11 July 2026
HomeLIFESTYLE"I DO", Bahas Fenomena Kegagalan Rumah Tangga dalam Ilmu Konstelasi Keluarga

“I DO”, Bahas Fenomena Kegagalan Rumah Tangga dalam Ilmu Konstelasi Keluarga

SHNet, Jakarta – Pernikahan zaman sekarang telah memasuki tren baru. Angkanya secara konsisten mengalami penurunan, perceraian kian meningkat, dan pemberitaan tentang KDRT seolah tiada ujungnya.

Semua ini tak pelak membuat orang bertanya-tanya, apakah pernikahan seburuk itu?
Tidak, jika itu dengan pasangan yang tepat dan hubungan yang sehat.

Fenomena kegagalan rumah tangga sendiri, dalam ilmu family constellation atau konstelasi keluarga, dipahami sebagai akibat tidak pulihnya pola rantai toksik yang diwariskan orang tua dan leluhur.

Oleh karenanya, mengenali pasangan, keluarganya, dan histori diri sendiri sudah sepatutnya menjadi kewajiban sebelum memasuki hubungan jangka panjang.

Hal tersebut dipaparkan oleh Terapis Konstelasi Keluarga, Meilinda Sutanto dalam bukunya “I Do” yang diluncurkan di Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (05/07/2024).

Meilinda berpesan kepada para orang tua untuk tidak menahan restu kepada anaknya.

“Jangan pernah menahan doa restu untuk anak. Selain itu, penting sekali terima menantu sebagai bagian keluarga. Kadang masalah-masalah ini bisa menyebabkan keguguran dan susah hamil,” ujarnya.

Buku “I DO” merupakan karya kedua dari Meilinda Sutanto. Buku pertamanya yang berjudul “Family Constellation” jadi best seller dan sempat dicetak ulang sebanyak empat kali sepanjang tahun 2023 lalu.

Diterbitkan oleh Gramedia dan Elexmedia, buku ini bukan membahas tentang bagaimana menciptakan wedding seindah tema fairy tale, melainkan memandu pembacanya untuk mengenali dan memutus trauma turun-temurun yang berpotensi merusak hubungan.

Dengan metode konstelasi keluarga yang dapat mengidentifikasi masalah ke akar, temukan jalan untuk membangun, membina, dan mentransformasi hubungan berpasanganmu menjadi lebih sehat, intim, dan memuaskan.

Tema relationship diangkat dalam buku kedua ini mengingat betapa pentingnya setiap pasangan untuk dapat menciptakan dan menjaga hubungan sehat sebagai fondasi kuat saat membangun dan membina rumah tangga.

Fase penting yang tidak dapat dilewati begitu saja, dalih-dalih langsung menjajaki urusan parenting atau “yang penting anak” yang bisa berdampak negatif baik dalam perkembangan anak, maupun terhadap karir dan tingkat kepuasan dalam hidup.

Seiring dengan berjalannya waktu, cinta dan pernikahan berevolusi sesuai jaman. Ketika jaman dulu pernikahan dianggap sebagai sarana atau alat untuk bertahan hidup bagi seorang Perempuan, jaman sekarang pernikahan menjadi pilihan dan bukan keharusan. Disini pentingnya bagaimana kita bisa menavigasi perubahan yang terjadi dalam masyarakat ini karena makna kebahagian bagi setiap orang berbeda.

“Buku ini cocok bagi siapapun yang
Mau mempersiapkan kehidupan bersama setelah mengikat janji pernikahan. Buku ini juga dimaksudkan supaya hubungan kita dengan pasangan tumbuh lebih baik dan lebih baik lagi,” kata Meilinda.

Sedang dalam tahap berpacaran serius maupun tidak serius
Skeptis atau bahkan tidak percaya dengan pernikahan.

Berniat untuk menjalin hubungan, tetapi terkendala waktu, tanggung jawab, atau trauma.

Telah bercerai dan ingin memulai kehidupan berpasangan lagi
Telah menikah, tetapi merasa hubungan penuh perjuangan atau bahkan hambar

Diharapkan, mereka yang membaca buku “I DO” dapat lebih menyadari betapa pentingnya menciptakan kebahagiaan versi masing-masing. Ketika harus memilih untuk single, menikah, cerai, atau menikah lagi, pilihlah untuk Bahagia!

Buku “I DO” karya Meilinda Sutanto bisa didapatkan di seluruh toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU