9 May 2026
HomeBeritaKLHK Apresiasi Gerakan Kolekte Sampah Menuju Indonesia Bersih 2025

KLHK Apresiasi Gerakan Kolekte Sampah Menuju Indonesia Bersih 2025

SHNet, Bogor- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengapresiasi Gerakan Kolekte Sampah Indonesia, di Gereja Katolik Paroki BMV Katedral Bogor, Kamis (3/3/2022).

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya KLHK sekaligus Ketua Tim Pelaksana Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut, Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, di Indonesia, penanganan sampah dengan satu pendekatan saja, yakni teknologi, tidaklah cukup. “Perlu dilakukan pendekatan lain, mulai dari perilaku di rumah. Dengan memilah-milah sampah yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi industri daur ulang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah sampah pada tahun 2020 ada 67.8 juta ton. Tiap orang menghasilkan 0,7 Kg per hari. Khusus di Kota Bogor, 650 ton sampah per hari. Ia menambahkan, ada 3 cara pengurangan sampah dengan cara dikelola yakni, mengurangi penggunaan plastik, sirkular ekonomi artinya sampah tidak langsung dibuang langsung ke TPA, tetapi diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi, serta teknologi (sampah jadi energi, sumber listrik dan pengganti batubara)

“Kegiatan Pengelolaan sampah sebagai kegiatan yang mendekatkan dan merekatkan satu sama lain antar lintas agama dan budaya. Kita targetkan melalui Gerakan ini dapat memberikan dampak pengurangan sampah hingga 30% dan penanganan sampah 70% dari masalah sampah di Indonesia. Saya harap gerakan kolekte sampah ini bisa dimasukkan oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari pencapaian pengurangan di daerah,” kata Vivien.

Targetnya, tahun 2025, 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen penanganan sampah menuju Indonesia bersih.

Kolekte sampah bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya pengurangan sampah melalui pendekatan keagamaan serta membangun kemitraan antara Gereja Katolik dengan berbagai pihak guna mengembangkan Gerakan Kolekte Sampah Indonesia dalam mewujudkan pertobatan ekologis dan circular economy approach dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Acara ini juga mengundang perwakilan dari beberapa Gereja Katolik lainnya dengan harapan dapat menginspirasi gereja-gereja lainnya untuk mengaplikasikan Gerakan Kolekte Sampah di seluruh Indonesia.
Tahapan kolekte sampah dimulai dari yang pertama yaitu pemilahan sampah dari rumah, misalnya memisahkan dan mengumpulkan sampah yang berbahan kertas, kaleng , plastik dan logam. Selanjutnya, tahap kedua umat membawa sampah ke gereja dan memasukkannya ke dalam dropbox sebagai bentuk persembahan kepada gereja. Tahap ketiga adalah seksi ekologi gereja menerima sampah dan mencatat dan memilah sampah yang sudah ada di dropbox, seperti memisahkan label, tutup botol dan meremukkan botol kemudian menimbang beratnya. Kemudian sampah-sampah tersebut akan disalurkan kepada pihak-pihak yang mau menerima bahan-bahan untuk industri daur ulang.

Sementara itu, Walikota Bogor Bima Arya mengatakan, kolaborasi dan multidimensi merupakan kunci utama dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, kolekte sampah merupakan pendekatan keimanan yang menjadi powerfull menggerakkan orang.

“Persoalan pendekatan penanganan masalah sampah bukan hanya soal infrastuktur tetapi juga keimanan, jadi masalah sampah harus dilakukan secara komprehensif dan holistik. Dalam pelaksanaanya juga butuh nyali, konsistensi dan persitensi,” ujarnya.

Pemda Kota Bogor telah mengeluarkan berbagai kebijakan berkaitan dengan masalah sampah, salah satunya mengurangi pemakaian kantong plastik, kebijakan ini diawali dengan sosialisasi selama 1 tahun untuk sektor ritel, dan tahun ini akan diberlalukan di pasar tradisional.

“Pendekatan teologis semacam kegiatan kolekte sampah merupakan upaya untuk melengkapi pendekatan budaya dalam mengelola sampah. Pada akhirnya kegiatan semacam ini akan menguatkan kebangsaan kita, dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda untuk mengelola sampah Indonesia, “ tambahnya.

Dalam laporannya, RD Yosef Irianto Segu selaku Ketua Komisi Ekologi Keuskupan Bogor menyampaikan bahwa ”Melalui kegiatan ini kami mengajak umat untuk melakukan kolekte sampah sebagai bagian dari pertobatan ekologis. Selain itu, kami juga mengajak umat untuk mengalami edukasi baru bagaimana memandang sampah dan mengelola sampah. Sebagai bentuk upaya mencintai Tuhan, mencintai sesama dan alam sekitarnya.

Direktur Pengurangan Sampah, KLHK, Sinta Saptarina Soemiarno juga menambahkan, ”Setahun lalu telah diluncurkan program pengurangan sampah bernama Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) melalui jaringan masjid-masjid. Saat ini kita kembali melakukan kegiatan pengelolaan sampah berbasis agama melalui Gereja Katolik Keuskupan Bogor. Kedepan akan dilakukan di rumah-rumah ibadah lain. Semoga kegiatan ini dapat mengubah perilaku masyarakat dalam mengurangi sampah. Dan harapannya, kegiatan kolekte sampah ini tidak hanya dilakukan di Keuskupan Bogor saja, tapi dapat menginspirasi ke gereja-gereja lain di seluruh Indonesia”.

Mgr. Paskalis Bruno Syukur selaku selaku Uskup Bogor dalam sambutannya menyampaikan “Kami Gereja Katolik Keuskupan Bogor berusaha umat kami agar melakukan pertobatan ekologi, kami yakini iman tidak hanya terarah kepada-NYa saja tetapi dibuktikan juga kepada alam semesta, perilaku yang baik terhadap alam semesta itulah pertobatan ekologis. Mempunyi efek terhadap alam semsta ini, kalau kita berlaku baik kepada sesama kita pasti akan berlaku baik juga pada alam semesta ini, dalam hal ini fokus pada masalah sampah, tidak hanya membuang sampah, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, agar wilayah bogor tetap asri.”

“Hal ini juga penting untuk Indonesia, Indonesia yang asri adalah anugerah yang luar bisa dari Tuhan. Kita terpanggil untuk merawat rumah kita bersama, maka mari kita berjalan bersama merawat rumah kita bersama,“ kata Uskup Bogor tersebut.

Sebagai perusahaan yang menjalankan prinsip circular economy, Ronald Atmadja selaku Direktur Sustainability Mayora Group – Le Minerale menyatakan bahwa sinergi kuat antara multi-stakeholders adalah kunci sukses untuk membangun kesadaran dan kebiasaan baru masyrakat terhadap ekonomi sirkular. “Bersama mengedukasi, membimbing dan menjadi wadah adalah langkah penting untuk Gerakan Kolekte Sampah Indonesia dan Le Minerale memberi kontribusi kepada perkembangan ekonomi sirkular untuk Indonesia bersih,“ katanya.

Dalam kegiatan peluncuran Gerakan Kolekte Sampah Indonesia ini juga dihadiri Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama Dr. Aluma Sarumaha MA.Msi, Senior Adviser for Climate and Enviromental Governance UNDP Indonesia Abdul Wahid Situmorang dan Ketua Umum ADUPI (Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia) Christine Halim. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU