Jakarta-Ketua Umum Bara JP, Willem Frans Ansanay menganggap wacana partai politik untuk mendorong kader sebagai pendamping Prabowo di Pilpres 2029 hanya tes ombak. Namun, hal itu sebagai sesuatu yang wajar bagi semua partai politik.
“Kami baru bertemu Pak Jokowi di Solo pada Jumat kemarin (13/2/2026) dan tidak spesifik membahas ini, bahkan Pak Jokowi merespon sebagai hal yang biasa,” jelas Willem Frans Ansanay di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
Dia menjelaskan, Bara JP ke Solo bukan untuk membahas wacana yang berkembang tapi hanya konsultasi rutin sebagai relawan untuk terus mengawal program pemerintah. Jadi, bukan bahas Pilpres yang masih jauh.
“Kami hanya fokus untuk mendukung berbagai program Prabowo-Gibran saat ini. Jadi bukan bicarakan agenda politik. Tapi karena ditanyai rekan-rekan wartawan ya kami hanya jawab dan jelaskan saja, tapi agenda kami dengan Pak Jokowi bukan soal capres atau cawapres karena itu masih lama. Sikap kami sudah jelas sejak awal untuk dua periode demi keberlanjutan program,” tegas Frans.
Secara pribadi, kata Frans, melihat dinamika partai politik yang bicara cawapres hanya sekadar cek ombak. Tapi, dalam negara demokrasi itu hal yang wajar dan biasa karena partai politik berkepentingan untuk membesarlan partai.
“Beda dengan kami sebagai relawan yang hanya melihat kalau keberlanjutan dan kepastian program itu sangat penting untuk kemajuan. Kita tidak maju-maju kalau gonta-ganti karena itu bisa menghilangkan momentum yang baik seperti saat ini,” ujar Frans.
Dia menjelaskan, keinginan ini juga berdasarkan hasil yang ditangkap relawan di lapangan. Berbagai program dari era Jokowi terus berlanjut sampai kini dan menunjukkan arah yang tepat meski ada tantangan karena situasi global.
“Sekarang ada semangat keberlanjutan dan persatuan yang baik. Ini sangat penting. Kalau ada yang terus berusaha untuk memisahkan Prabowo-Gibran ini berpotensi mengganggu konsentrasi dan soliditas yang sudah terjalin untuk menyukseskan berbagai program strategis,” katanya.
Untuk saat ini, jelas Frans, sebaiknya semua pihak konsentrasi untuk kerja nyata untuk mengeksekusi semua program seperti program MBG dan hilirisasi industri.
Program-program ini sangat bagus untuk mendongkrak ekonomi rakyat karena program MBG bukan hanya investasi generasi masa depan, tetapi menggerakkan pertanian, peternakan, lapangan kerja dan sebagainya. Jadi, program MBG itu motor penggerak ekonomi yang sangat bagus.
Selain itu, kata Frans, banyak pihak menyoroti dengan tuduhan menghamburkan anggaran. Ini tuduhan yang asal-asalan, karena investasi generasi masa depan merupakan langkah strategis untuk SDM yang tangguh.
“Saya kira di masa awal Prabowo-Gibran juga gencar efisiensi anggaran. Nah, hasil efisiensi ini yang dialokasikan untuk MBG dan sebagainya, sehingga aneh kalau ada narasi yang sengaja dibangun seperti itu. Jangan biasakan melontarkan kritikan tapi tidak punya dasar. Bagi kami, MBG dan Kopdes Merah Putih merupakan kombinasi ideal untuk ekonomi rakyat dari level rakyat,” tegas Frans.
“Kami hanya imbau agar jangan hanya fokus dengan soal kasuistis. Wajar tidak sempurna 100 persen karena ini program yang melibatkan jutaan orang dan juga belum lama dimulai, tapi tidak boleh terus menyebar energi negatif dan menutup mata capaian positif,” tegasnya.
Frans mengimbau semua relawan Bara JP agar tidak terprovokasi isu yang mencoba mengganggu kekompakan antara Pak Prabowo dan Mas Gibran. Sebab, hubungan keduanya saat ini sangat harmonis dan saling melengkapi.
”Jangan terjebak dalam skenario atau upaya yang merugikan soliditas bangsa,” katanya.(den)

