk FYP dan Sedot Followers Baru

SHNet, Jakarta-Strategi membuat konten yang akan ramai views-nya mirip dengan mencari Ikigai, sebuah filosofi hidup dari Jepang tentang makna keseimbangan. Di ruang digital, Ikigai tercipta ketika kita berhasil membuat konten yang bukan hanya untuk diri kita, tapi untuk banyak orang. Ketika preferensi personal bertemu dengan kebutuhan publik, di sinilah sebuah konten akan ramai. Sehingga, lanskap digital hari ini bukan lagi sekadar membagikan dokumentasi pribadi demi kesenangan pribadi.

Di era konvergensi, siapa pun yang menguasai strategi media sosial (yangmencakup psikologi audiens), dialah yang memegang kendali atas pertumbuhan bisnis dan peluang karir di masa depan. Kesadaran inilah yang mendasari pentingnya pembekalan dini bagi para calon praktisi media.

Memfasilitasi kebutuhan tersebut, program studi D4 Produksi Media Institut Media Digital Emtek (IMDE) menggelar kuliah praktisi eksklusif untuk mata kuliah Social Media Strategy pada Selasa, (09/06/2026 yang diampu oleh Dosen Rifa Yusya Adilah, M.I.Kom.

Hadir sebagai pembicara atau dosen praktisi yakni Oka Pangestu serta Hasanul Bana selaku Co-Founder @BukanCumaPosting. Dengan keahlian di content planning dan digital marketing, BukanCumaPosting membantu ribuan akun bertumbuh secara organik, dengan membuat konten yang gak cuma viral, tapi juga relevan dan berdampak.

Dalam sesi kelas kali ini, Oka dan Hasan membedah tema besar: “Bukan Cuma Posting: Social Media Mastery in Mastering Hooks, Boosting Views, and Scaling Up Your Audience”.

Keduanya mejelaskan strategi Winning Content System “Cara ngonten yang bikin akun kalian grow & cuan sebelum lulus kuliah,” ujar Oka dan Hasan di hadapan para mahasiswa.

Mengunci Atensi Lewat Formula FLSR dan Struktur Hook

Dalam pemaparannya, Oka Pangestu mengatakan bahwa mahasiswa bisa memulai konten dengan metode “ATM” atau “Amati, Tiru, Modifikasi”. Namun konsep tersebut dimodifikasi menjadi FLSR. Sehingga kreator pemula tak hanya asal meniru konten tapi menganalisis konten tersebut secara mendalam.  FLSR Framework (Finding, Listing, Sorting, Recreating).

Langkah ini dimulai dari finding atau mencari referensi akun atau konten top tier, bisa di bidang yang sama dengan niche kita, lalu listing atau tahap mengumpulkan dan mencatat  konten top tier yang kita cari tadi ke dalam sebuah daftar atau list.

Konten tersebut kemudian dibedah seluruh unsurnya. Mulai dari visualnya, audionya, naskahnya, covernya, penyampaiannya, masalahnya, dan lain sebagainya.  Selanjutnya adalah tahap sorting menyaring untuk konten mana yang paling perform, sesuai dan bisa “dieksekusi”. Saat menyorting, bisa dibuat skala prioritasnya.

“Anggap lah ada konten yang views-nya jutaan, bahkan sampai puluhan juta. Itu lah best perfoarming content yang kita adopsi. Kita analisis, kok konten ini bisa disukai market?” jelas Oka. Terkahir, yakni tahap recreating atau memproduksi ulang konten yang sudah disorting sesuai dengan keunikan personal. Tujuannya untuk menjaga authenticity (keaslian), bukan sekadar copy paste atau melakukan plagiarisme.

Sementara itu, Hasanul Bana atau yang akrab disapa Hasan membedah elemen paling krusial yang menentukan hidup-matinya sebuah video pendek, yakni di tiga detik pertama.

Di era information load, butuh keterampilan untuk membuat audiens “stop scrolling” di konten yang kita buat.  BukanCumaPosting memformulasikan anatomi winning content (konten yang paling perform) ke dalam empat pilar: Start With Hook, Build Tension, Reveal The Solution, dan ditutup dengan Call To Action (CTA) yang dimodifikasi menjadi Call To Value.

“3 elemen hook di 3 detik pertama yang harus diperhatikan yaitu visual, audio dan teks. Sudah. Fokus di 3 unsur itu dulu di 3 detik pertama, harus benar-benar bisa memancing/menggaet audiens,” jelas Hasan.

Di depan mahasiswa, Hasan menjelaskan bagaimana cara membuat hook yang berhasil memikat audiens.  Namun, hook saja tidak cukup. Penonton akan berhenti menonton konten kita jika di tengah konten terasa membosankan. Di sinilah pentingnya membangun Tension (ketegangan) melalui elemen Conflict (konflik atau masalah nyata), Contrast (perbandingan ekstrem), atau Cliffhanger, yakni

Dengan menjaga ritme ketegangan ini, psikologi audiens akan terdorong untuk menyimak video hingga akhir demi menemukan Solution (solusi) yang ditawarkan. Baru lah berikan solusi dari permasalahan/ pembahasan konten kita (The solution). Terakhir, konten bisa ditutup dengan ajakan bertindak atau CTA / CTV yang jelas.

Menariknya, kuliah praktisi menjadi sangat interaktif saat memasuki sesi bedah konten secara personal. Selain itu, mahasiswa juga dibekali cara memanfaatkan berbagai tools pendukung dan bantuan AI agar proses produksi konten lebih efisien.

Pemberian plakat penghargaan

Apresiasi dan Penghargaan

Sebagai bentuk apresiasi mendalam atas ilmu, pengalaman, dan wawasan industri yang telah diberikan kepada para mahasiswa, Kampus IMDE memberikan sertifikat apresiasi dan penghargaan kepada Hasanul Bana dan Oka Pangestu selaku co-founder BukanCumaPosting.

Sertifikat penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Teguh Setiawan, M.I.Kom selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) D4 Produksi Media IMDE dan Rifa Yusya Adilah, M.I.Kom selaku dosen pengampu Social Media Strategy.  Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran dosen, pembicara/ dosen praktisi serta seluruh mahasiswa kelas yang hadir.

Sementara itu Teguh Setiawan, S.Pd., M.I.Kom (kaprodi Produksi Media) mengatakan, penguasaan strategi media sosial saat ini menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh calon praktisi media. Melalui kolaborasi dengan praktisi industri seperti BukanCumaPosting, mahasiswa mendapatkan wawasan yang relevan mengenai tren, strategi, dan praktik terbaik dalam produksi konten digital.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu membuat konten yang menarik, tetapi juga memahami strategi di balik keberhasilan sebuah konten. Kehadiran praktisi industri memberikan perspektif nyata yang melengkapi pembelajaran di kelas, sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan industri kreatif dan media digital yang terus berkembang,” ujarnya.(sur)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU