Oleh: Prof. Ali Mochtar Ngabalin, S.Ag.
Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Ketua Umum Muballigh Indonesia (PP BAKOMUBIN)
Kerukunan membutuhkan pendidikan yang mengajarkan manusia memperlakukan sesamanya dengan adil. Di sekolah, seorang anak belajar tentang keyakinannya sekaligus berjumpa dengan teman yang memiliki pengalaman, tradisi, dan cara beribadah berbeda.
Perjumpaan itu dapat menumbuhkan persaudaraan apabila sekolah membimbingnya dengan baik. Namun, prasangka juga dapat tumbuh apabila perbedaan dibiarkan menjadi alasan untuk mengejek, mengucilkan, atau merendahkan.
Karena itulah, saya memandang pendidikan moderasi beragama sebagai bagian penting dari pembentukan watak bangsa. Tujuannya adalah membantu peserta didik menjalankan keyakinannya dengan bertanggung jawab serta menghormati hak orang lain.
Pengetahuan agama perlu hadir bersama kecakapan hidup dalam masyarakat majemuk. Keduanya dibutuhkan agar kesalehan pribadi membawa kebaikan bagi kehidupan bersama.
Beragama dengan Teguh dan Menghormati Sesama
Moderasi beragama perlu dijelaskan secara jernih. Yang ditata adalah cara manusia memahami, mengekspresikan, dan menjalankan kehidupan beragamanya dalam hubungan dengan sesama.
Keteguhan iman dapat berjalan bersama penghormatan terhadap martabat manusia. Seseorang tetap dapat meyakini kebenaran agamanya sambil mengakui bahwa orang lain berhak menjalankan keyakinannya dengan aman.
Kejernihan ini penting karena pendidikan toleransi mudah disalahpahami sebagai tuntutan untuk menyeragamkan keyakinan. Padahal, dialog tidak mengharuskan peserta didik menyepakati seluruh pandangan keagamaan.
Mereka perlu belajar menyampaikan pendirian tanpa penghinaan, mendengarkan tanpa harus menyetujui, dan bekerja sama dalam urusan kemanusiaan tanpa kehilangan identitas.
Dalam kerangka tersebut, toleransi menuntut tindakan. Anak yang membiarkan temannya dirundung karena agama belum menunjukkan penghormatan yang memadai terhadap perbedaan.
Pendidikan perlu membekalinya dengan keberanian untuk menolak perundungan, mencari pertolongan guru, dan mendukung teman yang diperlakukan tidak adil. Nilai menjadi berarti ketika memengaruhi pilihan sehari-hari.
Kurikulum Harus Hidup dalam Pengalaman Siswa
Memasukkan moderasi beragama ke dalam kurikulum tidak cukup dilakukan dengan menambah istilah dalam buku pelajaran. Siswa dapat menghafal definisi toleransi untuk menjawab ujian, sementara perilakunya tetap merendahkan kelompok lain.
Persoalannya terletak pada jarak antara pengetahuan yang diajarkan dan pengalaman yang dibentuk sekolah. Karena itu, nilai moderasi perlu dihubungkan dengan situasi yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Dalam pelajaran agama, guru dapat mengembangkan pembahasan tentang tanggung jawab moral terhadap sesama. Dalam pendidikan kewarganegaraan, siswa dapat menelaah arti kesetaraan dan kewajiban menjaga kehidupan bersama.
Pelajaran sejarah membuka ruang untuk memahami bagaimana masyarakat yang berbeda membangun hubungan, menghadapi konflik, dan mengusahakan perdamaian.
Pembelajaran bahasa pun dapat berperan. Siswa dapat diajak membedakan kritik terhadap gagasan dari serangan terhadap identitas seseorang.
Mereka belajar bahwa ketidaksetujuan perlu disampaikan dengan alasan, bukan dengan julukan yang merendahkan. Dengan cara ini, penghormatan terhadap perbedaan menjadi keterampilan berpikir dan berkomunikasi yang dipraktikkan berulang kali.
Kegiatan bersama juga perlu dirancang secara bermakna. Kerja kelompok, pelayanan sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat mempertemukan siswa dari latar belakang berbeda dalam tanggung jawab yang sama.
Guru perlu memastikan pembagian peran berlangsung adil, lalu mengajak siswa merefleksikan pengalaman mereka. Pertemuan yang terarah memberi kesempatan untuk menguji prasangka melalui pengalaman bekerja bersama.
Guru dan Sekolah Harus Memberi Teladan
Pesan kurikulum akan kehilangan kekuatan apabila kehidupan sekolah mengajarkan hal yang bertentangan. Ajakan menghormati perbedaan sulit dipercaya ketika ejekan terhadap identitas dianggap gurauan, keluhan siswa diabaikan, atau perlakuan tidak adil dibiarkan.
Anak membaca sikap orang dewasa melalui keputusan yang mereka saksikan setiap hari.
Guru memerlukan kemampuan untuk menangani percakapan yang sensitif. Ketika muncul pertanyaan tentang agama lain, guru perlu membimbing diskusi sesuai usia siswa, menjelaskan batas pengetahuannya, dan menghindari gambaran yang merendahkan.
Keadilan dalam mendampingi siswa tetap menjadi kewajiban, termasuk ketika guru memiliki keyakinan berbeda dari sebagian peserta didiknya.
Pelatihan guru sebaiknya bertumpu pada persoalan nyata. Bagaimana merespons siswa yang menolak satu kelompok dengan teman berbeda agama? Bagaimana menangani lelucon yang menyinggung keyakinan? Bagaimana menengahi keberatan orang tua terhadap kegiatan bersama? Pembahasan kasus membantu guru menghubungkan prinsip dengan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sekolah juga perlu menyediakan saluran pengaduan yang mudah diakses dan melindungi siswa yang melapor. Penanganannya harus mendidik, memperhatikan pihak yang dirugikan, dan mencegah pengulangan. Pihak sekolah perlu mendengar konteks setiap kejadian, sehingga disiplin tidak berubah menjadi pelabelan yang mempermalukan anak.
Menghadapi Prasangka di Ruang Digital
Pendidikan moderasi beragama perlu menjangkau pengalaman siswa di ruang digital. Dalam percakapan daring, sebuah potongan video atau pesan berantai dapat menimbulkan penilaian terhadap seluruh kelompok. Ketika emosi mendahului pemeriksaan, siswa berisiko ikut menyebarkan penghinaan yang belum mereka pahami sumber maupun konteksnya.
Literasi Digital Perlu Menyentuh Tanggung Jawab Moral.
Sebelum membagikan informasi, siswa perlu dibiasakan memeriksa sumber, membaca konteks, dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Mereka juga perlu memahami bahwa tindakan seorang individu tidak membenarkan tuduhan terhadap seluruh pemeluk agama atau kelompok asalnya.
Kemampuan memeriksa informasi dapat dilatih melalui contoh sederhana yang sesuai usia. Guru dapat mengajak siswa membandingkan judul dengan isi berita, mengenali kalimat yang memancing kebencian, serta menyusun tanggapan yang beralasan. Pendidikan semacam ini membantu peserta didik menjaga kehati-hatian tanpa kehilangan keberanian menyampaikan pendapat.

Kerja Bersama dan Ukuran Keberhasilan
Sekolah tidak bekerja sendirian. Keluarga dan tokoh agama perlu dilibatkan agar pesan yang diterima anak saling menguatkan. Orang tua perlu memahami tujuan serta batas kegiatan yang dirancang sekolah.
Keterbukaan ini membantu membangun kepercayaan dan memberi ruang bagi kekhawatiran untuk dibahas secara wajar.
Pelaksanaannya perlu menyesuaikan keadaan setempat. Sekolah dengan siswa yang relatif seragam tetap perlu mengajarkan penghormatan terhadap masyarakat di luar lingkungannya.
Sekolah yang lebih beragam perlu memastikan perjumpaan sehari-hari berlangsung setara. Kegiatan dialog harus menghormati kebebasan beragama, mempertimbangkan usia, dan tidak memaksa siswa mengikuti praktik ibadah agama lain.
Keberhasilan pendidikan moderasi beragama perlu dilihat dari perubahan pengalaman siswa. Apakah mereka merasa aman menyampaikan identitasnya? Apakah ejekan ditangani dengan sungguh-sungguh? Apakah kerja kelompok membuka kesempatan yang adil? Sekolah dapat menilainya melalui pengamatan guru, percakapan dengan siswa, serta peninjauan terhadap pengaduan dan tindak lanjutnya. Catatan pengaduan juga perlu dibaca hati-hati karena bertambahnya laporan dapat menunjukkan siswa mulai percaya untuk berbicara.
Pendidikan ini tidak dapat menjanjikan hilangnya seluruh prasangka atau kekerasan. Namun, sekolah mempunyai ruang penting untuk membentuk kebiasaan berpikir jernih, memperlakukan sesama dengan adil, dan menyelesaikan perbedaan tanpa penghinaan. Kebiasaan tersebut memberi bekal bagi anak untuk menjadi warga yang bertanggung jawab.
Dukungan kebijakan perlu mengikuti kebutuhan tersebut. Waktu belajar, bahan ajar, dan pendampingan guru harus dirancang secara realistis. Sekolah juga perlu ruang untuk mengevaluasi praktiknya tanpa sekadar mengejar banyaknya acara. Dengan dukungan yang konsisten, pendidikan moderasi beragama dapat tumbuh sebagai budaya sekolah yang dirasakan siswa sepanjang tahun, bukan hanya pada peringatan tertentu.
Bagi saya, di sinilah pendidikan moderasi beragama menemukan maknanya. Indonesia membutuhkan generasi yang teguh dalam keyakinan sekaligus mampu menjaga persaudaraan. Ketika sekolah membiasakan anak menghormati martabat sesamanya, kita sedang merawat dasar kehidupan bangsa agar kemajemukan dapat dijalani dengan aman dan bermartabat.(*)

