SHNet, Jakarta-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan Longsor Cipondok di Kecamatan Kasomalang Kabupaten Subang yang terjadi hari Minggu lalu diakibatkan intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan tidak oleh faktor lain. Karenanya, Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, meminta agar Walhi Jawa Barat (Jabar) tidak gegabah menuding adanya keterkaitan longsor ini dengan pengeboran yang dilakukan perusahaan air minum di sana.
“Untuk membuktikan itu perlu kajian yang mendalam. Harus betul-betul ke lapangan untuk melakukan survey dan lain sebagainya terhadap titik-titik pengeboran airnya. Jadi, butuh data yang langkah untuk menyimpulkan ke arah sana, dan itu tidak bisa dilakukan hanya dalam sehari saja,” ujarnya.
Jadi, lanjutnya, tidak semudah itu untuk menyimpulkan bahwa longsor yang terjadi di Kabupaten Subang itu akibat pengeboran air yang dilakukan perusahaan air minum di sana. “Karena realitanya, kejadian longsor itu memang terjadi karena ada faktor hujan yang intensitasnya sangat tinggi,” tuturnya.
Menurutnya, isu-isu hoaks memang acap kali dilakukan pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari setiap bencana yang terjadi. “Biasanya begitu ada bencana, mereka mencari unsur keuntungan atau manfaat dari situasi bencana yang dikait-kaitkan dengan bencana tersebut tanpa melakukan survey terlebih dulu,” katanya.
Hal senada juga dilontarkan Kepala Sub Koordinator Gerakan Tanah Wilayah Barat PVMBG Badan Geologi ESDM Sumaryono. Dia menjelaskan, sebelum dan saat terjadinya longsor, curah hujan di wilayah tersebut tengah mengalami anomali yakni mencapai 200 mm -tingkat hujan tersebut setara dengan kumulatif dalam 15-20 hari- yang kemudian masuk ke dalam cekungan itu.
Dia juga menjelaskan, secara morfologi, daerah tersebut memang rawan longsor dan kerap kali terjadi longsor. Sehingga longsor bukan karena sebab lain, seperti aktivitas perusahaan air minum di sana. “Jadi secara morfologi kawasan ini memang rawan longsor yang juga telah terjadi sebelum ada aktivitas perusahaan,” ucapnya.
Sumaryono menjelaskan, di titik kejadian tersebut sebenarnya pernah terjadi longsor, dan lereng terjal di lokasi tersebut secara morfologi menunjukkan sebagai longsoran lama. “Hanya yang kali ini lebih besar dan masih ada potensi longsor lagi. Di mana retakan juga masih ada di bagian atas lereng,” katanya.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahyudin, menyebutkan bahwa longsor yang terjadi di Kabupaten Sumedang ini bukan semata-mata karena intensitas hujan yang tinggi. Menurutnya, pemicu lainnya adalah karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh perusahaan air minum yang ada di sana, baik swasta dan PDAM.
Sebagaimana dilansir dari website Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan dari buku referensi panduan bencana longsor yang ditulis oleh Dr. Muzani, M.Si, terdapat dua faktor pemicu bencana tanah longsor yang bersifat dinamis yaitu curah hujan dan kemiringan lereng dan faktor statik yaitu antara lain tekstur tanah, jenis batuan dan struktur geologi. BMKG Subang menjelaskan, pemicu longsor Cipondok antara lain akibat curah hujan yang sangat tinggi pada hari Minggu. (cls)

