SHNet, Jakarta-Dalam rangka meningkatkan pemahaman publik dan pemangku kepentingan mengenai tantangan kekeringan, keberlanjutan sumber daya air serta pentingnya pengelolaan dan konservasi airtanah, Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PPAI) bekerjasama dengan Balai Konservasi Airtanah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyelenggarakan kegiatan diskusi ilmiah.
Diskusi Ilmiah bertajuk “Kekeringan dan Air Tanah: Memahami Propagasi, Dampak, Mitigasi, dan Konservasi Menuju Keberlanjutan Sumber Daya Air” yang diadakan Rabu (21/10/2026), di Balai Konservasi Air Tanah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai institusi. Forum ini membahas bagaimana kekeringan berkembang, mempengaruhi ketersediaan air tanah, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya. Forum diskusi dibuka secara online oleh Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL), Badan Geologi Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi.
Dalam sambutannya, Agus menekankan pentingnya pelayanan penyediaan air bagi masyarakat yang didukung oleh informasi potensi sumber daya airtanah yang memadai. Menurutnya, melalui kegiatan pemetaan dan penyelidikan potensi airtanah, PATGTL berupaya mendukung pemanfaatan sumber daya air yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan.
Ketua PAAI, Irwan Iskandar, dalam sambutannya mengingatkan bahwa pengelolaan airtanah tidak dapat dilakukan hanya dari satu sudut pandang keilmuan. Dinamika iklim, proses hidrologi, karakteristik geologi, hingga aktivitas manusia merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan dan perlu dipahami secara terpadu. Oleh karena itu, dia mengatakan sinergi lintas disiplin ilmu, antarinstansi, dan para praktisi menjadi salah satu kunci dalam membangun pengelolaan airtanah yang lebih baik dan berkelanjutan.
Dalam acara diskusi yang dimoderatori Rachmat Fajar Lubis, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hadir sebagai pembicara Marjuki, Direktur Layanan Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmawati Rahayu, Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Wulan Seizarwati dari Balai Air Tanah Kementerian Pekerjaan Umum, Arifin dari Geologi ITB, Taat Setiawan dari Balai Konservasi Air Tanah Kementerian ESDM. Para narasumber ini mengulas persoalan kekeringan dari berbagai sudut pandang, mulai dari kondisi iklim, dinamika air di permukaan dan bawah tanah, hingga strategi pengelolaan dan konservasinya.
Dalam paparannya, Marjuki mengulas prospek iklim Indonesia hingga tahun 2027, termasuk dampak fenomena El Niño yang sangat kuat pada 2026. Menurutnya informasi iklim seperti ini menjadi penting untuk membantu pemerintah dan masyarakat mempersiapkan langkah antisipasi sebelum kekeringan berkembang menjadi krisis air. “Namun, berkurangnya curah hujan hanyalah awal dari proses kekeringan yang lebih panjang,” ujarnya.
Rahmawati menjelaskan bahwa dampak kekeringan dapat merambat dari atmosfer ke tanah, sungai, dan akhirnya cadangan air tanah. Dia menyampaikan proses ini dikenal sebagai propagasi kekeringan, dengan waktu respons yang berbeda pada setiap komponen sistem hidrologi.
Dia menuturkan berdasarkan sejumlah penelitian di Pulau Jawa, dampak kekurangan hujan terhadap aliran sungai dapat muncul dalam rentang 0 hingga 6 bulan. Air Tanah umumnya memberikan respons yang lebih lambat karena memiliki kemampuan menyimpan air. Namun, menurutnya, ketika cadangannya sudah berkurang, pemulihannya juga dapat membutuhkan waktu lebih panjang.
Dia menyampaikan temuan ini menjadi penting karena masyarakat sering kali menganggap persoalan kekeringan selesai ketika hujan telah kembali turun. Padahal, menurutnya, sumur warga, mata air, dan pasokan air untuk pertanian belum tentu pulih dalam waktu yang bersamaan.
Sementara itu, Arifin menyoroti pentingnya proses imbuhan airtanah, yaitu masuknya air dari permukaan ke dalam sistem akuifer. Menurutnya, proses ini menjadi salah satu kunci dalam mempertahankan cadangan airtanah untuk jangka panjang. Menariknya, menurut Arifin, di wilayah tropis seperti Indonesia, hujan berintensitas tinggi juga dapat memberikan kontribusi penting terhadap pengisian kembali akuifer, bergantung pada kondisi geologi dan karakteristik lahannya.
Arifin juga mengingatkan bahwa keterbatasan jaringan pemantauan airtanah masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Karenanya, dia mengatakan pengamatan kondisi air tanah diperlukan untuk mengetahui apakah cadangannya masih mampu mendukung kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
Pembicara lainnya, Taat menyampaikan selain memahami proses alami, pengelolaan airtanah juga memerlukan dukungan kebijakan dan teknologi konservasi yang tepat. Menurutnya, meningkatnya kebutuhan air, perubahan penggunaan lahan, dan pengambilan airtanah yang tidak terkendali dapat memperbesar tekanan terhadap sistem akuifer. “Dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya cadangan air, tetapi juga dapat memicu penurunan muka tanah dan penurunan kualitas airtanah di sejumlah wilayah,” ungkapnya.
Dia mengatakan berbagai upaya konservasi dapat dilakukan melalui pembangunan sumur resapan, sumur imbuhan, pemanenan air hujan, serta pengelolaan air limpasan. “Teknologi tersebut bertujuan membantu meningkatkan penyerapan dan penyimpanan air sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya airtanah. Namun, penerapannya harus mempertimbangkan kondisi geologi, ketersediaan lahan, dan kualitas air agar tidak justru menimbulkan pencemaran,” tukasnya. (cls)

