SHNet, Jakarta— Pertama digelar dan langsung menggebrak dunia seni yang selama ini sunyi di atas meja dan di beragam jenis mesin jahit, berhasil menyedot peserta dan pengunjung yang cukup besar. Itulah pameran quilt skala internasional dengan tajuk “Citrapata Quilt Exhibition 2026” yang digelar di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta Selatan, selama tiga hari; 20-21 Oktober 2026.
Mengusung tema “Symphony of Threads & Fabrics”, Citrapata Quilt Exhibition 2026 menghadirkan lebih 200 karya seni tekstil dan quilt dari para perajin dan seniman tekstil Indonesia, serta partisipasi komunitas dari Brunei, Singapura, dan Qatar.
Arena yang biasa digunakan untuk konser musik dan berbagai pertunjukkan, baik di panggung utama maupun di hall dan selasar yang biasa menjadi tempat duduk penonton konser, dipadati karya perajin tekstil yang sangat luar biasa. Sebelum dibuka resmi, sudah banyak pengunjung -sebagian besar kaum perempuan- sudah datang dan tak sabar ingin melihat ke ruang pamer di lantai dua. Padahal, hari Selasa 20 Oktober itu bertepatan dengan agenda demo mahasiswa terkait dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo-Wapres Gibran.
Didahului dengan penampilan tarian, pembukaan pameran cukup simpel. Pidato Ketua Panitia Pelaksana Pameran, M. Laksmintarti Soeparwoto pun cukup singkat, hanya sekitar 1 menitan. Dia merasa berbahagia, karena melalui kerja keras dan pendekatan satu-per satu untuk mengumpulkan crafter patw
“Hajat besar ini bisa terwujud karena kerja sama, dan soliditas yang ditunjukkan anggota komunitas agar pameran ini benar-benar terlaksana sebagai ajang silaturahmi bersama dan bertukar informasi karya yang semuanya luar biasa,” kata Laksmintarti sambil mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung.

Usai sambutan, seremoni pembukaan Citrapata Quilt Exhibition 2026 diresmikan dengan pengguntingan pita oleh Laksmintarti dan dua rekan panitia, Safrudiningsih dan Reiza Amelia. Tepuk tangan dari peserta dan undangan pun menggema.
“Hari ini menjadi ruang pertemuan para pencinta seni tekstil, quilting, patchwork, kerajinan tangan, dan komunitas kreatif dalam pembukaan Citrapata Quilt Exhibition 2026, bagian dari rangkaian 3rd Quilt and Needle Craft Festival International,” kata Laksmintarti
Namun, lanjut Laksmintarti, Citrapata bukan sekadar tentang kain yang dijahit menjadi sebuah karya. Di balik penyelenggaraannya terdapat gagasan untuk mempertemukan berbagai komunitas yang selama ini tumbuh dan berkarya di dunia tekstil, quilting, patchwork, needle craft, dan kerajinan tangan.
Dalam pameran ini sejumlah perlnegkapan quilt dijual di tenant-tenat di bawah atau alantai 1, sedangkan quilt di lantai dua selaian dipamerkan ada beberapa karya yang ditawarkan atau dijual. Harga quilt beragam, dari kisaran 2 hingga 5 juta rupiah. Tapi ada satu karya quilt yang dibuat oleh seorang perajin bernama Latifah Hidayati, dijual dengan harga fantastis, 40 juta rupiah.
Kenapa begitu mahal, sebab dibuat dari potongan-potongan kain kecil yang dijahit dengan tangan sedemikian rupa membentuk pola dan dikerjakan selama 3 tahun sejak 2016-2018. Bahan quiltnya dari batik Bali dan berlapis dakron press dan diquilt dengan indah oleh Maria QuiltVille Lie.

Citrapata: Ketika Perca Menjadi Cerita
Dikemukakan Laksmintarti, nama Citrapata lahir dari dua kata: “citra” yang berarti gambar atau gambaran, dan “pata” yang berarti perca. Dari dua kata tersebut lahirlah sebuah gagasan: Citrapata adalah cerita yang disusun dari perca-perca.
Setiap potongan kain memiliki warna, motif, tekstur, dan perjalanan yang berbeda. Ketika potongan-potongan tersebut dipertemukan dan dijahit bersama, lahirlah sebuah gambar, sebuah karya, sekaligus sebuah cerita baru.
Filosofi tersebut menjadi dasar Citrapata Quilt Exhibition 2026. Seperti halnya kain perca yang tidak harus berasal dari satu jenis kain untuk menjadi indah, dunia quilting dan needle craft juga tidak harus berdiri sebagai komunitas yang terpisah-pisah.
Dalam perbincangan di arena pameran, Laksmintarti mengatakan, Citrapata hadir untuk mempertemukan para quilter, patchworker, crafter, seniman tekstil, komunitas, pengajar, pelaku usaha kreatif, hingga masyarakat umum dalam satu ruang apresiasi dan pembelajaran.
Merajut Komunitas, Memperluas Ruang Berkarya
Penyelenggaraan Citrapata Quilt Exhibition 2026 juga menjadi upaya untuk memperluas ekosistem quilting dan needle craft di Indonesia.
Berbagai komunitas memiliki karakter, teknik, pengalaman, dan cerita masing-masing. Ada yang berawal dari hobi, ada yang berkembang menjadi usaha, ada pula yang menjadikan quilting sebagai medium ekspresi artistik dan pelestarian keterampilan tekstil.
Melalui Citrapata, keberagaman tersebut dipertemukan dalam satu panggung.
Kehadiran peserta dan komunitas dari Indonesia, Malaysia, Qatar, dan Singapura menunjukkan bahwa seni tekstil memiliki bahasa yang dapat melampaui batas wilayah. Kain, benang, warna, dan jahitan menjadi medium untuk saling mengenal, berbagi pengetahuan, serta membangun jejaring antarkomunitas.
“Karena itu, Citrapata tidak hanya mengajak pengunjung untuk melihat karya, tetapi juga untuk bertemu dengan orang-orang di balik karya tersebut,” kata Laksmintarti
Dari Karya, Komunitas, hingga Pertukaran Inspirasi
Citrapata Quilt Exhibition 2026 menjadi awal dari rangkaian acara yang mempertemukan karya, komunitas, pelaku industri kreatif, dan masyarakat.Pengunjung dapat menikmati lebih 200 karya quilt dan seni tekstil, sekaligus mengeksplorasi area tenant kerajinan dan produk kreatif di lantai satu
Tidak berhenti pada pameran, Citrapata juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif seperti workshop dan short course yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal lebih dekat teknik quilting, patchwork, serta berbagai keterampilan needle craft.
Dengan demikian, pengunjung tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar dan berbagi.

“Symphony of Threads & Fabrics”
Mengani tema “Symphony of Threads & Fabrics” Laksmintarti menjelaskan, ini merepresentasikan semangat utama Citrapata.
Dalam sebuah simfoni, berbagai instrumen dengan karakter berbeda tidak dimainkan untuk menjadi sama. Justru perbedaan suara tersebut dirangkai untuk menciptakan harmoni. Begitu pula dengan quilting.
Sementara itu, salah satu panitia yang juga perajin quilt dan ikut memamerkan karya,, Jeinty Lee menambahkan, berbagai warna kain, pola, teknik jahitan, karakter pembuat, serta cerita personal dapat hadir dalam satu karya tanpa kehilangan identitas masing-masing. Benang menjadi penghubung. Perca menjadi medium. Cerita menjadi hasil akhirnya.
“Melalui tema ini, Citrapata ingin menunjukkan bahwa seni tekstil bukan hanya tentang teknik menjahit kain, tetapi juga tentang kreativitas, ketekunan, identitas, komunitas, dan hubungan antarmanusia,” kata Jienty Lee.

Membuka Ruang untuk Generasi Berikutnya
Citrapata Quilt Exhibition 2026 juga diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan quilting dan needle craft kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda.
Di tengah perkembangan industri kreatif dan semakin beragamnya bentuk seni kontemporer, keterampilan berbasis kain dan tangan memiliki nilai yang tetap relevan. Proses membuat quilt mengajarkan ketelitian, kesabaran, kreativitas, sekaligus kemampuan melihat nilai dari sesuatu yang mungkin sebelumnya dianggap sederhana.
Selembar kain sisa dapat memiliki kehidupan baru.
Sementara itu salah satu panitia yang juga pencinta dan perajin quilt, Safrudiningsih mengatakan, potongan-potongan yang terpisah dapat menjadi satu kesatuan. Dan sebuah komunitas dapat menjadi lebih kuat ketika setiap anggotanya membawa cerita masing-masing.

“Semangat inilah yang ingin dibawa Citrapata: merayakan perca, merayakan karya, dan terutama merayakan manusia serta komunitas yang berada di baliknya,” ujar Safrudiningsih.
Seperti disebut di atas, pameran ini diikuti juga peserta dari luar Indonesia, seperti Singapura. Salah satu peserta yang ditemui, Yvett Lim mengatakan, dirinya membawa tiga karya quilt yang langsung dibawa dan kini dipamerkan di Balai Sarbini.

Pencinta dan perajin quilt dari Singapura ini juga memiliki toko quilt yang melayani penjualan langsung dan online beragam perlengkapan jahit, kain dan asesories terkait quilt. Toko yang dikelola bersama sahabatnya, Aimee itu bernama “2Quilters”.
Karena mencintai seni kain, jahit yang bermuara pada pembuatan quilt, Yvette sering melihat pameran yang digelar di beberapa negara seperti di Malaysia, Singpura, dan juga Jepang.
Yvette mengaku sangat senang bisa ambil bagian sebagai peserta pameran Citrapata Quilt Exhibition 2026 di Jakarta. Kegembiraannya terpancar dari senyum yang lebar saat diwawancara di arena pameran, Rabu (21/10/2026).
Yvette juga mengungkapkan bahwa di dalam sebuah karya seni kain-jahit bernama quilt terkandung 3 aspek: History – quit tidak hanya menjahit potongan-potongan kain, tapi juga mendokumentasikan sebuah sejarah (dari tema yg diambil)
Story telling, Setiap potongan kain, warna, pola, dan jahitan dapat menyampaikan sebuah cerita. Bisa pengalaman pribadi, kehidupan keluarga, perjalanan hidup, kebudayaan, hingga persoalan sosial dan ketiga, Inauguration– suatu peresmian, dalam konteks quilt, untuk memperingati suatu peristiwa penting. (sur)

