SHNet,Jakarta-Pegiat literasi sekaligus pendiri ruang baca “Baca di Tebete”, Kanti W. Janis menolak anggapan bahwa minat baca orang Indonesia termasuk peringkat terendah di dunia. Sebaliknya di amenegaskan, minat baca kita tinggi, bisa dilihat dari rasa keingintahuan masyarakat kita yang tinggi. Tercermin dari tingginya pemakai sosial media di Indonesia, sebagai 3 terbesar di dunia.
“Minat baca kita tinggi, bisa dilihat dari rasa keingintahuan masyarakat kita yang tinggi. Tercermin dari tingginya pemakai sosial media di Indonesia, sebagai 3 terbesar di dunia,” katanya dalam acara bertajuk “Membaca yang memberdayakan di Perpustakaan Publik” yang digelar di Baca di Tebet, Jakarta Sealatan, Rabu (9/3/2022). Bertindak sebagai host, Salma Indria Rahman seorang penulis dan pegiat literasi.
Menurut Kanti stempel rendahnyaminta baca orang Indonesia itu lahir dari data UNESCO yang dihitung secara tidak adil. Penelitian mereka menilai tinggi rendahnya minat baca sebuah bangsa dari rasio jumlah buku baru yang terbit pertahun dengan jumlah penduduk. Di Indonesia rasio 1 buku baru untuk 1 orang. Sementara standar UNESCO setiap 3 buku baru, untuk 1 orang.
Sekarang bukan permasalahan tinggi rendah minat baca yang perlu digarisbawahi, tapi apa yang dibaca dan seberapa jauh daya masyarakat memahami bacaan. Minat baca kita masih seputar rumor rumah tangga dan percintaan artis. Daya pemahaman masyarakat terhadap apa yang dibaca juga sangat rendah, dilihat dari banyaknya penyebaran berita paska kebenaran.
“Jadi permasalahan kita bukan minat baca tapi bagaimana meningkatkan daya baca yang rendah. Ketika salah mengidentifikasi masalah, maka kebijakan yang diterapkan juga salah, akibatnya fatal,” kata Kanti.
Menurut Kanti, daya baca yang tinggi sangat penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika kita tidak memahami apa yang kita baca, akan banyak berita palsu terproduksi, konsekwensinya akan tercipta banyak konflik di tengah masyarakat.
Daya baca adalah kemampuan memahami membaca. Mereka yang memiliki daya baca tinggi mampu:
▪︎Memilih bacaan yang tepat
▪︎Bisa berargumen secara sehat karena ada dasar dan ilmu pengetahuan di baliknya
Bahkan dengan daya baca yang tinggi, kita bisa menyembuhkan diri.
Kanti mencontohkan, para pendiri bangsa ini semua adalah pembaca kuat, sehingga mereka dapat memerdekakan bangsa ini. Haji Agus Salim, Bung Karno, S.K. Trimurti, semua adalah pembaca.
Perpustakaan Publik
Sementara pegiat literasi yang juga bersama Kanti W Janis mendirikan dan mengelola “Baca di Tebet”, sebagai Perpustakaan dan Ruang Temu untuk merawat pengetahuan Wien Muldian berbicara soal perpustakaan public.
Wien mengatakan, erpustakaan publik saat ini sudah berbeda jauh dengan konsep perpustakaan sebelumnya. Ada teknologi dan situasi normal baru saat pandemi ini yang membuat kita harus benar-benar kreatif agar perpustakaan bukan sebatas kumpulan buku tapi tempat orang bertemu dan bekerja sama dalam keberagaman. “Konsep itu yang juga diterapkan oleh perpustakaan Baca Di Tebet(BDT),” katanya.
Dijelaskan Wien, perpustakaan publik saat ini banyak ranah, fisik, tatap muka, tatap maya, proses belajar ke depan tidak hanya ruang di BDT saja tapi lintas negara. BDT diharapkan membawa manfaat bagi masyarakat di mana pun, meski tidak hadir secara fisik. Ruang publik tumbuh dari hal berbeda saling berinteraksi mengakses pengetahuannya.
“Perpustakaan tumbuh dalam keberagaman menjadi bagian interaksi dalam merawat pengetahuan bukan keseragaman. Mengelola pengetahuan, membangun daya baca dari kemampuan berbahasa.Keterampilan membaca termasuk di dalamnya, mendengar, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis,” papar Wien
Lebih jauh dikemukakan Wien, meningkatkan daya baca menjadi inti perpustakaan publik, sehingga lahir sumber berkualitas dari daya-daya lainnya, seperti:
– membangun daya manusia
– membangun daya pustaka/informasinya
– membangun daya teknologi
BDT menghasilkan pustaka budaya, keterampilan, karakter yang baik dan menghasilkan konten positif secara bersama. Perpustakaan Publik BDT mengajak membangun impian masing-masing dengan bekerja sama merawat pengetahuan.(sur)

