26 June 2026
HomeBeritaKesehatanCegah Stunting Tak Bisa Sendirian, Komunitas dan LSM Jadi Garda Depan Edukasi...

Cegah Stunting Tak Bisa Sendirian, Komunitas dan LSM Jadi Garda Depan Edukasi Gizi Anak

SHNet – Upaya pencegahan stunting tidak dapat dilakukan secara instan maupun hanya mengandalkan intervensi pemerintah. Di tengah implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk menekan angka stunting di berbagai wilayah, gerakan masyarakat berbasis akar rumput (grass-root), komunitas dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dinilai menjadi faktor penting dalam membangun kesadaran gizi masyarakat.

Sosiolog Universitas Indonesia, Nadia Yovanni, mengatakan organisasi dan gerakan berbasis masyarakat memiliki posisi strategis dalam peningkatan gizi masyarakat. Sebab, keberadaannya dekat dengan masyarakat serta berperan sebagai agen edukasi yang mampu menjangkau keluarga hingga lingkungan sosial yang lebih luas. 

“Peran organisasi masyarakat itu besar untuk mengedukasi tentang gizi pada masyarakat,” kata Nadia. Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan edukasi gizi sangat bergantung pada kapasitas para penggeraknya. Karena itu, organisasi yang terlibat dalam pendampingan masyarakat perlu memastikan kader dan anggotanya memiliki pemahaman gizi yang benar sebelum memberikan edukasi kepada warga.

“Jadi besar sebenarnya peran organisasi masyarakat, tapi perlu diingat kader atau anggotanya  sendiri itu harus punya literasi gizi yang benar,” ujarnya.

Salah satu organisasi masyarakat yang aktif menyuarakan peningkatan literasi gizi di masyarakat adalah PP Aisyiyah dan Muslimat NU. Kedua organisasi perempuan berbasis keagamaan ini  aktif melakukan edukasi gizi dengan melibatkan kader dari seluruh penjuru tanah air, termasuk meluruskan persepsi yang keliru tentang konsumsi kental manis. 

Inisiatif tersebut dinilai penting mengingat masih banyak masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu atau menjadikannya sebagai pengganti susu pertumbuhan bagi anak. Survei yang dilakukan Universitas Islam Bandung baru-baru ini menunjukkan bahwa 67,6 persen balita mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Padahal, dari sisi kandungan gizi, kental manis mengandung sekitar 50 persen gula dan hanya memiliki 1–3 gram protein per takaran saji. Dengan komposisi tersebut, kental manis tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dalam masa pertumbuhan, sehingga penggunaannya sebagai pengganti susu berisiko tidak mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Ketua Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah (Makes PPA) Warsiti mengatakan ‘Aisyiyah adalah organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan anak. “Karena itu lah kita memberi perhatian lebih terhadap isu gizi, bahwa pemenuhan gizi harus jadi perhatian kita bersama,” ujar pakar kesehatan yang juga Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta ini. 

Dalam hal perhatian terhadap kesalahan persepsi masyarakat tentang kental manis, Warsiti mengatakan pihaknya bersama kader telah mengedukasi mulai dari akar rumput hingga melibatkan kampus dan akademisi melalui penelitian dan survey guna memahami persoalan mendasar penggunaan kental manis sebagai pengganti susu untuk anak. “Aisiyah bersama kader-kader di seluruh Indonesia bekerja sampai ke akar rumput, memperkuat peran keluarga, komunitas dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci,” jelas Warsiti. 

 

Ormas Mitra Strategis Pemerintah 

Nadia menegaskan, organisasi masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemerintah dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait pemenuhan gizi keluarga.

“Organisasi seperti Aisyiyah ini, di belakang dia adalah kepentingan masyarakat. Salah satu perannya adalah mengedukasi masyarakat,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga erat kaitannya dengan pendidikan dan proses sosialisasi yang diterima seseorang sejak dalam keluarga. Karena itu, memperbaiki status gizi anak tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan pangan, melainkan juga membangun pemahaman yang berkelanjutan mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.

Menurut Nadia, keluarga merupakan agen sosialisasi pertama yang menentukan kualitas pemahaman gizi seorang anak.

“Agen sosialisasi pertama itu adalah keluarga. Jika keluarganya tidak punya literasi gizi yang bagus, ya yang penting hidup. Dia tidak peduli apakah di makanan itu perlu ada protein, perlu ada karbohidrat, dan bagaimana komposisinya,” ujarnya.

Selain organisasi keagamaan, sejumlah komunitas seperti Boss Mama, Rangkul Foundation, dan Komunitas Relawan Samadua belakangan turut terlibat dalam edukasi gizi untuk ibu dan balita, terutama untuk korban bencana di Sumatera. Mereka tidak hanya menyalurkan bantuan pangan, tetapi mengadvokasi, pendampingan intensif, serta melatih kader lokal untuk mengenali dan menangani persoalan gizi di lingkungan masing-masing.

Pendekatan berbasis komunitas tersebut dinilai mampu melengkapi berbagai program pemerintah karena menyentuh aspek perubahan perilaku masyarakat secara langsung. Dengan jaringan yang mengakar hingga tingkat desa dan kedekatan dengan warga, organisasi masyarakat dapat menyampaikan pesan-pesan kesehatan secara lebih efektif dan mudah dipahami.

“Kalau masyarakat punya literasi gizi yang bagus, bahwa untuk hidup itu tidak hanya karbohidrat, bahwa manusia perlu banyak hal, maka itu akan berdampak pada perilakunya di masyarakat,” kata Nadia.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU