6 November 2026
HomeBeritaKesraCatatan Erupsi Tambora 1815 dan Puputan Klungkung Diakui UNESCO

Catatan Erupsi Tambora 1815 dan Puputan Klungkung Diakui UNESCO

SHNet, Jakarta– Kekayaan sejarah dan budaya Indonesia kembali mendapat pengakuan internasional. Dua naskah kuno Nusantara, yakni Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Saksi Erupsi Tambora 1815 dan Kidung Bhuwana Wināśa (Nyanyian tentang Dunia yang Telah Lenyap), resmi tercatat dalam Register Ingatan Dunia UNESCO untuk kawasan Asia dan Pasifik.

Pengakuan tersebut ditetapkan dalam Pertemuan Umum Ke-11 Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) yang berlangsung di Jakarta. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa warisan dokumenter Indonesia memiliki nilai sejarah, budaya, dan pengetahuan yang diakui dunia.

Kedua naskah tersebut diajukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama sejumlah mitra. Bo’ Sangaji Kai diusulkan bersama Yayasan Museum Samparaja Bima dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sementara Kidung Bhuwana Wināśa diajukan bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Gria Agung Mandara Pemaron, serta Gria Gede Belayu.

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa kedua naskah tersebut sebelumnya telah ditetapkan sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional (IKON). Melalui proses seleksi yang dilakukan tim Memory of the World Indonesia bersama tim IKON, keduanya dinilai layak untuk diajukan ke tingkat regional Asia Pasifik.

Menurut Aminudin, kekuatan utama kedua naskah terletak pada keunikan informasi dan nilai sejarah yang dikandungnya.

Bo’ Sangaji Kai, misalnya, tidak hanya merekam perjalanan dan perjuangan Kesultanan Bima, tetapi juga menyimpan kesaksian mengenai dahsyatnya erupsi Gunung Tambora pada 1815. Catatan tersebut menjadi dokumen sejarah penting yang memberikan gambaran tentang peristiwa besar yang pernah mengguncang Nusantara.

Sementara itu, Kidung Bhuwana Wināśa merupakan naskah autograf karya Ida Pedanda Ngurah yang merekam peristiwa Puputan di Klungkung. Selain memiliki nilai dokumenter, naskah ini juga mengandung kekayaan sastra yang tinggi.

“Kedua hal inilah yang kemudian dijadikan dasar bagaimana kita mengajukan sesuatu yang unik, yang tidak dimiliki oleh yang lain,” ujar Aminudin.

Ia menyambut positif pengakuan UNESCO tersebut sebagai bentuk apresiasi dunia terhadap kekayaan catatan sejarah dan karya intelektual masyarakat Indonesia. Menurutnya, pengakuan ini sekaligus membuktikan bahwa upaya pelestarian naskah kuno memiliki arti penting, bukan sekadar menjaga keberadaan fisiknya, tetapi juga melindungi pengetahuan dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

Namun, Aminudin mengingatkan bahwa pengakuan internasional tersebut bukanlah akhir dari upaya pelestarian. Sebaliknya, pencapaian ini harus menjadi momentum untuk semakin serius menggali, mengkaji, dan memanfaatkan isi naskah agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia berharap naskah-naskah tersebut dapat menjadi sumber rujukan pendidikan, termasuk dalam membangun karakter dan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah bangsa.

“Naskah ini perlu dimanfaatkan dan bisa menjadi sumber rujukan untuk pendidikan. Pendidikan karakter bagi bangsa kita,” tandasnya.

Sebagai langkah lanjutan, Perpusnas bersama para mitra akan mendorong pengolahan dan pengembangan kandungan pengetahuan dalam kedua naskah tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan isi naskah dalam bentuk bacaan yang lebih mudah diakses dan dipahami oleh generasi masa kini.

Dengan demikian, warisan dokumenter Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai koleksi berharga, tetapi juga dapat hidup sebagai sumber pembelajaran lintas generasi.

Aminudin menegaskan, naskah-naskah kuno Indonesia tidak cukup hanya dirawat dan disimpan. Kandungan di dalamnya harus terus digali agar nilai sejarah, kebudayaan, dan pengetahuannya dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Perpusnas bersama para mitra juga perlu bekerja lebih terampil dan kreatif, baik dalam mengembangkan pemanfaatan naskah maupun mengidentifikasi naskah-naskah lain yang berpotensi diajukan sebagai bagian dari Memory of the World (MoW),” pungkasnya.

Pengakuan UNESCO ini sekaligus menjadi pengingat bahwa lembaran-lembaran naskah kuno Nusantara bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan rekaman perjalanan peradaban, pengalaman, dan kearifan bangsa yang memiliki arti penting bagi dunia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU