SHNet, Palangkaraya — Ada tantangan sosial yang muncul dari penggunaan internet dan media sosial, di samping keamanan dalam jaringan itu sendiri.
Diperlukan netiket sebagai landasan berinteraksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi secara positif di internet.
Demikian yang mengemuka dalam webinar bertema “Tips dan Trik Aman Berselancar di Internet” yang dipandu oleh Cokky Guntara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kemarin.
Webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi ini menghadirkan narasumber anggota Redaxi, Wildan; Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNIMAL, Kamaruddin Hasan; dan Marita Surya Ningtyas selaku narablog sekaligus pendiri Blogspedia Group.
Wildan mengatakan, jumlah pengguna internet di Indonesia awal tahun ini sudah mencapai 204,7 juta jiwa, berdasarkan data We are Social. Sebagian besar netizen menggunakan internet untuk mencari informasi.
Sementara itu, media sosial yang paling sering diakses yakni YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok. Kabar buruknya, netizen Indonesia dikenal sebagai pengguna internet dengan tingkat kesopanan paling rendah di Asia Tenggara.
Untuk itu, menurut Wildan, netizen Indonesia perlu mempelajari cara berinternet sehat dan aman.
“Bagaimana caranya berinternet sehat? Ciptakan dan tunjukkan perilaku yang baik, jangan sebar isu/rumor/gosip, bijak dalam berteman, saring sebelum sharing, serta terapkan disiplin berselancar di dunia maya,” terang Wildan.
Terkait budaya digital, Kamaruddin Hasan memaparkan, hidup dalam era digital penuh tantangan, antara lain menipisnya budaya Indonesia, misalnya berkurangnya penggunaan bahasa daerah.
Tantangan lain, yaitu kebebasan berekspresi yang kebablasan karena terbiasa memberikan informasi atau konten tanpa tabayyun. Sebaiknya bagikan hanya konten yang sudah melalui proses jurnalistik karena biasanya sudah melalui proses verifikasi. Lalu, ada masalah perbedaan dan toleransi.
Netiket perlu diterapkan dalam berinteraksi di dunia digital.
“Selain local wisdom seperti landasan ideologi dan agama, kita perlu punya kepekaan, kecerdasan sosial, dan berpikir kritis dalam merespons situasi. Penting juga menyadari bahwa perbedaan bangsa adalah eksistensi, anugerah dari Tuhan. Keberagamaan mestinya menjadi
solusi masalah kehidupan bernegara termasuk keberagaman,” katanya.
Pada sesi terakhir, Marita Surya Ningtyas menerangkan, dunia maya memunculkan standar baru karena menjadi ruang bertemunya berbagai budaya. Etika digital diperlukan agar pengguna internet bisa berkolaborasi.
Ruang lingkupnya mulai dari kesadaran, tanggung jawab, integritas, dan kebajikan. Hindari cara berinteraksi, partisipasi, dan kolaborasi secara negatif karena ada risiko UU ITE.
“Netiket menjadi prinsip cerdas berinteraksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi via internet.
THINK before posting. Saring sebelum sharing. Wise while online,” pungkasnya.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yangdisesuaikan pada kebutuhan masyarakat. (Stevani Elisabeth)

