SHNet, BANDUNG – Buta warna atau color vision deficiency adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan membedakan warna tertentu, terutama merah dan hijau. Hal tersebut dipengaruhi oleh gangguan pada sel kerucut (cone cells) di retina mata.
Meskipun sering dianggap sebagai “gangguan ringan”, buta warna dapat memengaruhi pendidikan, pilihan karier, hingga aktivitas sehari-hari. Demikian dikatakan oleh Celine Winarta, Gen-Z yang baru berumur 16 tahun, dalam edukasi Nayan Project di SDN 022 Cicadas Kota Bandung, 15 Juni 2026. Nayan sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna “penglihatan”.
Kampanye dan inisiatif Nayan Project diinisiasi oleh komunitas Anak Cerah Indonesia (ACI) yang bekerja sama dengan RS Mata Cicendo dan Panon Mahia Nusa. Celine Winarta, Founder ACI, menegaskan bahwa komunitasnya memiliki tiga misi. Pertama, awareness dan edukasi tentang masalah anak dan kesehatan.
Kedua, menjadi wadah bagi anak muda yang ingin berperan dalam masyarakat sebagai relawan. Ketiga, melakukan aksi nyata untuk peduli terhadap kesehatan anak. Cerita di balik Nayan Project yang ia dorong, bermula dari kisah temannya yang mengalami buta warna. “Namun, karena terdeteksi sejak dini, kawanku itu dapat hidup normal dan berkembang dengan baik. Maka sejak itu aku tergerak untuk melakukan sesuatu,” ujar Celine.
Apalagi, setelah membaca buku “Nayan dan Misteri Warna”,Celine semakin terdorong untuk melakukan campaign guna menolong teman-temannya yang mengalami buta warna. Program ini dimulai dari Bandung, karena ia tinggal di sana. “Kedua, kami disupport oleh RS Cicendo, yang juga merupakan RS mata nasional. Ketiga, kami membaca buku Nayan & Misteri Warna, karya dr. Antonia, yang kebetulan juga menjadi Dirut RS Cicendo,” tambahnya.
Setelah dari Bandung, program peduli buta warna dilanjutkan ke kota-kota lainnya, dengan fokus ke sekolah-sekolah negeri, mengingat jumlahnya yang besar. “Termasuk, kita mau memberikan edukasi ke publik bahwa BPJS seharusnya juga mencover pemeriksaan buta warna.
Sejauh ini belum, mungkin karena kurangnya informasi tentang buta warna itu sendiri. Setelah itu, kita harapkan Nayan Project bisa berlanjut ke provinsi lain dan seterusnya. Selain itu, kita juga terus menguatkan campaign melalui social media, mengingat Gen-Z dan Gen-Alpha merupakan digital native,” kata Celine.

Sementara itu, menurut Direktur Utama RS Mata Pusat Cicendo, Bandung, Dr. dr. Antonia Kartika, Sp.M(K), M .Kes., di Indonesia, angka prevalensi buta warna bervariasi. “Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes menunjukkan prevalensi sekitar 0,7%. Namun, berbagai penelitian pada populasi sekolah dan masyarakat menemukan angka antara 2–5%, dengan dominasi kasus pada anak laki-laki. Meski berpengaruh pada masa depan dan karier, sejauh ini edukasi terkait buta warna masih minim. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu memahami tanda-tanda awal, seperti anak sering salah menyebut warna, kesulitan mengikuti pelajaran yang menggunakan kode warna, atau mengalami kebingungan saat membaca peta dan grafik berwarna,” ujar dr. Antonia.
Ia melanjutkan, deteksi dini bukan untuk mempersempit masa depan anak, sebaliknya, untuk memberikan informasi yang memadai agar mereka mampu beradaptasi, mengembangkan potensi secara optimal, dan memitigasi hambatan yang mungkin muncul di kemudian hari.
“Kesadaran sejak usia dini akan membuat anak memahami bahwa buta warna bukanlah kekurangan yang menghalangi prestasi, melainkan kondisi yang dapat dikelola dengan pengetahuan dan strategi yang tepat,” lanjutnya.
RS Mata Cicendo mendukung inisiatif Nayan Project karena gerakan ini dilakukan oleh para anak muda. Keterlibatan Gen-Z dan Gen-Alpha sangat penting untuk memperbaiki penghilatan anak-anak Indonesia di masa depan.
“Fakta menunjukkan bahwa sekitar 75% dari perkembangan seorang anak, baik motorik, emosional, maupun kognitif, berawal dari penglihatan. Fungsi penglihatan tidak hanya mendeteksi objek, apakah ia melihat secara jelas atau buram, tetapi juga mengidentifikasi warna,” tambah penulis buku Nayan & Misteri Warna tersebut.
Bagi seorang anak, lanjut dr. Antonia, penglihatan warna sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Pasalnya, hampir semua mata pelajaran berkaitan dengan warna. Sebagai contoh, seorang anak diminta untuk melihat grafik berwarna. Lalu gurunya bertanya, angka paling tinggi ada di grafik warna apa, dan seterusnya.
Terkadang, seseorang dengan gangguan penglihatan warna akan menjawab salah. Padahal ia tidak mengalami kekurangan, hanya saja identifikasi warnanya berbeda dari anak-anak lainnya. Nayan Project di SDN 022 Cicadas dimulai pukul 07.00 WIB dengan pemeriksaan mata bagi sekitar 200 murid, guru, dan orang tua.
Antusiasme terlihat di sekolah yang bangunannya tampak kokoh dengan dua lantai—ditandai dengan banyaknya orang tua, khususnya ibu-ibu, yang hadir mendampingi anak-anaknya. Meski saat itu sekolah sedang libur, ratusan orang datang sejak pagi hingga siang. Keceriaan tampak dari raut muka anak-anak yang mengikuti setiap tahap pemeriksaan. Dimulai dari tes mata, pemakaian kacamata ukur, hingga games berhadiah. (Non)

