5 May 2026
HomeBeritaDibutuhkan Analisis Kimia Yang Cukup Canggih Untuk Menentukan Kadar BPA di Produk...

Dibutuhkan Analisis Kimia Yang Cukup Canggih Untuk Menentukan Kadar BPA di Produk Kemasan

SHNet, Jakarta-Untuk menentukan kadar Bisfenol A (BPA) dalam produk kemasan berbahan polikarbonat dibutuhkan analisis kimia yang cukup canggih. Saat ini belum ada satupun ahli kimia di Indonesia yang bisa menganalisis BPA sampai level 1 ppm (part per million).

“Jadi, itu (menganalisis kadar BPA) itu tidak gampang analisanya,” ujar Ahli Kimia Universitas Indonesia (UI), Dr. Asmuwahyu Saptorahardjo

Dia mengatakan alat-alat yang selama ini digunakan untuk menganalisis kadar BPA dalam produk pangan di Indonesia itu adalah untuk kebutuhan riset saja. Dan alat seperti ini menurutnya jarang digunakan untuk menghasilkan data publik. “Untuk menghasilkan data publik itu harus ada betul-betul suatu laboratorium yang bisa menggunakan piranti laboratoriumnya untuk menentukan residual BPA itu. Tapi, yang ada di Indonesia itu hanya sebatas piranti riset,” kata mantan dosen senior di Jurusan Kimia UI ini.

Jika data kandungan BPA dalam produk yang dilakukan  hanya untuk kebutuhan riset itu dipublikasikan, Asmu khawatir ada pihak-pihak tertentu yang menggunakannya untuk menggeser produk kompetitornya. “Dikhawatirkan, kalau itu dipublikasikan jadi menjurus kepada persaingan dagang jadinya. Padahal hasil riset itu kan sesuatu hal yang sulit untuk divalidasi. Kecuali yang melakukan analisis itu pihak ketiga yang betul-betul yang tidak terlibat sama sekali produk-produk yang berkompetisi,” tukas penemu teknologi bioplastic cassava ini.

Menurutnya, yang dibutuhkan itu sebetulnya adalah hasil dari suatu analisis industri mengingat yang diteliti itu adalah produk industri. Kata Asmu, itu yang kurang dikembangkan di Indonesia. “Makanya saya heran soal adanya publikasi beberapa waktu lalu yang menyebutkan adanya temuan kandungan BPA dalam air kemasan galon itu lebih besar dari 0,6 ppm. Itu analisisnya menggunakan alat apa? Karena memang untuk menganalisis bahan kimia dengan jumlah santa kecil itu umumnya tidak gampang,” ujarnya sembari tertawa.

Apalagi menurutnya, Indonesia belum memiliki standar sendiri yang bisa dijadikan acuan untuk menganalisa kandungan zat kimia dalam produk kemasan. Dia mengatakan standar-standar keamanan pangan yang ada di Indonesia itu selalu mengacu kepada standar internasional. “Sebab, dengan membandingkan terhadap standar itulah kita bisa menetapkan berapa besarnya konsentrasi di dalam sampel,” tukasnya.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan adanya kandungan BPA pada air minum kemasan galon (polikarbonat) di enam daerah di Indonesia. Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Medan Martin Suhendri menyampaikan, pada periode 2021-2022 pihaknya menemukan zat BPA ini dalam kadar berlebih (0,9 ppm per liter) yang terkandung pada air minum dalam kemasan galon. Padahal ambang batas yang ditentukan sebesar 0,6 bagian per sejuta (ppm) per liter.

Martin menyampaikan keenam daerah yang diduga tercemar BPA pada air minum kemasan galon di antaranya Medan, Bandung, Jakarta, Manado, Banda Aceh, Aceh Tenggara. “Hasil uji migrasi BPA pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang melebihi 0,6 ppm,” ujar Martin di Medan, Senin (12/9/2022) lalu.

Ia menjelaskan, tingginya kadar BPA ini sebanyak 3,4 persen ditemukan pada sarana distribusi dan peredaran. Sementara hasil uji migrasi BPA yang mengkhawatirkan, 0,05-0,6 ppm, menyebutkan 46,97 persen di sarana distribusi dan peredaran serta 30,19 persen di sarana produksi. Adapun uji kandungan BPA pada AMDK melebihi 0,01 ppm, 5 persen di sarana produksi serta 8,6 persen di sarana distribusi dan peredarannya. (cls)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU