7 July 2022
HomeBeritaAlasan Beragamnya Pemakaian Kemasan Pangan

Alasan Beragamnya Pemakaian Kemasan Pangan

Jakarta-Secara umum, kemasan pangan berfungsi untuk melindungi produk terhadap pengaruh fisik (mekanik dan cahaya), kimiawi (permiasi gas, kelembaban udara/uap air), dan  biologik (bakteri, kapang). Banyak faktor pertimbangan bagi perusahaan makanan dan minuman dalam memilih kemasan untuk produk-produk mereka.

Dosen dan Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma, mengatakan hal pertama yang harus diperhatikan dalam memilih kemasan pangan itu adalah faktor keamanannya. Kedua, faktor perlindungan untuk produknya. “Itulah sebabnya ada beragam jenis kemasan pangan yang ada di pasaran. Bahan-bahan kemasan itu juga sudah memiliki spesifikasinya masing-masing,” ujarnya.

Dari sifat produk dan proses pengolahan produk pangannya, menurut Nugraha, ada kemasan yang tidak tahan terhadap panas dan ada yang tahan panas. Kemasan kaleng untuk sarden misalnya, itu proses pengolahannya harus dengan sterilisasi pada suhu yang sangat tinggi. “Jika sarden itu menggunakan kemasan plastik, itu tidak akan bisa, karena plastik itu tidak akan bisa seawet kaleng pada suhu tinggi. Jadi, pilihan kenapa sarden dikemas dengan kaleng, ya karena ketahanannya pada suhu tinggi itu,” ucap Scientific Advisor Indonesian Packaging Federation ini.

Setelah sterilisasi, lanjutnya, makanan kaleng itu juga harus benar-benar vakum dan hermetis agar udara, gas, dan mikroba tidak bisa masuk ke dalam kemasan. Sementara, semua jenis plastik itu tidak ada yang hermetis.  “Jadi, kemasan pangan itu harus disesuaikan dengan produknya,” tukasnya.

Pertimbangan lain yang menjadi alasan perusahaan pangan menggunakan kemasan pangan yang dipilih bagi produknya  adalah faktor bisnis yang sesuai dengan target pasar. “Misalnya, kalau produknya  murah dan memakai kemasan yang mahal, kan jadi tidak untung. Jadi, kita sesuaikan juga dengan target atau segmen pasarnya,” tuturnya.

Selian itu,  kata Nugraha, pemilihan kemasan itu juga tergantung pada target umur simpan dari produk pangannya. Dia mencontohkan untuk produk-produk snack seperti kentang atau singkong, kalau masa simpannya kurang dari satu bulan, itu cukup dengan menggunakan kemasan plastik Polypropylene (PP) yang bening. Tapi, kalau masa simpannya itu 3 bulan atau lebih, harus dipilih bahan kemasan yang bisa melindungi agar gas, uap air, dan oklsigen yang masuk seminimal mungkin.  Karena, snack adalah makanan yang rentan terhadap uap air dan oksigen dan ada resiko tengik. “Jadi, pertimbangan umur simpan juga sangat berpengaruh dalam memilih bahan kemasan, yang bertujuan untuk melindungi produknya dari kerusakan,” ucapnya.

Begitu juga dengan air minum dalam kemasan (AMDK). Menurut Nugraha, perusahaan AMDK tidak sembarangan dalam memilih atau menggunakan kemasannya, apakah itu dari bahan PET atau Policarbonat.  “PET itu cocok untuk kemasan AMDK yang untuk sekali pakai yang tidak perlu bahan yang kuat. Tapi, kalau Policarbonat, itu cocok untuk kemasan AMDK yang digunakan berulang karena plastiknya harus yang cukup keras sehingga tidak rusak saat dipakai berulang-ulang, dan kalau disikat juga tidak menimbulkan goresan,” katanya..

Jadi, kata Nugraha, memilih kemasan itu tidak sembarangan dilakukan. Ada alasannya kenapa perusahaan makanan atau minuman itu menggunakan kemasan untuk produk-produk mereka. “Dan soal keamanannya, itu kan sudah ada aturannya dari BPOM bahwa kemasan yang digunakan itu harus food grade,” ujarnya.

Vici Herlambang, Marketing Communication FlexyPack, perusahaan flexible packaging, mengatakan kemasan pangan berdasarkan tipenya terdiri dari kemasan primer dan sekunder.  Kemasan primer adalah kemasan yang bersentuhan langsung dengan produk pangannya seperti model kemasan standing pouch dan sachet. Sedang kemasan sekunder adalah kemasan yang melindungi kemasan primer. Kemasan ini misalnya digunakan untuk produk makanan, terutama makanan segar yang memiliki tingkat kebusukan dan kerusakan yang tinggi.

Kalau dari jenisnya, menurut Vici, kemasan pangan itu terdiri dari kemasan solid  atau kaku dan fleksibel. Kemasan solid yaitu bahan kemas yang bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan dab benturan, patah bila dibengkokkan, dan relatif lebih tebal dari kemasan fleksibel. Contohnya kayu, gelas, dan logam. Sementara, kemasan fleksibel yaitu bahan kemasan yang mudah dilenturkan dan tanpa adanya retak atau patah. Misalnya plastik, kertas, dan foil.

Kemasan juga bisa diklasifikasikan berdasarkan frekuensi pemakaian. Dalam hal ini, kemasan terbagi menjadi kemasan sekali pakai (disposable) dan kemasan yang dipakai berulangkali (multitrip). Contoh kemasan sekali pakai adalah bungkus plastik untuk es, permen, bungkus dari daun-daunan, karton dus minuman sari buah, dan kaleng hermetis, galon PET. Sedang kemasan yang dapat dipakai berulangkali (multitrip) contohnya botol minuman, botol kecap, botol sirup, dan galon Policarbonat.

Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan terdiri dari kemasan hermetis (tahan uap dan gas), kemasan tahan cahaya, dan kemasan tahan suhu tinggi. Kemasan  hermetis misalnya kaleng dan botol gelas yang ditutup secara hermetis. Kemasan tahan cahaya yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya kemasan logam, kertas, dan foil. Kemasan ini cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan vitamin yang tinggi, serta makanan hasil fermentasi, karena cahaya dapat mengaktifkan reaksi kimia dan aktivitas enzim. Sementara, kemasan tahan suhu tinggi, yaitu kemasan untuk bahan yang memerlukan proses pemanasan, pasteurisasi dan sterilisasi. Kemasan ini umumnya terbuat dari logam dan gelas.

Untuk aspek keamanan kemasannya, Vici mengatakan itu sudah dijamin food grade. Misalnya bahannya kaleng, dia mengatakan biasanya kemasannya dilapisi enamel yang bahannya sudah food grade, untuk melindungi metal dari kemungkinan terjadinya korosi karena kontak langsung dengan bahan makanan . Selain hal tersebut, enamel juga melindungi kontak makanan dengan metal yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan warna dan rasa .

“Jadi, kaleng itu hanya bahan luarnya, tapi bagian dalamnya kita pakai bahan yang food grade, jadi sudah dijamin aman. Jadi, kemasan pangan itu sudah kita jamin aman untuk makanan dan minuman. Untuk sertifikasinya, kita juga sudah dapat,” katanya. (cls)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU