19 April 2026
HomeBeritaKental Manis dan UHT, Mana Yang Lebih Tepat untuk Bantuan Korban Bencana?

Kental Manis dan UHT, Mana Yang Lebih Tepat untuk Bantuan Korban Bencana?

SHNet, Jakarta-Kental manis dan susu UHT adalah dua jenis produk yang kerap hadir dalam bantuan pangan di daerah bencana. Pemberian kedua produk tersebut selain karena dinilai praktis dan dianggap memenuhi kebutuhan gizi anak, namun benarkah demikian?

Guru Besar Ilmu Gizi dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Tria Astika Indah Permatasari dalam acara webinar yang bertajuk pembekalan kader dan relawan; panduan Penanganan Gizi Anak Pascabencana, mengatakan tidak semua produk yang dianggap susu memiliki kandungan gizi sesuai untuk anak. Kental manis misalnya mengandung gula yang sangat tinggi. 

“Masih banyak praktik pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak, salah satunya adalah penggunaan kental manis yang tentu tidak tepat untuk pertumbuhan balita,” kata Prof. Tria.

 

Menurut SNI 01-2971-1998, kandungan protein kental manis hanya berkisar  7-10 persen. Untuk setiap sajian atau sekitar empat sendok makan, kental manis hanya memenuhi sekitar 2 persen angka kecukupan protein per hari. Sementara itu, kandungan gula kental manis tergolong tinggi, yaitu 40-50 persen. 

Sejak 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menegaskan larangan konsumsi kental manis sebagai minuman susu, apalagi sebagai satu-satunya sumber gizi. Kental manis tidak dapat menggantikan ASI dan tidak cocok dikonsumsi bayi berusia 0-12 bulan. 

Lalu bagaimana dengan UHT?

Susu kotak atau susu cair dalam kemasan juga kerap jadi pilihan masyarakat untuk disalurkan sebagao donasi pangan korban bencana. Padahal, susu jenis ini, terutama yang berperisa mengandung hingga 11 gram gula tambahan per takaran sajinya. 

Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk lebih selektif dalam memilih makanan yang akan disalurkan sebagai donasi. Apalagi belakangan, bermunculan produk susu kotak yang ternyata pada labelnya tertulis minuman rasa susu.  

“Susu dengan tambahan gula, termasuk yang berperisa, perlu diwaspadai. Kandungan gulanya bisa cukup tinggi dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak,” tuturnya.

Meski begitu, Prof. Tria memahami jika dalam kondisi bencana, kebutuhan pangan sering kali bergeser pada aspek kepraktisan. Namun, jika tidak dikontrol, hal ini dapat memicu perubahan pola makan yang tidak sehat pada anak dalam jangka panjang. 

Terlebih, jika perubahan pola makan anak  berkaitan dengan pemberian kental manis dalam jangka panjang. Hal berisiko menimbulkan berbagai masalah gizi dan juga gangguan metabolik di masa depan.

“Kalau ini berlangsung tiga sampai enam bulan, bukan hanya soal kenyang, tapi bisa terjadi perubahan pola makan yang tidak sehat dan berdampak jangka panjang,” ucap Prof. Tria.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Satria Yudhistira menuturkan, saat ke Aceh Tamiang beberapa waktu lalu, pihaknya masih menemukan pangan praktis dan instan. Kondisi tersebut mengkhawatirkan karena setelah berbulan-bulan, masyarakat korban bencana banjir harusnya sudah memasuki fase pemulihan, bukan lagi sekadar bertahan hidup.

“Banyak bantuan yang datang itu berupa pangan kemasan seperti kental manis, mie instan, dan minuman manis. Ini awalnya mungkin untuk kondisi darurat, tapi setelah berbulan-bulan masih dikonsumsi dan akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Satria.

Kondisi tersebut berpotensi mengubah pola makan anak dalam jangka panjang jika tidak segera diluruskan melalui edukasi. Tanpa intervensi yang tepat, anak-anak berisiko terus mengandalkan makanan tinggi gula dan rendah gizi meski kondisi sudah berangsur pulih.

“Kalau ini tidak diedukasi, kebiasaan ini akan terus berlanjut. Padahal dampaknya bukan hanya saat bencana, tapi bisa mempengaruhi pola konsumsi dan kesehatan anak ke depannya,” ucap Satria.

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU