Jakarta-Menyebarluaskan pengetahuan dan informasi tentang menyusui adalah konsen utama dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Organisasi nirlaba berbasis kelompok sesama ibu menyusui ini hanya ingin meningkatkan angka ibu menyusui di Indonesia.
Sekretaris AIMI Jawa Barat, Rama, mengatakan edukasi pertama yang diberikan AIMI itu adalah seputar ilmu menyusui itu sendiri. “Bagi pemikiran orang awam, menyusui itu sesuatu yang natural yang bisa dengan sendirinya dlakukan. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, banyak juga ibu-ibu yang menyusui itu menemui tantangan yang sebenarnya bsa diminimalkan dengan kita menyiapkan ilmunya dulu,” katanya.
Selain memberikan ilmu pengetahuan, menurut Rama, AIMI juga memberikan informasi tentang dukungan terhadap ibu menyusui, baik itu dari pihak masyarakat, perusahaan, pemerintah atau dari fasilitas kesehatan. “Selama ini, mungkin ada yang belum mengetahui bahwa ada ruang laktasi yang disediakan di beberapa tempat layanan pemerintahan. Selain itu, memberikan informasi bahwa ada bentuk dukungan misalnya dari pemerintah berupa konseling buat ibu-ibu menyusui melalui posyandu,” tukasnya.
AIMI juga mensosialisasikan tentang pelanggaran-pelangaran yang dilakukan oleh produsen. “Pelanggaran yang menjadi konsen kami adalah pelanggaran kode internasional pemasaran produk pengganti ASI. Pelanggaran ini menitikberatkan pada promosi yang tidak etis. Salah satunya adalah pemberian sampel gratis kepada ibu melahirkan,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, AIMI juga konsen terhadap masalah gizi dan nutrisi anak. Dalam hal ini, kata Rama, AIMI bergerak untuk mengedukasi makanan pendamping (MP) ASI yang baik dan benar, yaitu yang sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan mengenai gizi seimbang. “Di pengetahuan tentang ASI sendiri, kami juga memasukkan tentang apa saja nutrisi yang dibutuhkan ibu menyusui yang sama dengan pedoman tentang gizi seimbang,” tuturnya.
Kepada para ibu, AIMI juga mengedukasi dan mendorong para ibu untuk lebih bijak memilih makanan yang akan dikonsumsi oleh anak-anak mereka. Dalam hal ini makanan ultra proses atau makanan instan. “Kami mendorong para ibu untuk belajar bagaimana cara membaca tabel nutrisinya,” katanya.
Untuk penggunaan air seperti air galon, menurut Rama, tidak ada masalah. Yang penting, katanya, sesuai dengan persyaratan air layak minum, dimana airnya tidak berbau dan tidak berasa. “Menurut saya, kalau memang air galonnya memenuhi persyaratan, nggak masalah untuk digunakan. Tapi, yang kami ingatkan adalah pemberian air putih itu tidak bisa diberikan untuk bayi berusia 6 bulan karena masih harus mengkonsumsi ASI eksklusif,” ujarnya.
AIMI Cabang Bekasi juga memiliki konsen utama serupa dalam kegiatannya, yaitu memberikan edukasi terkait ibu menyusui. Wakil Ketua AIMI Bekasi, Winny Nizia, mengatakan AIMI Bekasi mengintensifkan sosialisasi pentingnya kebutuhan Air Susu Ibu (ASI) bagi tumbuh kembang anak. “Kami juga mengunjungi perusahaan-perusahaan yang ada di Bekasi dan mengadvokasi mereka agar mau menyediakan ruang-ruang laktasi untuk para pekerjanya yang masih memiliki bayi,” katanya.
Selain itu, kata Winny, AIMI juga mengedukasi para ibu yang memiliki bayi mengenai pola makan gizi seimbang. “Ini penting agar para ibu yang memiliki bayi memiliki nutrisi yang baik dalam tubuhnya, sehingga memiliki kekuatan untuk bisa memberikan bayinya ASI,” tukasnya.
Untuk konsumsi air, dia mengatakan khusus untuk bayi yang baru berusia 6 bulan tidak diperbolehkan untuk memberikan air putih. Menurutnya, bayi berusia 6 bulan harus diberikan ASI eksklusif dari ibunya. “Namun, justru bagus kalau mengkonsumsi banyak air. Yang penting air itu bersih dan sudah sesuai dengan persyaratan kesehatan seperti air galon,” katanya. (DN)

