5 December 2025
HomeBeritaKesehatanAtasi Kasus Henti Jantung Mendadak, Brawijaya Hospital Gelar Pelatihan BHD

Atasi Kasus Henti Jantung Mendadak, Brawijaya Hospital Gelar Pelatihan BHD

SHNet, Jakarta — Kematian jantung mendadak bisa terjadi kepada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

dr. M. Yamin, Sp.JP(K), Sp.PD, FACC, FSCAI, FAPHRS, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah BraveHeart menjelaskan, kematian mendadak adalah kematian setelah satu jam gejala jantung atau 24 jam kemudian. “Hanya 10 persen korban henti jantung yang selamat. Setiap menit pertolongan pada orang yang henti jantung itu sangat bermakna,” ujarnya di sela-sela pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diselenggarakan oleh Brawijaya Hospital, di Jakarta, Minggu (9/11/2025).

Menurutnya, perlu dilakukan pelatihan kepada masyarakat untuk menangani korban henti jantung. Salah satunya adalah pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD).

Kegiatan pelatihan BHD yang dilakukan tim medis BraveHeart Brawijaya Hospital merupakan rangkaian program untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2025. Kegiatan yang bertajuk “Peduli Jantung Sehat, “Selamatkan Nyawa Sejak Dini” ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi gawat darurat, khususnya kasus henti jantung mendadak.

Beberapa tanaga medis BraveHeart Brawijaya Hospital Saharjo tampak cekatan melakukan pertolongan pada kasus pingsan mendadak. Sementara beberapa orang memperhatikan, dan dengan antusias mengikuti gerakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diperagakan pada sebuah manekin manusia.

Pelatihan dilakukan berulang-ulang hingga para peserta paham dan mengerti tata laksana menolong korban henti jantung mendadak, hingga bisa menyelamatkan nyawa korban.

Chief Commercial Officer Brawijaya Hospital Group, drg. Hestiningsih, SE, MARS mengatakan, pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen Brawijaya untuk membangun masyarakat yang tanggap darurat dan sadar kesehatan jantung.

“Penanganan cepat dalam hitungan menit bisa menyelamatkan nyawa korban henti jantung. Melalui pelatihan ini, kami ingin masyarakat awam memiliki pengetahuan dan keberanian untuk bertindak sebelum tenaga medis datang,” ujar Hesti.

Dalam kesempatan itu, Hesti juga menyarankan agar masyarakat sadar akan jantung sehat dengan mendeteksi dini risiko penyakit jantung.

“Deteksi dini adalah langkah penting untuk mencegah komplikasi serius, dan sudah saatnya masyarakat sadar akan hal itu,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, dr. Yamin juga mengungkapkan pentingnya pelatihan BHD bagi masyarakat awam. Sebab, lima menit pertama merupakan waktu yang sangat berharga bagi korban henti jantung mendadak.

“Jika seseorang paham atau sudah pernah mengikuti pelatihan BHD, dia harusnya bisa dengan cepat melakukan pertolongan, sehingga korban bisa terselamatkan. Untuk itu pelatihan BHD ini adalah hal yang sangat penting dilakukan, sayangnya tidak semua orang atau masih banyak masyarakat awam yang tidak mengetahui tentang BHD, oleh karena itu ini menjadi tanggungjawab moral bagi para medis juga pemerintah untuk mensosialisasikannya. Semakin banyak orang paham BHD maka akan semakin banyak nyawa tertolong,” tegas dr. Yamin.

Hal senada juga dikatakan oleh dr. Sugisman, Sp.BTKV (K), Konsultan Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, BraveHeart Brawijaya Hospital, dia bahkan mengapresiasi inisiatif BraveHeart Brawijaya Hospital dalam mengedukasi masyarakat mengenai BHD.

“Saya sangat mengapresiasi tim BraveHeart Brawijaya Hospital Saharjo yang sudah berinisiatif menggelar pelatihan BHD bagi masyarakat awam. Pelatihan BHD seharusnya menjadi agenda rutin di masyarakat. Pertolongan pertama oleh orang di sekitar sering kali menjadi penentu hidup dan mati seseorang sebelum bantuan medis datang,” tutupnya. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU