SHNet, Jakarta– Banyak orang Indonesia rela mengeluarkan koceknya untuk berobat ke luar negeri.
Mungkin mereka berpikir di luar negeri, dokter-dokternya berkualitas dan didukung oleh peralatan medis berteknologi canggih.
Namun, tidak semua orang Indonesia yang berobat ke luar negeri berhasil sembuh. “Terbukti ada pasien yang gagal di Penang balik ke Indonesia pasang ring,” ujar Dr. dr. Todung Donald Aposan Silalahi, Konsultan Cardiologi Intervensi di sela-sela Cardiac Forum Jakarta 2025 yang diselenggarakan oleh BraveHeart Brawijaya Hospital, di Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Dr. Todung juga menyinggung bahwa masih banyak masyarakat yang berobat ke luar negeri hanya karena kurangnya informasi. Padahal, menurutnya, Teknologi di RS brawijaya khususnya di Braveheart yang terletak di RS Brawijaya Saharjo lantai 8 jauh lebih tinggi daripada rumah sakit di Penang, dan beberapa pasien bahkan kembali dari Penang setelah gagal dipasang ring.
Sementara itu, Devin Wirawan, CFA., Presiden Direktur dan CEO Brawijaya Hospital Group, menjelaskan bahwa forum ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dokter Indonesia serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kesehatan regional. “Tujuan kami adalah menyediakan ruang bagi dokter-dokter hebat Indonesia untuk bertumbuh, berinovasi, dan meningkatkan prestasi,” ujarnya.
“Dengan kolaborasi dan forum seperti ini, kami ingin bukan hanya mencegah orang Indonesia berobat ke luar negeri, tetapi juga menarik pasien dari negara lain untuk berobat ke Indonesia.”
Devin menegaskan bahwa banyak pasien luar negeri berhasil ditangani oleh dokter-dokter lokal setelah sebelumnya gagal ditangani di luar negeri. Ia mencontohkan kasus pasien yang tidak berhasil ditangani di Malaysia namun pulih setelah ditangani oleh dr. Yamin.
BraveHeart menjadi salah satu layanan unggulan, didukung 15–20 dokter spesialis terbaik. “Ke depan, kami akan membuka 1–2 rumah sakit baru per tahun. Tugas kami adalah menyediakan fasilitas terbaik, meng-upgrade dokter-dokter kami, dan memperkuat kepercayaan masyarakat bahwa kualitas kesehatan di Indonesia tidak kalah dari luar negeri,” tambah Devin.
High Quality PCL
Dalam paparannya, Dr. Todung Donald Aposan Silalahi, Konsultan Cardiologi Intervensi , menyoroti perkembangan High Quality PCI (Percutaneous Coronary Intervention) yang kini telah banyak tersedia di Indonesia, termasuk di Brawijaya Hospital.
“Sekarang bukan hanya sekadar kateterisasi. Kita melakukan pemasangan stent dengan IVUS, FFR, rotablasi untuk kalsifikasi berat, hingga penggunaan stent berkualitas tinggi,” jelasnya.
Salah satu kasus yang paling menantang adalah kronik total oklusi—sumbatan 100%.
“Dengan alat yang lengkap, kami berhasil membuka sumbatan hingga 100% dan memasang stent,” tambahnya. (Stevani Elisabeth)

