1 November 2026
HomeBeritaApi dalam Hening Menyala di Balai Sarbini: 42 Tahun Nicky Astria, Konser...

Api dalam Hening Menyala di Balai Sarbini: 42 Tahun Nicky Astria, Konser Pembuktian Kesetiaan Cinta

SHNet, Jakarta- Ada api yang tidak terpadamkan waktu. Jumat malam, 30 Oktober 2026, api itu menyala menghangatkan Balai Sarbini, Jakarta, dalam konser “Nicky Astria Level 42: Api Dalam Hening”, perayaan 42 tahun perjalanan sang lady rocker di dunia musik Indonesia.

Konser ini menerjemahkan dua sisi Nicky yang tampak bertolak belakang: suara lantang dan penuh energi di atas panggung, dan kehidupan yang tenang, jauh dari sorotan, di luar panggung. Malam itu, keduanya bertemu. Hasilnya adalah pertunjukan yang oleh banyak penonton dirasakan sebagai konser pembuktian kesetiaan cinta, dari Nicky kepada para penggemarnya, dan dari para penggemar fanatiknya kepada Nicky.

Sebelum pintu auditorium dibuka, Nicky lebih dulu menjumpai para tamu Super VIP dalam sesi meet and greet. Ia menyapa mereka dengan ramah, menjawab pertanyaan dalam sesi tanya jawab, lalu berfoto satu per satu. Para tamu itu datang dari berbagai penjuru negeri, dari Riau, Palu, Kalimantan, Medan, dan daerah lainnya, menempuh jarak jauh hanya untuk berada sedekat mungkin dengan suara yang telah menemani hidup mereka selama puluhan tahun.

Di hadapan mereka, Nicky berbicara tentang apa yang kini ia cari dari  atas panggung. “Sekarang, kalau saya tampil hanya untuk menikmati menyanyi, bukan lagi mengejar apa pun,” ujarnya. Kalimat sederhana itu menjadi penanda bahwa setelah 42 tahun, yang tersisa darinya adalah kecintaan paling murni seorang penyanyi.

Konser dibuka dengan “Indonesia Raya”. Panggung yang tertutup layar putih raksasa, menampilkan bendera Merah Putih. Di layar yang sama, sebuah video perjalanan diputar, menelusuri jejak Nicky sejak pertama kali bernyanyi di KBRI Kuala Lumpur pada usia tujuh tahun, hingga 42 tahun kariernya.

“Panggung Sandiwara”, kemudian dibawakan dengan cara yang tak biasa. Paduan suara membuka lagu, sementara di balik tirai putih hanya tampak siluet seorang konduktor orkestra. Suara Nicky yang menggelegar terdengar dari balik layar tanpa sosoknya terlihat. Begitu memasuki chorus, tirai itu jatuh. Tampaklah seluruh Chaost Orchestra, dan di panggung bagian belakang Nicky berdiri dalam setelan jas abu-abu tua, kemeja putih, dan turban hitam. Sorak penonton pecah, dan sejak saat itu seluruh Balai Sarbini berada dalam genggamannya.

Di bawah arahan Demas Narawangsa sebagai Music Director, dengan iringan Fierys dan Chaost Orchestra, disempurnakan penampilan apik choir dengan aransemen Ray Jeffrin, Nicky membawakan lagu demi lagu dengan tenaga yang memukau. Dari “Jangan Ada Angkara”, “Lentera Cinta”, “Gairah Jiwa”, “Mengapa Kau”, “Cinta di Kota Tua”, “Bias Sinar”, dan “Biar Semua Hilang”, hingga “Permata Biru”, “Misteri Cinta”, dan “Negeri Khayalan”. Konser ditutup oleh dua lagu yang telah menjadi penanda zamannya, “Jarum Neraka” dan “Tangan Setan”,

Yang membuat malam itu terasa istimewa adalah suara penonton. Mereka, yang konon adalah wajah-wajah setia yang sama di setiap konser Nicky, menyanyikan lagu demi lagu bersama-sama dengan kompak, seolah paduan suara raksasa yang sudah berlatih puluhan tahun.

Selain bernyanyi, Nicky berbagi cerita bersama para tamunya

 

Candil menyanyikan “Uang” dalam duet yang memecah malam dengan lengking suaranya.

Sebuah penghormatan hadir bagi almarhumah Nike Ardilla. Nenden Sintawati, penyanyi tunanetra yang merupakan teman kecil Nike, membawakan “Bintang Kehidupan” sebagai tribut. Dalam sunyi yang khidmat, lagu itu berubah menjadi doa bersama.

Suasana berubah heboh ketika sahabat lama Nicky, Atiek CB, naik ke panggung dan mengguncang Balai Sarbini lewat “Catatan Si Boy”. Dialog Nicky dan Atiek yang bercampur dialek Jawa dan Sunda mengundang tawa riuh penonton, bukti bahwa persahabatan dua lady rocker ini tulus dan sejati.

Sejumlah nama besar musik Indonesia turut hadir menyaksikan dari balkon atas, di antaranya Mus Mujiono, Chintami Atmanegara, Yuni Shara, Vina Panduwinata, Berlian Hutauruk, Rita Amelia, dan Kristina.

Suasana konser “Nicky Astria Level 42: Api Dalam Hening”

Kesetiaan Penonton

Bagi Kolam Ikan Creative Communication, malam itu adalah satu lagi pembuktian kerja sama panjang dengan Nicky. Iwan Kurniawan, Project Director sekaligus Show Director Kolam Ikan Creative Communication, menyebut konser ini sebagai konser Kolam Ikan yang kesekian kalinya bersama Nicky Astria, dan setiap kali selalu berjalan sukses. Kesuksesan yang berulang itu, menurutnya, tidak lepas dari kesetiaan para penonton yang selalu hadir.

Sebelum hari pertunjukan, kategori Super VIP atau “42 Kursi Emas”, Silver, dan Bronze telah habis terjual. Antusiasme ini membuktikan bahwa lagu-lagu Nicky tetap menemukan tempatnya di hati pendengar lintas generasi.

Setelah 42 tahun, Nicky Astria mungkin tidak selalu terlihat. Tidak selalu berada di bawah sorotan, dan tidak selalu hadir di setiap panggung. Tetapi malam itu membuktikan bahwa kisah yang belum selesai tidak layak menjadi sejarah. Dalam hening, ia menjaga apinya. Di atas panggung Balai Sarbini, ia menyalakannya untuk kita. (sur)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU