2 May 2026
HomeOpiniPolarisasi dalam Komunikasi Massa Digital dan Peran Buzzer dalam Membentuk Opini Publik

Polarisasi dalam Komunikasi Massa Digital dan Peran Buzzer dalam Membentuk Opini Publik

Oleh Muhammad Abdan Syakuro (*)

Perkembangan media digital telah mengubah cara komunikasi massa berlangsung dalam masyarakat. Arus informasi yang sebelumnya dikendalikan oleh institusi media kini menjadi lebih terbuka, cepat, dan partisipatif. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena polarisasi opini publik yang semakin terlihat dalam ruang digital.

Polarisasi ini tampak dari bagaimana masyarakat terbelah ke dalam kelompok-kelompok dengan pandangan yang saling berlawanan. Perbedaan opini yang seharusnya menjadi bagian dari dinamika demokrasi justru berkembang menjadi pertentangan yang tajam. Dalam konteks ini, media digital tidak hanya menjadi saluran komunikasi, tapi juga ruang pembentukan persepsi.

Penulis berpendapat, polarisasi yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari cara kerja sistem media digital itu sendiri. Algoritma yang mengatur distribusi informasi cenderung memperkuat preferensi pengguna, sehingga individu lebih sering terpapar pada pandangan yang sejalan dengan dirinya.

Hal ini membuat ruang dialog menjadi semakin sempit dan memperkuat kecenderungan untuk melihat dunia dari satu perspektif saja. Fenomena ini sejalan dengan konsep echo chamber dan filter bubble, di mana individu cenderung berada dalam lingkungan informasi yang homogen.

Dalam situasi tersebut, paparan terhadap pandangan berbeda menjadi terbatas, sehingga memperkuat keyakinan yang sudah dimiliki sebelumnya dan memperdalam polarisasi. Ia menilai bahwa kondisi tersebut membuka ruang bagi munculnya aktor-aktor digital seperti buzzer.

Dalam praktiknya, buzzer tidak hanya menyebarkan informasi, tapi juga memainkan peran dalam memperkuat narasi tertentu agar terlihat dominan di ruang publik. Ketika sebuah pesan terus diulang dan disebarkan secara masif, publik dapat dengan mudah menganggapnya sebagai kebenaran, meskipun belum tentu melalui proses verifikasi yang memadai.

Dalam konteks ini, fenomena tersebut dapat dikaitkan dengan teori agenda setting, yang menjelaskan bahwa pihak yang mampu mengendalikan arus informasi memiliki pengaruh dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik.

Lebih jauh, penulis melihat bahwa fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran dalam komunikasi massa. Jika sebelumnya media berperan sebagai penyaring informasi melalui proses gatekeeping, kini fungsi tersebut banyak dipengaruhi oleh sistem digital dan kepentingan yang bermain di dalamnya.

Dalam situasi ini, opini publik tidak terbentuk secara alami, melainkan melalui proses yang kompleks dan terstruktur. Ia juga menekankan bahwa tantangan utama dalam komunikasi digital saat ini bukan hanya pada kecepatan informasi, tetapi pada kualitasnya. Ketika informasi yang beredar didominasi oleh narasi yang diperkuat secara terus-menerus, masyarakat berisiko kehilangan kemampuan untuk melihat isu secara objektif.

Dalam pandangannya, penguatan literasi digital menjadi hal yang penting untuk menghadapi kondisi tersebut. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, memahami konteks, serta tidak mudah terpengaruh oleh arus opini yang berkembang di media digital.

Dengan demikian, polarisasi dalam komunikasi massa digital dan peran buzzer tidak hanya mencerminkan perubahan teknologi, tetapi juga menunjukkan bagaimana ruang publik sedang mengalami transformasi. Dalam kondisi ini, kesadaran kritis menjadi kunci agar komunikasi digital tetap dapat berfungsi sebagai ruang yang sehat dan konstruktif.

(*) Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU