SHNet, Jakarta-Pengusaha Hariyadi Budi Santoso Sukamdani meminta masyarakat agar benar-benar mencerna semua informasi terkait isu boikot yang dimuat di media-media maupun media sosial. Hal itu bertujuan agar masyarakat tidak terkecoh dengan adanya kampanye-kampanye negatif dari pihak-pihak tertentu yang memang sengaja memanfaatkan isu konflik Israel-Palestina untuk kepentingan bisnis mereka.
“Masyarakat yang memang sentimen terhadap pihak-pihak yang related sama Israel memang sangat tinggi di Indonesia. Tapi, ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan kampanye-kampanye negatif yang dilakukan buzzer seolah-olah mendukung boikot tapi memiliki tujuan lain untuk menjatuhkan perusahaan kompetitornya. Karenanya, masyarakat harus memiliki kematangan untuk mencerna setiap informasi mengenai boikot ini,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) ini kepada media baru-baru ini.
Adanya fenomena seperti ini, menurut pria yang pernah menjadi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia ini, bahkan mempertanyakan adanya isu-isu mengenai boikot yang dihembuskan oleh buzzer secara terus-menerus dan sepertinya membuat situasi menjadi panas. “Hal-hal seperti ini sebetulnya juga pernah kami sampaikan ke publik bahwa tindakan boikot ini harus dilakukan secara objektif tanpa tujuan-tujuan tertentu seperti untuk persaingan bisnis,” katanya.
Pasalnya, mantan Wakil Ketua Umum Kadin ini melihat ada keanehan terhadap produk-produk yang selama ini dihembuskan di media-media dan media sosial untuk diboikot. Dia mencontohkan seperti adanya upaya-upaya dari pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja membawa-bawa nama Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang seolah-olah merekomendasikan sejumlah nama produk yang harus diboikot masyarakat. “Padahal MUI sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut nama-nama produk yang disarankan untuk diboikot masyarakat. “Nah, di sini bisa kelihatan adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan isu boikot ini untuk kepentingan mereka,” ungkapnya.
Menurut Hariyadi, masyarakat seharusnya lebih konsen untuk memboikot kepada produk-produk yang jelas-jelas terfiliasi dengan Israel. “Kenapa perusahaan-perusahaan milik pebisnis Amerika Elon Musk yang sudah jelas-jelas mendukung Israel seperti WhatsApp, Facebook, X, Tesla, Starling tidak menjadi produk utama yang harus diboikot masyarakat. Kenapa perusahaan-perusahaan yang justru banyak masyarakat Indonesia bekerja di sana yang diboikot? Ini kan aneh dan harus dicermati masyarakat,” tukasnya.
Tapi, katanya, yang justru terkena sasar itu malah perusahaan-perusahaan retail yang franchise. “Padahal masyarakat Indonesia yang kerja di situ kan juga jumlahnya sangat banyak. Mereka juga justru memberikan bantuannya kepada rakyat Palestina di Gaza,” ucapnya.
Dia juga menyayangkan sikap pemerintah yang seolah-olah tidak mau melakukan penyelidikan terhadap buzzer yang menghembuskan rumor-rumor yang sengaja memanfaatkan isu boikot ini untuk kepentingan pihak-pihak tertentu . “Sampai hari ini nggak ada yang melakukan penyelidikan itu,” ungkapnya.
Sekalipun menurut Hariyadi, dampak dari upaya perusahaan-perusahaan tertentu yang ingin memanfaatkan isu boikot untuk menjatuhkan perusahaan lawan bisnisnya itu tidak terlalu signifikan. “Impactnya untuk mengambil market sharenya lawan bisnisnya itu juga enggak terlalu signifikan. Karena, yang penting bagi masyarakat itu kan harganya murah, barangnya bagus, se-simple itu,” tuturnya.
Di sisi lain, terkait adanya pernyataan seorang ekonom yang menilai penggunaan air minum dalam kemasan galon sebagai penyebab semakin banyaknya masyarakat kelas menengah menjadi jatuh miskin, Hariyadi dengan tegas membantahnya. “Itu ngga relate kalau suatu produk dikaitkan dengan kemiskinan. Karena masyarakat itu kan punya pilihan banyak untuk air minum,” katanya.
Dia menuturkan ada beberapa penyebab masyarakat kelas menengah itu turun ekonominya. Salah satunya adalah dampak Covid beberapa tahun lalu terhadap efisiensi di perusahaan termasuk pengurangan tenaga kerja yang masih belum pulih sepenuhnya hingga saat ini.
Kedua, dari sisi daya beli masyarakat terutama kelas menengah bawah yang semakin menurun. “Kalau daya beli turun, berarti penghasilan perusahaan retail juga turun, produksi pabriknya juga turun,” ujarnya.
Faktor ketiga yang menyebabkan ekonomi kelas menengah itu turun adalah ekspansi perusahaan yang sangat berat saat ini. Keempat, yang terkait dengan judi online. “Judi online ini ternyata menggerus keuangan kalangan masyarakat menengah bawah,” katanya. (cls)

