Yogyakarta-Warisan budaya Nusantara tidak hanya menyimpan jejak kejayaan peradaban masa lalu, tetapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi gen z. Salah satu upaya untuk menghidupkan kembali warisan tersebut dilakukan oleh pegiat budaya, yang juga Dosen S3 Ketahanan Nasional UGM Dr. Fidelis Diponegoro.
Ia mengembangkan cerita-cerita fabel dari relief Candi Borobudur sebagai media pendidikan karakter bagi anak-anak. “Dari berbagai kisah relief candi, cerita yang terkait satwa dipilih karena paling sesuai untuk anak-anak kita” ujar Fidelis.
Sejak 2023, bersama tim Jatakasvara, yang melibatkan illustrator Bambang Shakuntala dan pakar sastra relief Borobudur Bambang Eka Prasetya, Fidelis menggarap komik yang bersumber dari kisah-kisah fabel pada relief candi Borobudur, Mendut dan Sojiwan.
Di Borobudur sendiri ada 1500 lebih relief menyimpan beragam narasi yang tidak hanya bernilai artistik dan historis, tetapi juga memuat pesan moral. Ia mengatakan “Hingga saat ini tiga judul komik pdf telah dikembangkan, yakni Sepasang Angsa Terbangkan Kura-kura, Persembahan Mulia Kelinci, serta Angsa Berkepala Dua telah ribuan kali diunduh. Bukan nilai komersial yang kami cari, tetapi menyebarluaskan kisah Jataka. Makanya komunitas ini bernama Jatakasvara,” ujarnya.
Jataka adalah kisah kebajikan pada relief candi dengan tokoh terutama berupa hewan. Salah satu kisah yang menarik untuk diangkat adalah Sepasang Angsa dan Kura-kura. Cerita ini mengandung pelajaran tentang pentingnya mengendalikan diri, menghindari kesombongan, dan berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Kura-kura yang diterbangkan oleh sepasang angsa dengan menggigit ranting bisa terjatuh karena ia melupakan pesan agar tidak membuka mulutnya. Keinginan untuk menunjukkan diri atau ketidakmampuan menjaga ucapan dapat membawa seseorang pada persoalan yang sebenarnya bisa dihindari. Pesan semacam ini tetap relevan bagi anak-anak yang sedang belajar memahami konsekuensi dari pilihan dan perilakunya.
Kreasi kisah-kisah tersebut dalam bentuk komik merupakan upaya menjembatani keadiluhungan warisan budaya dengan realitas dunia anak-anak sekarang. Relief candi yang selama ini mungkin hanya dipandang sebagai ornamen bersejarah dapat diperkenalkan kembali sebagai sumber cerita yang hidup, menarik, dan mudah dipahami.
Melalui perpaduan ilustrasi dan narasi, nilai-nilai moral dapat disampaikan secara lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari anak, tanpa harus terasa seperti nasihat yang menggurui.
Guru, terutama guru SD dan orang tua bisa menjadikan komik fabel sebagai sarana dalam menanamkan pendidikan karakter. Cerita dapat digunakan untuk mengajak anak berdiskusi mengenai kejujuran, tanggung jawab, kerendahan hati, kehati-hatian, dan konsekuensi tindakan.
Dengan demikian, anak tidak sekadar membaca cerita, tetapi juga belajar menafsirkan pesan moral dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Pendekatan ini sekaligus menanamkan kebanggaan pada warisan budaya leluhur Nusantara yang merupakan wujud dari rasa nasionalisme sejak dini.
Jelaslah bahwa komik fabel dari relief Borobudur bukan sekadar usaha menerbitkan bacaan anak, melainkan bagian dari upaya merawat ingatan budaya Nusantara dan meneruskan nilai-nilai luhurnya kepada generasi penerus bangsa. Kisah-kisah yang telah terpahat selama berabad-abad dapat direjuvenasi dengan media yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Jika dikembangkan dan disebarluaskan secara berkelanjutan, fabel Borobudur berpotensi menjadi sarana pendidikan budi pekerti dan karakter yang membentuk jati diri manusia Indonesia.(pr)

