SHNet, Jakarta-Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) saat ini bukan lagi hanya sekadar barang konsumsi biasa, melainkan kebutuhan dasar masyarakat yang terkait langsung dengan kesehatan dan keselamatan. Karenanya, jika terjadi kelangkaan terhadap komoditas ini, pasti akan menimbulkan keresahan di masyarakat.
Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara), Karyanto Wibowo mengkhawatirkan akan terjadinya kelangkaan pada komoditas AMDK ini jika Pemerintah mengerem pendistribusiannya ke masyarakat dengan memberlakukan pelarangan truk sumbu 3 atau lebih pada saat momen Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru 2027/2027) mendatang. “Karenanya, AMDK ini perlu dikecualikan dari pembatasan operasional angkutan selama periode Nataru 2026/2027 mendatang karena sudah menjadi kebutuhan dasar yang terkait langsung dengan kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Dia mengatakan air minum bersih dan aman merupakan kebutuhan dasar dan esensial bagi tubuh manusia. Jadi, lanjutnya, air minum bersih dan aman itu berbeda dengan banyak kategori FMCG (Fast-Moving Consumers Good) lainnya, yang dapat ditunda. “Karenanya, air minum bersih dan aman itu harus tersedia setiap saat,” katanya.
Dia mengutarakan pelarangan terhadap truk sumbu 3 di industri AMDK saat momen Nataru 2026/2027 mendatang bisa menyebabkan gangguan distribusi yang dapat langsung berdampak pada akses masyarakat terhadap air minum yang aman. Karena, dia memperkirakan adanya peningkatan permintaan yang signifikan selama Nataru nanti. Menurutnya, hal itu terjadi karena terjadinya peningkatan mobilitas masyarakat, wisatawan, dan aktivitas mudik saat liburan Nataru nanti. “Kebutuhan air minum di terminal, bandara, pelabuhan, rest area, tempat wisata, hotel, rumah sakit, dan fasilitas publik pasti meningkat secara signifikan. Jadi, jika dilakukan pembatasan terhadap truk pengangkut AMDK itu, distribusinya akan terhambat dan berpotensi menyebabkan kelangkaan di titik-titik dengan permintaan tinggi,” ucapnya.
Sementara, menurutnya, hidrasi yang cukup merupakan bagian penting dari keselamatan perjalanan jarak jauh. Artinya, lanjut Karyanto, ketersediaan air minum yang memadai akan sangat membantu mencegah dehidrasi, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. “Karenanya, kelancaran distribusi AMDK yang merupakan produk dengan standar keamanan dan kualitas yang terjamin sangat dibutuhkan masyarakat saat Nataru nanti,” tukasnya.
Dia juga mengungkapkan bahwa AMDK itu merupakan kategori barang yang mendukung layanan publik. Di mana, AMDK digunakan secara luas oleh rumah sakit, fasilitas kesehatan, instansi pemerintah, TNI/Polri, kegiatan sosial, serta penanganan keadaan darurat. “Jadi, ketersediaannya juga mendukung berbagai layanan publik selama masa Nataru nanti,” tuturnya.
Karenanya, dia berharap agar AMDK itu dimasukkan dalam kategori pengecualian dalam kebijakan pelarangan operasional truk sumbu 3 atau lebih saat Nataru nanti. Kata Karyanto, pengecualian terhadap AMDK ini dapat diberikan secara terbatas dan terkontrol. Artinya, menurut dia, pengecualian ini dapat diberikan secara selektif untuk armada yang telah terdaftar, untuk rute distribusi prioritas dan pada waktu tertentu sesuai arahan pemerintah, serta tetap mematuhi seluruh ketentuan keselamatan dan peraturan lalu lintas yang berlaku. “Dengan demikian, kelancaran arus mudik tetap terjaga tanpa mengorbankan ketersediaan air minum yang aman bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Apalagi, menurutnya, jumlah armada AMDK relatif kecil dibanding total kendaraan logistik nasional. “Artinya, dampak terhadap kepadatan lalu lintas jauh lebih rendah dibanding manfaat yang diberikan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Terkait permintaan Pemerintah untuk melakukan stok jauh sebelum periode pelarangan, menurut dia, terdapat keterbatasan yang perlu dipahami. Diantaranya, dia menjelaskan bahwa produk AMDK, khususnya galon guna ulang, memiliki karakteristik bulky (bervolume besar), sehingga membutuhkan ruang penyimpanan yang sangat besar dibandingkan nilai produknya. Kemudian, lanjutnya, kapasitas gudang di distributor, outlet, maupun pelanggan institusi umumnya dirancang untuk mendukung arus distribusi harian dan mingguan, bukan untuk menyimpan stok tambahan dalam jumlah besar selama beberapa minggu. Selain itu, tambahnya, konsumsi AMDK selama periode Nataru bersifat dinamis dan cenderung meningkat seiring lonjakan mobilitas masyarakat. “Oleh karena itu, distribusi AMDK bergantung pada pasokan yang berkelanjutan (continuous replenishment), sehingga pembatasan angkutan yang terlalu lama berisiko mengganggu ketersediaan produk di pasar meskipun upaya penambahan stok telah dilakukan sebelumnya,” katanya.

