8 December 2025
HomeBeritaUpaya Aisyiyah Menghentikan Kesalahan Konsumsi Kental Manis pada Balita

Upaya Aisyiyah Menghentikan Kesalahan Konsumsi Kental Manis pada Balita

SHNet, Bekasi — Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) melanjutkan kegiatan pendampingan gizi bagi 40 balita di Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi. Program ini merupakan lanjutan dari pendampingan yang telah dilakukan sejak dua bulan sebelumnya, menyasar balita dengan kondisi stunting, wasting, serta anak-anak yang tinggal dalam keluarga penderita tuberkulosis (TBC).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan PP Aisyiyah untuk memperbaiki status gizi anak-anak di wilayah padat penduduk dengan keterbatasan akses terhadap makanan sehat. Mayoritas keluarga penerima manfaat merupakan pemulung dan pekerja harian yang mengandalkan penghasilan tidak tetap, sehingga pemahaman dan akses terhadap gizi seimbang masih menjadi tantangan.

Kebiasaan konsumsi kental manis dijadikan sebagai minuman susu anak menjadi salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam program ini. Salah satu peserta mengaku kedua cucunya yang sudah terbiasa minum kental manis sejak kecil. Kebiasaan itu awalnya muncul karena harganya yang terjangkau dan ketidaktahuan.

“Saya kira kental manis itu sama dengan susu, apalagi rasanya manis dan anak-anak suka,” ujarnya. Anak pertamanya, Andi (7 tahun), bahkan telah mengonsumsi kental manis sejak bayi. Harga yang murah membuat produk ini dianggap sebagai pengganti susu. Namun, kebiasaan itu kini sulit dihentikan.

“Sudah dicoba dikurangi, tapi Andi malah marah-marah kalau tidak dikasih. Dia bisa minum satu sachet setiap hari,” tutur nenek Andi. Akibat kebiasaan tersebut, Andi kini mengalami obesitas. Kondisi ini menjadi contoh nyata bagaimana miskonsepsi gizi bisa berdampak pada kesehatan anak di usia dini.

Menanggapi kasus tersebut, Kepala Puskesmas Ciketing Udik, Nurjanah, menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat bahwa kental manis bukanlah susu bergizi.

“Kental manis itu isinya lebih banyak gula. Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat sekarang, tapi dari sekarang hingga ke depan akan berdampak pada kesehatan anak,” jelasnya.

Nurjanah menambahkan, edukasi gizi tidak hanya penting bagi para ibu, tetapi juga bagi para kader posyandu dan kader Aisyiyah yang menjadi ujung tombak di lapangan.

“Kader-kader ini harus tahu mana makanan yang tinggi protein dan baik untuk tumbuh kembang anak, bukan makanan yang hanya mengandung gula. Mereka akan menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam memberikan pemahaman yang benar kepada warga,” katanya.

Perwakilan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Diah Lestari Budiarti, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan sekali, tetapi merupakan bagian dari pendampingan jangka panjang.

“Para kader Aisyiyah dan kader posyandu akan terus mendampingi warga sekitar. Kami ingin program ini berkelanjutan agar warga merasa selalu didampingi, tidak hanya saat program berlangsung, tetapi juga dalam perubahan kebiasaan sehari-hari,” ujar Diah.

Diah menambahkan, salah satu kunci keberhasilan pendampingan adalah pendekatan yang dilakukan secara personal melalui kader yang sudah dikenal masyarakat. Kader-kader inilah yang memahami dinamika sosial warganya, tahu bagaimana cara menyampaikan pesan kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan mampu membangun kepercayaan di tengah komunitas.

“Kalau sekadar datang memberi penyuluhan, biasanya pesan tidak akan sampai. Tapi kalau kader yang berbicara, mereka lebih didengar. Itulah kekuatan pendekatan berbasis komunitas,” imbuh Diah.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU