23 July 2026
HomeBeritaMengintip Gebrakan  Safrizal ZA Kibarkan Gerakan Indonesia ASRI dari Banyuwangi

Mengintip Gebrakan  Safrizal ZA Kibarkan Gerakan Indonesia ASRI dari Banyuwangi

 

Jakarta – Indonesia menghadapi masalah besar seputar pengelolaan sampah. Ini sangat serius. Bayangkan saja timbulan sampah mencapai seberat sekitar 50 juta ton setiap tahun. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Kota-kota besar sudah mulai kewalahan  mencari tempat akhir pembuangan sampah (TPA). Pemerintah memperkirakan pada 2028 atau lebih cepat, hampir seluruh TPA di Indonesia menjadi penuh menampung sampah atau overcapacity.  Oleh karenanya, dibutuhkan langkah cepat mencegah hal tersebut dengan mengubah sampah-sampah menjadi energi.

 

Gunung sampah sudah menjadi  masalah bagi warga sekitarnya.  Menyebabkan kebakaran atau  longsor. Hal ini terjadi di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat yang longsor pada 8 Maret 2026. Empat warga tewas, diduga masih ada korban lainnya yang tertimbun. Longsor maut ini terjadi pada Minggu, 8 Maret 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Tragedi ini terjadi secara tiba-tiba, tumpukan sampah runtuh lalu menimbun warung dan beberapa truk sampah di bawah.

 

Masalah sampah adalah masalah besar bersama.  Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Gerakan “Indonesia ASRI” (Aman, Sehat, Resik, Indah) pada awal 2026 sebagai upaya pemerintah membangun Indonesia yang lebih aman, sehat, bersih, dan tertata. Inisiatif ini sejalan dengan visi penguatan kualitas hidup masyarakat.serta pembangunan berkelanjutan.

Dalam berbagai kesempatan, Prabowo menegaskan bahwa konsep Indonesia ASRI bukan sekadar slogan, melainkan pendekatan strategis untuk mendorong ketertiban lingkungan, kesehatan publik, dan budaya gotong royong.

Gerakan ini hadir di tengah tantangan nasional seperti pengelolaan sampah, perubahan iklim, ketahanan kesehatan pasca-pandemi, serta kebutuhan memperkuat ketertiban sosial. Secara konseptual, Indonesia ASRI sejalan dengan agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek kesehatan, sanitasi, kota berkelanjutan, dan lingkungan hidup.

 

Indonesia ASRI dirancang sebagai platform kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih tertib, sehat, dan layak huni. Pendekatannya mencakup empat nilai utama: ASRI terdiri dari kata

Aman — mendorong ketertiban sosial, keamanan lingkungan, dan kesiapsiagaan menghadapi risiko.

Sehat — memperkuat gaya hidup sehat, layanan kesehatan dasar, serta pencegahan penyakit.

Resik (Bersih) — menekankan pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, dan pengurangan pencemaran.

Indah — memperbaiki estetika ruang publik, permukiman, dan kawasan hijau agar lebih nyaman dan produktif.

Pemerintah mendorong keterlibatan berbagai pihak, termasuk aparat, komunitas, pelajar, dan generasi muda, untuk menumbuhkan budaya disiplin, gotong royong, dan kepedulian lingkungan.

Kepala negara menyatakan Keberhasilan Gerakan Indonesia ASRI sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Pemerintah mendorong warga untuk terlibat melalui langkah sederhana seperti: memilah sampah, mengikuti kerja bakti, dan menumbuhkan budaya hidup sehat. Sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045, konsep ASRI menjadi fondasi menciptakan lingkungan yang lebih layak huni, berkelanjutan, dan berdaya saing.

 

Sejalan dengan instruksi RI 1,  Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Bina Adwil), Safrizal  ZA memimpin Apel Gerakan Indonesia ASRI di Kampung Nelayan Merah Putih, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 1.500 peserta yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, Forkopimda, TNI, Polri, akademisi, dunia usaha, komunitas, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat.

 

Safrizal menyampaikan, pesona Indonesia yang menawan bukan hanya anugerah, melainkan juga amanah yang harus dijaga bersama. Maka Gerakan Indonesia ASRI hadir sebagai gerakan nasional untuk membangun budaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Gerakan Indonesia ASRI adalah gerakan membangun budaya  mewujudkan Indonesia yang ASRI melalui aksi nyata yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh elemen Masyarakat.

 

Bagaimana mewujudkan Indonesia ASRI? Safrizal punya jurus tersebut yakni menjaga kebersihan menjadi budaya sehari-hari. Berbagai kegiatan yang dilakukan meliputi pembersihan kawasan, penataan fasilitas umum, pemeliharaan kebersihan toilet publik dan rumah ibadah, serta penataan lingkungan agar tetap nyaman dan indah.

Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Pasalnya  pada 2025, Indonesia masuk peringkat sebagai negara dengan toilet umum terkotor di dunia. Dari 140 negara, World Economic Forum menempatkan Indonesia di peringkat 40. Itu artinya nilai kualitas toilet umum di Indonesia cuma 40 dari skala 100. Adapun faktor utama yang menjadi penyebab kondisi tersebut yaitu minimnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan toilet umum..

 

Dalam urusan toilet atau tempat publik lainnya, Safrizal  menegaskan kebersihan tidak bisa hanya mengandalkan petugas kebersihan. Yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan kebutuhan dan tanggung jawab kita bersama.

 

Dalam kesempatan tersebut, Safrizal memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu daerah dengan praktik baik dalam pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Meski demikian, ia mengingatkan agar berbagai penghargaan yang telah diraih tidak membuat seluruh pihak berpuas diri.

 

Menurutnya, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan nasional, Banyuwangi harus terus menjaga kebersihan dan kualitas sanitasi sehingga mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan sekaligus meningkatkan daya saing daerah.

 

Safrizal mengajak seluruh kepala daerah untuk menjadikan Gerakan Indonesia ASRI sebagai kegiatan yang dilaksanakan secara rutin melalui semangat gotong royong. Menurutnya, gerakan ini butuh anggaran besar, tetapi membutuhkan komitmen dan konsistensi seluruh elemen masyarakat.

 

“Kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita. Mulailah dari diri sendiri, dari rumah, dari lingkungan sekitar. Memungut sepotong sampah mungkin terlihat sederhana, tetapi itulah langkah awal membentuk karakter peduli lingkungan,” ujarnya.

 

Usai apel, kegiatan dilanjutkan dengan aksi bersih kawasan pesisir Kampung Nelayan Merah Putih yang melibatkan seluruh peserta. Aksi tersebut menjadi simbol bahwa Gerakan Indonesia ASRI tidak berhenti pada apel semata, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata menjaga kebersihan lingkungan.

 

Safrizal berharap Banyuwangi dapat menjadi contoh pelaksanaan Gerakan Indonesia ASRI bagi daerah lain di Indonesia. Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media, gerakan ini diharapkan mampu membangun budaya menjaga kebersihan secara berkelanjutan demi mewujudkan Indonesia yang lebih aman, sehat, resik, dan indah.

 

Masih dari kota Banyuwangi, Safrizal yang memimpin delegasi Indonesia pada forum The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting pada 20 Juli 2025 juga mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan jadi agenda prioritas di kawasan ASEAN. Safrizal yang juga menjabat sebagai National Representative sekaligus Shepherd ASEAN Smart Cities Network (ASCN).

Hal lain yang disampaikan Safrizal yakni Presiden Prabowo akan membangun 34 proyek pembangunan waste to energy di 34 kota pada April 2026 di Sentul. Pelaksanaan groundbreaking 34 proyek WTE dilakukan dalam beberapa bulan ke depan sehingga ditargetkan dapat mulai beroperasi sekitar dua tahun mendatang.

Proyek ini bernilai 3,5 miliar dollar AS atau setara Rp 58,8 triliun untuk 34 proyek WTE. Meskipun investasi yang dibutuhkan sangat besar, potensi pengelolaan sampah mulai tumbuh di tingkat kabupaten dan kota melalui berbagai inisiatif kepala daerah.

Penyelesaian persoalan sampah membutuhkan kerja sama erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Pak Presiden menyatakan Pemerintah Pusat tidak akan menunggu pemda jika persoalan tersebut berlarut-larut.  Untuk tangani  sampah butuh koordinasi dan kolaborasi lintas sektor bahkan lintas wilayah,” ajak Safrizal

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU