5 July 2026
HomeBeritaKesraITSB Tancap Gas Jadi Research University, Bidik 2.500 Mahasiswa pada 2026

ITSB Tancap Gas Jadi Research University, Bidik 2.500 Mahasiswa pada 2026

SHNet, Bekasi – Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB) memasuki babak baru dalam pengembangannya. Kampus hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Sinar Mas yang berlokasi di Kota Deltamas, Kabupaten Bekasi, ini tengah mengakselerasi transformasi menjadi research university sekaligus menargetkan jumlah mahasiswa mencapai 2.500 orang pada penghujung 2026.

Transformasi tersebut tidak hanya ditandai dengan peningkatan jumlah mahasiswa, tetapi juga penguatan kualitas akademik, pengembangan program studi, peningkatan akreditasi, hingga pembentukan ekosistem riset yang lebih kuat sebagai fondasi menuju perguruan tinggi berdaya saing nasional maupun internasional.

Rektor ITSB, Carmadi Machbub, mengatakan nama besar ITB dan Sinar Mas memang menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan publik. Namun, menurutnya, reputasi tersebut harus diimbangi dengan kualitas pendidikan yang terukur, salah satunya melalui peningkatan akreditasi.

“Publik tentu melihat reputasi sebagai faktor penting yang membangun optimisme. Namun itu belum cukup. Mereka juga ingin melihat kualitas pembelajaran yang tercermin dari status akreditasi. Meski bukan satu-satunya indikator, akreditasi menjadi tolok ukur yang paling mudah dipahami masyarakat. Karena itu, peningkatan akreditasi menjadi salah satu prioritas kami,” ujar Carmadi.

Sebagai bagian dari transformasi, ITSB telah melakukan penyesuaian statuta sejak tahun lalu. Jika sebelumnya berfokus pada bidang sains dan teknologi, kini kampus mengusung visi menjadi perguruan tinggi unggulan di bidang sains, teknologi, dan bisnis.

Perubahan tersebut menjadi pijakan untuk pengembangan jangka panjang selama 15 hingga 20 tahun ke depan, termasuk melalui pembukaan program magister dan doktor guna memperkuat budaya riset di lingkungan kampus.

Di tengah persaingan perguruan tinggi swasta yang semakin ketat, ITSB juga menerapkan strategi promosi yang lebih kreatif dan dekat dengan generasi muda. Salah satunya dengan mendorong mahasiswa menjadi duta kampus melalui media sosial mereka.

Strategi tersebut terbukti efektif menjangkau calon mahasiswa dari berbagai daerah. Keisha Leotta, mahasiswi semester dua Program Studi Diploma 4 Teknologi Pengolahan Pulp dan Kertas asal Surabaya, mengaku mengenal ITSB setelah menyaksikan siaran langsung TikTok seorang mahasiswa senior.

Ketertarikan itu bahkan mengubah rencana pendidikannya yang semula ingin mengambil jurusan kebidanan.

Cerita serupa datang dari Zaqy Omar Ibrahim, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil. Ia mengenal ITSB melalui pencarian di internet dan tertarik karena kampus berada di bawah ekosistem Sinar Mas yang dinilai memiliki koneksi kuat dengan dunia industri.

Keputusan Omar semakin mantap setelah memperoleh beasiswa yang menanggung sekitar 70 persen biaya kuliah setiap semester. Menurutnya, bantuan tersebut sangat meringankan beban keluarga, meski penerima beasiswa tetap dituntut mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,0 agar beasiswa tetap berlaku.

Menariknya, Omar menjadi lulusan pertama SMK Perguruan Cikini (Percik) Jakarta Utara yang melanjutkan studi ke ITSB. Pengalamannya berhasil menginspirasi belasan adik kelasnya untuk mengikuti jejak yang sama.

Keberhasilan itu menunjukkan bahwa promosi yang dilakukan ITSB mulai berhasil memperluas jangkauan calon mahasiswa hingga ke luar Kabupaten Bekasi.

Selain dukungan beasiswa, suasana kampus yang masih berkembang juga menjadi nilai tambah tersendiri. Dengan jumlah mahasiswa sekitar 1.700 orang, interaksi antara mahasiswa dan dosen dinilai lebih intensif sehingga mendukung proses pembelajaran.

Fionna, salah seorang mahasiswa, mengaku memiliki kesempatan lebih besar untuk berdiskusi langsung dengan dosen-dosen yang sebagian berasal dari ITB, sekaligus membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Ke depan, ITSB ingin menjadikan tradisi riset sebagai identitas utama kampus. Menurut Carmadi, seluruh sivitas akademika didorong untuk tumbuh dalam budaya akademik yang kuat agar mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan industri.

Untuk mencapai target tersebut, pihak kampus terus melakukan pembenahan organisasi, tata kelola, serta memperkuat atmosfer akademik yang mendukung pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami harus berlari lebih cepat dan membangun kesebelasan yang tangguh. Kami terus menyusun organisasi dan tata kelola baru, sekaligus menumbuhkan atmosfer akademik yang kondusif agar pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik dan berkualitas,” kata Carmadi.

Ia menegaskan, kekuatan sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh nama besar lembaga yang menaunginya. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan kampus menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, dan memiliki kualifikasi sesuai kebutuhan dunia kerja.

Dengan transformasi yang tengah dijalankan, ITSB optimistis mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi swasta berbasis riset yang siap mencetak sumber daya manusia unggul bagi kebutuhan industri Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU