16 July 2024
HomeNusantaraDKM Wajib Jaga Netralitas dan Berikan Pemahaman Islam yang Rahmatan Lil Alamin

DKM Wajib Jaga Netralitas dan Berikan Pemahaman Islam yang Rahmatan Lil Alamin

SHNet, JAKARTA – Tak bisa dipungkiri radikal terorisme sebagai ancaman nasional telah melakukan infiltrasi ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Kelompok ini secara cerdas masuk menjadi bagian dari masyarakat dengan menyalahgunakan berbagai sumber seperti tempat ibadah, lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, lembaga sosial kemasyarakatan hingga ruang-ruang digital.

Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (Ketum PBMA) KH Embay Mulya Syarief mengingatkan tentang pentingnya memberikan pemahaman kepada para pengurus Dewan Masjid, DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) untuk menjaga netralitas masjid. Itu penting agar masjid sebagai tempat ibadah tidak dijadikan panggung politik oleh siapapun.

“Berbicara bagaimana kita merangkul semua, kalau di masjid itu nggak boleh menjelekkan pemerintah, menjelekkan seseorang itu enggak boleh. Jadi perlu ada semacam penyuluhan kepada pengurus-pengurus DKM. Apalagi kalau DKM itu ada di wilayah misalnya BUMN atau instansi pemerintah lainnya, kan itu sangat ironis,” ujar KH Embay Mulya Syarief, Senin (11/9/2023).

Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten tersebut menyampaikan bahwa pengurus masjid agar memberikan pemahaman bahwa Islam yang benar itu adalah Islam agama yang Rahmat untuk sementara alam, bukan rahmatan untuk Muslimin.

“Bahkan Islam juga melarang kita untuk melakukan kekerasan. Bahasa pun kita harus wakulu linnasi husna (katakan kepada manusia perkataan terbaik}. Baru setelah itu ada perintah wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta (dirikan salat dan tunaikan zakat). Tapi diawalnya itu tadi wakulu linnasi husna. Jadi ini yang kurang dipahami,” tuturnya.

Dirinya menuturkan bahwa saat ini dirasa cukup sulit untuk membendung berita-berita dan konten-konten. yang berasal dari media sosial (medsos).
“Orang orang itu membuat konten agar viral dan kemudian dapat bayaran. Kan sekarang begitu kenyataannya. Mendramatisir sesuatu agar viral kemudian dia dapat bayaran. Pemerintah harus berani memblokir konten-konten (ideologi ekstrem) seperti itu,” ucapnya.

Menurutnya anak muda sekarang dapat dengan mudahnya mendapat informasi-informasi yang disalahgunakan untuk mempengaruhi ideologi ekstrem.

“Islam juga punya sejarah begini, bagaimana terjadi ketika pembunuhan kepada Amirul Mukminin Utsman bin Affan. Kan itu anak-anak muda yang diberikan pemahaman yang salah tentang Islam. Mereka akhirnya memberontak dan kemudian terjadilah pembunuhan kepada kepala negara. Itu anak-anak muda,” tutur Kyai Embay.

Oleh sebab itu anak-anak muda harus dipagari, mulai dari rumah, masyarakat dan kemudian pemerintah untuk bersama-sama. Pasalnya, sumber penyebaran ideologi ekstrem itu masif melalui medsos.

“Islam mengajarkan dari awal pada keluarga dulu ku anfusakum wa ahlikum, jaga dirimu dan keluargamu. Itu adalah ajaran Islam dimana yang jadi masalah saat ini masih banyak keluarga yang belum memahami itu.

Menurutnya, kebanyakan masih banyak keluarga kurang menganggap pendidikan agama itu penting. Sehingga kemudian muncul berita seperti anak bunuh orang tua, orang tua bunuh anak, suami bunuh istri atau istri bunuh suami. Itu terjadi karena mereka semua tidak paham agama.

“Ada survei, bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini, 65% itu buta huruf Al Quran. Artinya tidak paham sama sekali. Padahal Al-Qur’an itu isinya apa sih? Isinya 85 % tentang akhlak,” pungkas Kyai Embay.  (Non)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU