JAKARTA, SHNet – Sekretaris Jenderal Dayak International Organization (DIO), Dr Yulius Yohanes, M.Si, mengatakan, konflik di Ukraina, merupakan duel strategi adu kuat Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) Rusia melawan Central Inteligence Agency (CIA) Amerikat Serikat.
Dalam mencermati perkembangan terakhir, demi stabilitas keamanan masyarakat Uni Eropa (UE) mesti melepaskan ketergantungan terhadap hegemoni Amerika Serikat (AS).
“Isu disebarkan Amerika Serikat, bahwa Rusia, akan melakukan invasi dengan Ukraina, telah membuat masyarakat Uni Eropa, terpecah, pro dan kontra,” kata Yulius Yohanes, Minggu, 20 Februari 2022.
Yulius Yohanes menanggapi jajak pendapat masyarakat Eropa dirilis Ivan Krastev, Ketua Pusat Strategi Liberal dan Mark Leonard, Direktur The European Council on Foreign Relation (ECFR), Rabu, 9 Februari 2022, dengan judul: “The crisis of European security: What Europeans think about the war in Ukraine”.
Telegrafnoie Agenstvo Sovietskavo Soyusa, TASS Russian News Agency, Sabtu, 19 Februari 2022, melaporkan, Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko, mengatakan tidak pernah membahas rencana “serangan” apapun terhadap Ukraina dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Alexander Lukashenko, mengatakan, Amerika Serikat dan Barat sebagai anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO), sudah kalah di babak pertama, dalam perang urat syaraf, gagal membangun opini public tentang Rusia yang diklaim sepihak akan menyerang Ukraina.
Ukraina adalah sebuah negara di Eropa Timur yang berbatasan dengan Rusia di timur dan timur-laut; Belarus di barat-laut; Polandia dan Slowakia di barat; Hongaria, Rumania, dan Moldova di barat-daya; Laut Hitam di selatan; dan Laut Azov di tenggara. Luas Ukraina, 603.548 kilometer persegi.

Ukraina adalah sebuah negara di Eropa Timur yang berbatasan dengan Rusia di timur dan timur-laut; Belarus di barat-laut; Polandia dan Slowakia di barat; Hongaria, Rumaina, dan Moldova di barat-daya; Laut Hitam di selatan; dan Laut Azov di tenggara.
Ukraina dan Rusia sekarang ini sama-sama memperebutkan Semenanjung Krimea yang dicaplok Rusia pada tahun 2014, meskipun demikian Ukraina dan banyak komunitas internasional mengakuinya sebagai bagian dari Ukraina.
Belarusia merupakan salah satu sekutu Rusia di Eropa Timur. Setiap kali muncul upaya Amerika Serikat berupaya merekrut Ukraina dan Georgia menjadi anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO), selalu mendapat tantangan keras Rusia, karena bentuk ekspansi militer asing di Eropa Timur.
Rusia mengerahkan 150.000 pasukan di sepanjang perbatasan Ukraina, karena negara pecahan Union of Soviet Socialist Republic (USSR) pada 25 Desember 1991, sebelumnya Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menginginkan untuk diterima menjadi anggota NATO.
Yulius Yohanes, mengatakan, kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat, telah menciptakan permusuhan dengan Iran, Rusia, dan Korea Utara, pasca pada 2 Agustus 2017, Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump, menandatangani undang-undang “Melawan Musuh Amerika Serikat Melalui Sanksi Undang-Undang”, Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (Hukum Publik 115-44) (CAATSA).
CAATSA diinisiasi Partai Demokrat karena Hilary Clinton kalah dalam “electoral vote” pada pemilihan Presiden Amerika Serikat, melawan Donald John Trump (Partai Republik), tanggal 18 Nopember 2016.
Hilary Clinton menyalahkan Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) James Comey dan campur tangan tim peretas sistem computer KGB Federasi Rusia yang mempengaruhi hasil perolehan electoral vote.
Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump, mengaku, dalam keadaan terpaksa menandatangani CAATSA pada 2 Agustus 2017, karena proses pembahasan undang-undang sudah terlewati, tapi pasal-pasalnya “cacat serius” yang berpotensi menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
CAATSA melegalkan sanksi baru Amerika Serikat terhadap Rusia karena campur tangan dalam pemilihan Amerika Serikat 2016 dan keterlibatannya di Ukraina dan Suriah.
Kendatipun sampai sekarang, tidak ada bukti tim peretas KGB Rusia merusak sistem computer yang berimplikasi mempengaruhi hasil electoral vote pemilihan Presiden Amerika Serikat, 18 Nopember 2016.
Akan tetapi faktor CAATSA, membuat Pemerintah Indonesia, menunda mendatangkan 11 unit jet tempur Sukhoi seri SU-35 senilai Rp16 triliun dari Federasi Rusia dengan nilai kontrak Rp16 trililunyang sudah ditandatangani kontrak pembelian pada Rabu, 14 Februari 2018, demi menjaga kelangsungan ekspor produk pertanian Indonesia ke Amerika Serikat.
Indonesia, malah pada Kamis, 10 Februari 2022, mengumumkan mendatangkan 42 unit jet temput Rafale dan 2 kapal selam Scorpene dari Perancis, dan 36 unit jet tempur F-15EX dari Amerika Serikat, periode 2022 – 2024.
Dikatakan Yulius Yohanes, sikap permusuhan Amerika Serikat, melalui CAATSA, antara lain memberlakukan sanksi baru terhadap Iran, Rusia, dan Korea Utara.
“Masalahnya, tidak sedikit sekutu Amerika Serikat sebagai sesama anggota NATO, memiliki hubungan baik dengan Rusia, seperti Perancis dan Jerman. Perancis dan Jerman, kesannya serba salah, menghadapi agitasi Amerika Serikat terhadap Rusia yang digembar-gemborkan akan menyerang Ukraina, kendatipun sampai hari ini, tidak ada buktinya,” kata Yulius Yohanes.
Dikatakan Yulus Yohanes, Uni Eropa sebagai anggota NATO, mesti mengevaluasi dari konsep geostrategic di dalam menjalankan geopolitik, setelah melihat kenyataan Amerika Serikat tidak berhasil memperalat separatis di Suriah, setelah Presiden Suriah, Bashar Al-Asyad didukung Rusia dan China.
“Ukraina ingin menjadikan anggota NATO, tapi ditentang keras Rusia, karena Ukraina diklaim sebagai bagian dari sejarah peradabannya, sementara Ukraina dan negara Eropa lainnya sangat tergantung dari suplai gas dari Rusia, mesti dijadikan acuan di dalam meninjau kembali relevansi konsep geostrategic Uni Eropa,” kata Yulius Yohanes.

Yulius Yohanes, mengatakan, “Kalaupun Rusia invasi Ukraina, mesti terlebih dahulu minta pendapat China, sebagai sekutu utama. Tapi, sudah hampir pasti, tidak akan diizinkan China. Karena invasi Rusia, merusak semua investasi China di Ukraina. Isu serangan Rusia ke China oleh Amerika Serikat, tidak lebih dari perang urat syaraf, semata.”
Hasil jajak pendapat ECFR
Jajak pendapat ECFR, merilis, krisis Rusia-Ukraina secara dramatis dapat mengubah cara berpikir orang Eropa tentang keamanan mereka.
Ada spekulasi luas tentang apakah Rusia akan menyerang Ukraina lagi – dan, jika itu terjadi, bagaimana reaksi orang Eropa.
Sebagian besar debat publik tentang krisis telah menggambarkan pemerintah Eropa terpecah, lemah, dan tidak hadir.
Namun, jajak pendapat Pan – Eropa yang dilakukan oleh Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri pada akhir Januari 2022 menunjukkan bahwa ada konsensus yang mengejutkan tentang krisis di kalangan pemilih Eropa.
Eropa di utara, selatan, timur, dan barat setuju bahwa Rusia kemungkinan akan menyerang Ukraina pada tahun 2022, bahwa negara-negara Eropa memiliki kewajiban untuk mempertahankan Ukraina, dan bahwa ini adalah masalah Eropa.
Jajak pendapat mencakup Finlandia, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Rumania, dan Swedia – negara-negara yang bersama-sama menyumbang hampir dua pertiga dari populasi Uni Eropa.
Ini menunjukkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah berhasil menempatkan pertanyaan tentang ketertiban keamanan Eropa di atas meja.
Yang mengejutkan banyak komentator – dan kemungkinan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sendiri – ini telah mendorong kebangkitan geopolitik di antara orang Eropa.
Hasil jajak penapat menunjukkan empat pengamatan mendasar: bahwa perang di Eropa tidak lagi terpikirkan; bahwa kita harus menanggapi agresi Rusia; bahwa ketakutan terbesar orang Eropa terkait dengan krisis berbeda dari satu negara ke negara lain; dan bahwa pemerintah Eropa perlu merencanakan berbagai kemungkinan untuk meringankan beban warga negara biasa.
Ada 4 kesimpulkan dari hasil jajak pendapat ECFR.
Pertama, jika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengancam Ukraina untuk memaksa orang Eropa memikirkan kelangsungan tatanan keamanan Eropa, dia telah berhasil.
Namun, dilihat dari hasil jajak pendapat terbaru The European Council on Foreign Relation (ECFR), Presiden Rusia mungkin terkejut bahwa sebagian besar orang Eropa tampaknya siap membela Ukraina.
Kedua, interpretasi tim jajak pendapat ECFR, terhadap hasil survei adalah bahwa orang Eropa akan melihat invasi Rusia lainnya ke Ukraina sebagai serangan tidak hanya terhadap negara tetangga tetapi juga terhadap tatanan keamanan Eropa itu sendiri.
Dan sangat mengejutkan bahwa begitu banyak responden – di utara, selatan, timur, dan barat – berpikir bahwa tatanan ini harus dilindungi.
Ketiga, apa yang mungkin tidak mengejutkan Presiden Rusia adalah bahwa, sementara orang Eropa siap untuk berdiri di belakang Ukraina, mereka kurang antusias membayar biaya keuangan untuk menghalangi Rusia.
Keempat, beberapa minggu ke depan akan menguji apakah orang Eropa dapat melakukan transisi dari dunia yang dibentuk oleh kekuatan lunak ke dunia yang dibentuk oleh ketahanan.
Cara mereka menghadapi ujian ini akan menjadi sangat penting bagi masa depan keamanan Eropa.
Vladimir Putin figure intelijen
Konflik di Ukraina, sekaligus menggambarkan figur Presiden Rusia Vladimir Putin, tokoh intelijen dan pernah 16 tahun bekerja Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB).
Banyak analis berpendapat, CIA Amerika Serikat sangat sulit menembus sumber informasi valid di Kremlin, karena faktor Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebagai mantan anggota KGB.

Figur Vladimir Putin, tidak bisa dilepaskan dari kesan terhadap kinerja KGB Rusia selalu dianggap melakukan praktik-praktik intelijen ilegal seperti mencuri data rahasia atau menghabisi orang-orang yang dianggap berbahaya di luar negeri.
Orang terakhir yang dianggap sebagai korban praktik intelijen Rusia adalah kritikus Kremlin yang paling terkenal Alexei Navalny.
Pada Agustus 2020 aktivis anti-korupsi itu diracun saat berada dalam pesawat dari Serbia menuju Moskow. Navalny yakin pemerintah dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang bertanggung jawab serangan racun terhadapnya.
Kremlin membantah keras tuduhan. Moskow segera menangkap dan memenjarakan Navalny ketika baru pulang dari Jerman usai menjalani pengobatan dan pemulihan dari serangan racun selama lima bulan. Kini Navalny divonis tiga setengah tahun penjara karena dianggap melanggar syarat penangguhan penahanan. Navalnya menyebut Vladimir Putin takut dan benci kepadanya.
Aksi intelijen KGB Rusia saat ini kerap dikaitkan dengan masa lalu Vladimir Putin yang lama bekerja sebagai intelijen KGB USSR.
Vladimir Putin bergabung dengan KGB pada 1975 ketika baru lulus dari fakultas hukum Leningrad State University. Karirnya sampai letnan kolonel sebelum Union of Soviet Socialis Republic (USSR) bubar terhitung, 25 Desember 1991.
Vladimir Putin pernah ditugaskan memata-matai orang asing di Leningrad selama beberapa tahun, pada awal 1980-an Putin ditarik ke Moskow untuk mengikuti pelatihan intelijen.
Vladimir Putin ditugaskan ke Dresden, Jerman Timur pada usia 32 tahun ketika negara itu masih menjadi fokus utama USSR.
Jerman Timur menampung sekitar 380 ribu pasukan Soviet dan rudal-rudal jarak menengahnya. Berlin juga sumber ketegangan antara USSR dan negara-negara Barat.
Beberapa ribu petugas KGB yang bertugas di sana melapor ke markas di Karlshorst pinggir Berlin.
KGB USSR menempatkan intelijen militer di Jerman Timur. Tetapi operasi intelijen terbesar di negara itu dijalankan oleh polisi rahasia pemerintah Jerman Timur yang disebut Stasi, mereka memantau pergerakan puluhan ribu warga dan menyimpan jutaan dokumen.
KGB kerap menggunakan jaringan Stasi yang luas dan mengirimkan bahan intelijen mentah mereka ke Moskow.
Kediktatoran Erich Honecker di Jerman Timur bertahan cukup lama walaupun ketika Mikhail Gorbachev mulai melakukan eksperimen politik dan reformasi ekonomi di Uni Soviet.
Hanya ada sedikit informasi yang dapat diketahui mengenai tugas Putin di Dresden. Tetapi sejumlah dokumen menunjukkan ia memiliki sejumlah penugasan termasuk merekrut dan menyiapkan agen.
Sebagian besar kerjanya melibatkan Robotron, sebuah perusahaan elektronik besar di Dresden yang menjadi produsen komputer dan pusat penelitian microchip terbesar Blok Timur.
Saat itu fokus utama KGB adalah mencuri teknologi negara-negara Barat. Blok Timur sangat tertinggal di bidang teknologi. Pakar Jerman mengatakan para agen Stasi memilih menggunakan komputer Amerika Serikat (AS), Commodore dibandingkan komputer mereka sendiri.
Saat itu Vladimir Putin terkenal karena mengirimkan para teknisi Blok Timur ke negara Barat atau merekrut orang-orang Barat dari Siemens dan International Business Machines (IBM) untuk datang ke Jerman Timur. Dari orang-orang Barat itu Putin juga dikabarkan mencari tahu tentang elektronik dan intelijen militer mengenai NATO.
KGB dikenal sebagai ‘teman’ Stasi dan mengandalkan bantuan polisi rahasia itu dalam aksi seperti membuat paspor atau SIM palsu yang digunakan membangun cerita rekaan mengenai tugas mereka di Jerman Timur. Puluhan ribu orang yang ditandai Stasi juga menjadi ‘ketertarikan’ KGB.
Menteri Keamanan Jerman Timur Erich Mielke mencoba menahan bantuan Stasi ke KGB yang akhirnya mengarah pada satu kasus di mana Putin diketahui terlibat di dalamnya.
Pada 29 Maret 1989 Mayor Jenderal Horst Bohm yang menjadi kepala cabang Stasi di Dresden menulis memo ke atasan Putin saat itu Jenderal Vladimir Shirokov. Sementara nama-nama lain dalam surat tersebut dihilangkan sumber mengatakan Vladimir Putin terlibat dalam kasus tersebut.
Bohm mengeluh KGB merekrut tentara cadangan Jerman Timur yang telah memasuki kehidupan sipil. Bohm mengatakan mereka ‘kerap’ direkrut sementara untuk misi khusus.
Vladimir Putin mengatakan salah seorang tentara cadangan mengatakan mengenai ‘pusat rekrutmen’ di Dresden dan diminta berbicara dengan dua orang warga sipil USSR.

“Pembicaraan ini turut membahas pelatihan khusus menggunakan alat komunikasi tanpa kabel dan juga misi singkat tiga bulan sekali setiap tahun,” kata Bohm dalam surat itu.
Namun Bohm mengeluh agen itu sudah bekerja untuk Stasi dan mendesak KGB untuk mundur. Ia mengatakan ‘tidak mustahil’ merekrut tentara cadangan Jerman Timur untuk menjalani pelatihan komunikasi tanpa kabel.
Bohm kemudian bunuh diri. Tetapi kemudian salah satu ajudannya Horst Jemlich mengatakan KGB ingin mendapatkan teknologi Barat.
Aspek membingungkan dan tak terjelaskan dari surat Bohm adalah apa yang ia singgung mengenai ‘intelijen militer’ Uni Soviet. Lembaga yang berbeda dari KGB, tempat Putin bekerja. Ada kemungkinan Putin mengincar operasi militer Barat.
Vladimir Putin sering meminta bantuan Stasi dalam urusan logistik seperti mendapatkan telepon yang mereka kendalikan dengan ketat dan apartemen. Tugas resmi Putin adalah mengelola ‘rumah persahabatan’ Uni Soviet-Jerman di Leipzig dan melakukan sejumlah tugas tapi tampaknya tugas-tugas itu hanya cerita rekaan untuk menutupi tugas yang sesungguhnya.
Kerja sama yang Vladimir Putin lakukan dengan Stasi membuatnya mendapat medali perunggu pada November 1987 dari petugas keamanan Jerman Timur. Tapi alasan penghargaan itu tidak diketahui.
Pada akhir 1980-an Putin pulang ke St Petersburg, Rusia untuk bekerja sebagai asisten rektor sebuah universitas selama satu setengah tahun. Ia mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan ‘hubungan internasional’. Tapi tampaknya itu juga hanya cerita rekaan.
Vladimir Putin masih bekerja untuk KGB dan merekrut dan memata-matai para mahasiswa. Vladimir Putin mengaku tidak ada yang mengetahui ia seorang mata-mata. Rektor universitas itu pun tidak tahu.
Sebenarnya tidak banyak yang diketahui mengenai sepak terjang Vladimir Putin selama di KGB.
Karirnya di dunia politik meroket saat keluar dari KGB dan membantu tokoh reformasi demokrasi USSR, Anatoly Aleksandrovich Sobchak, 1991. Vladimir Putin menjadi Presiden Rusia sejak 7 Mei 2000.
Operasi CIA dan USSR tuntuh tahun 1991
Sejarah mencatat, Rusia dan Amerika Serikat, saling bermusuhan yang sifatnya abadi. Usai Perang Dunia II, 1941 – 1945, dunia terseret dalam Perang Dingin (1945 – 25 Desember 1991), tetap membuat Rusia dan Amerika Serikat berhadap-hadapan.
Amerika Serikat berhasil merangkul China, membantu membangun reaktor nuklir tahun 1961 sebagai salah satu upaya melepas hegemoni Rusia. Karena Rusia tidak pernah menepati janji membantu China dalam membangun reaktor nuklir.
Keruntuhan USSR pada 25 Desember 1991, menurut banyak analis intelijen berkat operasi senyap CIA Amerika Serikat.
Wilayah USSR sedianya meliputi Baltik, Eropa Timur, kaukasus selatan, dan Asia Tengah seluas 22.402.200 kilometer persegi.
Setelah USSR bubar terhitung 25 Desember 1991, berubah menjadi Republik Federasi Rusia wilayahnya berkurang menjdi tinggal 17.075.400 kilometer persegi.
Muncul negara baru pecahan USSR, di wilayah Baltik ada Estonia, Latvia dan Lituania, di Eropa Timur ada Belarus, Maoldova dan Ukraina, di kaukasus selatan ada Armenia, Azerbaijan dan Georgia, di Asia Tengah ada Kazakhstan, Tajikistan, Turmenistan dan Uzbekistan dengan luas wilayah keseluruhan 5.326.800 kilometer persegi.
Pada 15 Desember 2016, mantan Presiden USSR, Mikhail Gorbachev, menuding CIA Amerika Serikat dan Barat telah ‘memprovokasi Rusia’ dan mengatakan runtuh pada tahun 1991 karena ‘pengkhianatan.’
Jumat, 24 Desember 2021, Mikhail Gorbachev, mengatakan, Washington menjadi “sombong dan percaya diri” setelah runtuhnya USSR pada 25 Desember 1991, dan ini membuat Amerika Serikat mendorong perluasan aliansi militer NATO.
Michail Gorbachev menanggapi dalam beberapa tahun terakhir Presiden Rusia, Vladimir Putin, semakin bersikeras mengatakan NATO melebar dengan semakin mendekati perbatasan Rusia.
Partai Demokrat di Amerika Serikat, selalu menjadi penyebab sikap permusuhan dengan Rusia. Dalam perspektif itu pula muncul tudingan sepihak, terjadi serangan siber Rusia yang mempengaruhi hasil pemilihan Amerika Serikat tahun 2016, sehingga Donald John Trump dari Partai Republik, terpilih sebagai Presiden.
Donald John Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, 2016 – 2021, disebut sebagai sebuah kecelakaan politik, berkat operasi senyap KGB Rusia, dengan meretas sistem computer panitia pemilihan di Amerika Serikat.
Konflik Suriah
Konflik di Suriah, merupakan pertarungan kepentingan Rusia dan Amerika Serikat. Ada sebuah teori konspirasi yaitu rencana pembangunan pipa gas. Ada rencana Amerika Serikat dan sekurunya untuk membangun jaringan pipa Gas Alam Cair, Liquefied Natural Gas (LNG) dari Qatar yang tersambung sampai ke Eropa.
Pipa membentang melalui Arab Saudi, Kuwait, dan Iraq. Qatar adalah eksportir LNG terbesar di dunia. Pada 2018, ekspor LNG Qatar mencapai 104,8 miliar meter kubik.
“Pipa sudah siap di Turki untuk menerima pasokan. Hanya saja ada penghalang yaitu Bashar Al-Assad, Presiden Suriah. Pada 2009, Presiden Suriah, Bashar al-Assad menolak proposal dari Qatar karena menjaga kepentingan sekutunya, yaitu Federasi Rusia,” sebut Felix Imonti, pengamat energy.
Menurut British Broadcasting Corporation, Federasi Rusia adalah pemasok gas utama di daratan Eropa. Sekitar 37% pasokan gas di Uni Eropa datang dari Rusia.
Qatar dan Turki yang sudah bersiap membangun jaringan gas, tentu gigit jari. Oleh karena itu, Presiden Suriah, Al-assad, harus disingkirkan.

Tapi Presiden Suriah, Bashar Al-asyad, tetap dalam posisi kuat, setelah merangkul Suku Kurdi duduk di dalam pemerintahan yang didukung Rusia.
Konflik terjadi di Ukraina, dalam persepektif itu. Ukraina menginginkan diterima menjadi anggota NATO, untuk melepas bayang-bayang dan upaya merebut kembali Semenjanjug Krima yang direbut Rusia tahun 2014.
Masalahnya, faktor soft power Ukraina, tidak mendukung untuk berhadap-hadapan dengan Ruia, karena Ukraina bersama Jerman dan Perancis, memiliki ketergantungan tinggi terhadap suplai gas biaya murah dari Rusia.
Faktor ketergantungan suplai gas, menjadi penyebab Barat tidak bulat mendukung Amerika Serikat melawan Rusia di Ukraina.*
Sumber: tass russsian new agency/the times of israel/reuters british news agency/british broadcasting corporation/the washington post

