SHNet, Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, delegasi Tourism Ministerial Meeting mengapresiasi Indonesia sebagai tuan rumah kegiatan tersebut dan bertepatan dengan World Tourism Day ke-42.
“Indonesia memiliki 17 ribu pulau dan 400 bahasa. Walaupun banyak perbedaan pendapat, Alhamdulillah, rangkaian kegiatan yang dihadiri oleh 130 delegasi bisa dilaksanakan. Selain itu, Indonesia menjadi tuan rumah World Tourism
Day. 42 tahun baru hadir di Indonesia dan Bali jadi host World Tourism Day. Acara tersebut dihadiri lebih dari 200 peserta,” ujarnya di acara Weekly Briefing with Sandiaga Uno di Jakarta, Rabu (28/9).
Ia menambahkan, dalam pertemuan tersebut juga telah disepakati “Bali Guidelines”, dokumen yang fundamental dokumen yang fundamental bagi kebangkitan sektor pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Bali Guidelines menciptakan nuansa baru yakni lapangan kerja yang berkualitas,” kata Sandiaga.
“Bali Guideline”, sebuah kesepakatan yang akan menjadi panduan bagi negara anggota G20 hingga organisasi internasional dalam mendorong pemulihan pariwisata global.
Dikatakan Menparekraf, “Bali Guideline” akan dibawa pada saat puncak acara KTT G20 pada 15-16 November 2022 untuk ditindaklanjuti dan diteruskan pada G20 berikutnya yang diketuai oleh India.
“Bali Guideline” berisikan lima rencana aksi yang sebelumnya telah dibahas pada The 1st and 2nd Tourism Working Group telah dibahas selama lebih dari satu tahun bekerja sama dengan negara – negara anggota G20 dan UNWTO.

Lima line of action ini meliputi human capital yang berkaitan dengan pekerjaan, skills, entrepreneurship, dan edukasi. Juga terkait bagaimana SDM pariwisata mampu melihat kebutuhan dan keinginan pasar, menciptakan lapangan kerja baru, dan mampu menghadirkan nilai tambah dari produk atau jasa mereka.
Kedua, inovasi, digitalisasi, dan ekonomi kreatif. Fokus pada bagaimana masyarakat mampu lebih inovatif, kreatif, dan adaptif dalam memasuki tatanan ekosistem ekonomi digital, supaya pelaku ekonomi kreatif ini dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Ketiga women and youth empowerment. Dimana pemberdayaan perempuan dan generasi muda memiliki peran penting dalam kepulihan dan ketahanan masa depan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Keempat climate action, biodiversity conservations, dan circular economy, dimana penggunaan energi, tanah, air, dan sumber daya makanan pada sektor pariwisata dapat mengurangi emisi karbon.
Kelima, kerangka kebijakan, tata kelola, dan investasi, dengan fokus membuat kebijakan dan langkah-langkah pariwisata yang lebih holistik guna mendukung empat pilar line of action. (Stevani Elisabeth)

