SHNet, Jakarta-Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menegaskan tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan serius di Tanah Air. Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa beban TB Indonesia masih sangat besar dan membutuhkan komitmen lintas sektor.
“Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia sebagai negara dengan beban TB tertinggi, setelah India, dengan estimasi sekitar ±1,1 juta kasus baru setiap tahunnya,” demikian disampaikan dalam keterangan resmi PDPI, Selasa, 3 Maret 2026.
Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025 yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara global diperkirakan terdapat sekitar 10,7 juta kasus TB dengan lebih dari 1,2 juta kematian setiap tahun. Di Indonesia sendiri, hingga akhir 2025 tercatat lebih dari 600.000 kasus TB terdeteksi dan masuk dalam sistem nasional, namun angka tersebut masih belum sepenuhnya mencapai estimasi penemuan kasus tahunan.
PDPI menilai kesenjangan antara estimasi kasus dan angka deteksi menunjukkan masih adanya penderita TB di masyarakat yang belum terdiagnosis. Kondisi ini berpotensi memperpanjang rantai penularan di komunitas.
“Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara estimasi kasus dan kasus yang terdeteksi, yang berarti masih ada penderita TB di masyarakat yang belum terdiagnosis dan berpotensi menularkan penyakit,” tulis PDPI dalam rilisnya.
Organisasi profesi ini menegaskan bahwa TB bukan semata persoalan medis, melainkan juga masalah sosial dan ekonomi. Penyakit ini banyak menyerang kelompok usia produktif sehingga berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga serta produktivitas nasional.
Stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB juga dinilai masih menjadi hambatan deteksi dini dan keberhasilan terapi. Meski pengobatan telah ditanggung melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pasien kerap menghadapi biaya tidak langsung seperti kebutuhan nutrisi, transportasi, dan kehilangan pendapatan.
“TB bukan aib. TB bukan kutukan. TB adalah penyakit medis yang dapat diobati sampai sembuh bila ditangani dengan benar,” tegas PDPI.
Selain beban kasus yang tinggi, PDPI juga menyoroti ancaman Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO). Pengobatan yang tidak tuntas dan keterlambatan diagnosis resistensi berkontribusi pada meningkatnya kasus TB-RO yang memerlukan terapi lebih lama, lebih kompleks, dan biaya jauh lebih besar.
Dalam rangka percepatan eliminasi TB 2030, PDPI mendukung penguatan deteksi dini melalui skrining aktif pada kelompok berisiko, penggunaan tes cepat molekuler sebagai standar awal pemeriksaan, serta perluasan terapi pencegahan TB. PDPI juga mendorong penguatan sistem pencatatan dan pelaporan nasional serta kolaborasi multisektor untuk memastikan eliminasi TB. ***

