Oleh: Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina
Informasi yang mengejutkan saat memperoleh kabar duka berpulangnya Muhammad Guruh Irianto Sukarno Putra, saya selalu menyapanya dengan Guruh. Kami berusia sekitar 40 tahun ketika memutuskan untuk masuk PDI tahun 1991 dan KTA PDI kami itu bersamaan, seperti Guruh, Sophan Sophian, Roy BB Janis, Laksamana Sukardi dan saya sendiri. Saat itu, PDI sedang mencari orang muda untuk direkrut masuk PDI, kami berlima sempat menemui Ketum PDI Soerjadi dan ada Fatimah Ahmad di sebuah restoran di kawasan Senayan.
Saat itu, sebenarnya kami masing-masing memiliki beragam aktivitas, Guruh sudah berkiprah di dunia seni, Sophan merupakan aktor papan atas, Laksamana memiliki karier di perbankan dan saya menjadi peneliti di CSIS Jakarta dalam rangka menyelesaikan studi doktoral, meski meninggalkan karena keterlibatan di politik.
Karena usia kami semua sepantaran, kami selalu melakukan pertemuan. Apalagi, kami juga menjadi caleg PDI untuk pemilu 1992, baik untuk DPR RI dan MPR RI. Dari situ terbangun relasi persahabatan.
Nah, dalam sebuah kongkow sebagai sahabat, diskusi brkembang perlunya untuk memecah balok es orde baru, sehingga dalam diskusi itu tercetus ide liar untuk mencalonkan Guruh sebagai calon presiden. Ya bisa dibilang ide liar, karena saat itu tidak ada satupun tokoh yang berani mencalonkan diri. Dengan segala hormat, tidak ada satupun tokoh bahkan yang merasa paling berani sekalipun untuk menyatakan jadi calon penantang Presiden Soeharto. Merespon itu, Guruh hanya menjawab dengan satu kata perlahan tapi tegas “Iyaa”. Saya ingin memastikan lagi, Guruh tetap dengan satu kata itu. Kalau sekarang keberanian menjadi capres itu hal biasa, tapi zaman itu sangat sulit untuk merekonstruksi kembali untuk menggambarkan bahwa itu adalah keberanian yang luar biasa.
Sebagai gambaran, ketika HJ Naro mau jadi calon Wapres atau ketika Sabam Sirait melakukan interupsi di sidang MPR RI, itu sudah cukup untuk menjadi headline dan perbincangan publik, sehingga bisa dibayangkan bagaimana seorang anak muda mau menjadi presiden dan mendapat sambuatan lautan massa dimana-mana.
Tapi, dari obrolan tidak resmi itu, kami dengan cara masing-masing mendorong Guruh sebagai calon presiden. Rupanya kejenuhan rakyat mendapatkan saluran melalui kemunculan tokoh muda, Guruh. Momentum kampanye Pemilu 1992 menjadi panggung Guruh dengan tagline “Guruh for President”. Kami mensupport sejauh yang bisa dilakukan. Respon rakyat luar biasa. Guruh jugalah yang mempopulerkan salam tiga jari yang terkenal sampai saat ini. Saat itu, dikenal salam metal (merah total) yang juga menambah daya tarik bagi anak muda yang sedang gandrung aliran musik metal.
Pencalonan Guruh sebagai capres bergulir seperti bola salju yang mendapat simpati dimana-mana. Guruh mendapat sambutan lautan massa.
Fenomena Guruh membuat rezim ketar-ketir. Ada banyak pengalaman yang mungkin tidak cukup untuk ditulis, tapi beberapa yang masih teringat. Kami mau berkampanye di Papua, kami terbang ke Biak satu malam kemudian ke Jayapura. Saat itu, Ketua PDI Irian Jaya, Tony Rahail. Ketika mendarat di Sentani tampak biasa saja seolah tidak ada penjemputan, tapi begitu ke laur Bandara, massa yang berkumpul luar biasa yang menyambut Guruh. Perjalanan dari Sentani ke Jayapura ditempuh enam jam karena massa memilih berjalan kaki. Kami tiba di Hotel Matoa Jayapura jam 10 malam.
Massa sudah bubar tapi masih banyak yang berkerumun. Untuk itu, kami menyarankan Guruh untuk menyapa massa dan berorasi singkat pada pukul 10 malam, setelah itu barulah massa bubar. Hanya saja keesokan paginya, kami didatangi dan meminta untuk segera tinggalkan Papua tanpa alasan yang jelas. Namun, Saul de Ornay yang dalam rombongan melakukan lobby, sehingga bisa berkampanye di Abepura, dengan catatan esok harus pulang.
Kehadiran ribuan massa itu bukan tanpa alasan karena tekanan orde baru yang keras menjadikan kehadiran Guruh sebagai harapan untuk perubahan bagi Papua, meski sampai saat ini persoalan Papua masih mewarnai media massa.
Keesokannya, kami terpaksa terbang ke Ambon untuk berkampanye di Lapangan Merdeka. Sambutan massa juga luar biasa karena spontanitas dengan kehadiran Guruh. Sesuai jadwal, kami harus terbang ke Manado tapi dibatalkan karena ada pihak yang juga memblok perjalanan.
Dalam masa kampanye 1992, karena saya calon dari Dapil Sumut meminta Guruh untuk berkampanye. Meski massa ada di dekat lokasi kampanye tapi enggan berkumpul, tapi begitu Guruh datang massa menyatu dan memenuhi arena kampanye.
Guruh, bukan figur kaleng-kaleng, meski memiliki pembawaan tenang, tapi di podium, Guruh berubah jadi singa podium. Mungkin banyak yang tidak tahu, Guruh muda adalah seorang orator handal di panggung. Artikulasinya, penguasaan materi dan pemahamannya tentang bernegara dan berdemokrasi luar biasa.

Parlemen 1992
Hasil pemilu 1992 sudah diketahui hasilnya, PDI tetap nomor 3, meski bisa duduk di parlemen, tentu Guruh tidal menjadi calon presiden dalam sidang MPR RI. Kami juga meminta Guruh untuk membuat pernyataan kesediaan menjadi calon presiden ke Fraksi PDI tapi mendapat penolakan dari Soerjadi, tapi terus berproses walau tak disetujui ketua umum. Namun, keberanian Guruh memecah kebuntuan sirkulasi kekuasaan ini merupakan salah satu pemicu dari munculnya berbagai perlawanan terhadap rezim. Pemimpin sejati bukan sekadar jabatan tapi terletak pada inti kepemimpinan: kepeloporan.
Tapi, politik itu dinamis, ketika Guruh berhasil memecah kebekuan dan ketakutan yang tertanam di era Orba, juga bermunculan tokoh yang memiliki keberanian. Tetapi, kalau mau jujur, Guruh merupakan anak muda yang menggoyang dan menyediakan diri jadi figur alternatif menjadi satu titik krusial dalam bergulirnya perubahan di Indonesia. Ikat kepala merah dan simbol metal tiga jari itu sebenarnya layak menjadi simbol perlawanan terhadap rezim represif orde baru.
Untuk itu, kepada anak muda yang meraih kejayaan dan materi dari simbol tiga, jangan lupa berterima kasih kepada Guruh. Karena tanpa ada yang memulai perlawan tidak akan pernah ada kemenangan dan tidak pernah ada perubahan rezim, tapi di balik berbagai perubahan menjadi sia-sia ketika nasib rakyat tidak berubah. Sejauh yang saya kenal, Guruh meski lahir dari keluarga elit Indonesia, tapi memiliki hati dan pikiran untuk rakyat.
Saya tergerak menulis tentang Guruh sebagai sahabat dan orang yang baik, sekaligus menjadi pengingat bagi siapapun bahwa di tengah ketakutan, kebekuan dan kebebasan yang terbelenggu, butuh keberanian figur seperti Guruh untuk tampil dan mendobrak kemapanan. Mungkin banyak tokoh reformis dan pemberani-setidaknya mengklaim- di era orde baru, tapi sebelum Guruh tidak ada figur yang bernyali untuk kampanye terbuka di panggung politik nasional sebagai menantang politik Presiden Soeharto yang didukung ABG (ABRI, Birokrasi dan Golkar).
Pemberani sejati itu dia akan lantang dan bangkit melawan ketika semua diam; dan mungkin memilih menepi ketika semua orang menjadi pemberani.
Namun kalau ditanya mengapa Guruh tampaknya melewatkan momentum politiknya? Tentu, bukan saya yang harus menjelaskan pada kesempatan ini, meskipun saya pernah bertanya kepadanya. Pesanku sederhana menjadi senior tidak harus menutup jalan bagi yang yunior, karena di pundak mereka ada masa depan.
Selamat jalan Mas Guruh. Rest in Peace. Tuhan menyediakan tempat terbaik untukmu…
Penulis, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarty Foundation.

