Oleh : Arief Poyuono
Komisaris Pelindo
Istilah ESG pertama kali digunakan pada tahun 2004 dalam sebuah publikasi oleh Global Compact yang berjudul “Who Cares Wins.” Istilah ini didasarkan pada kriteria yang berkaitan dengan apa yang disebut sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yang ditetapkan oleh Global Compact. Inisiatif ini, yang diluncurkan pada tahun 2000 oleh Kofi Annan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertujuan untuk menyelaraskan strategi bisnis di seluruh dunia dengan prinsip-prinsip universal di bidang-bidang seperti Hak Asasi Manusia dan Lingkungan, guna menjawab berbagai tantangan sosial.
Tiga pilar utama tercakup dalam akronim ESG terdiri dati Lingkungan (Environmental),Sosial (Social),Tata Kelola (Governance) berdasarkan pilar-pilar ini, kita dapat menilai apakah suatu organisasi tergolong sehat serta memiliki kesadaran sosial dan lingkungan. Jika sebuah perusahaan memperoleh penilaian yang baik pada ketiga kriteria tersebut, perusahaan itu dapat dianggap memenuhi standar ESG. Hal ini mencerminkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dari masyarakat dan investor, sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan terhadap isu-isu keberlanjutan.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami bagaimana kriteria-kriteria ini diantaranya Kriteria Lingkungan (Environmental) yaitu Aspek lingkungan berkaitan dengan huruf “E” (Environmental) dalam ESG. Sesuai namanya, aspek ini mengevaluasi kinerja perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membuat operasionalnya menjadi lebih berkelanjutan. Dengan demikian, aspek lingkungan dalam ESG berfokus pada hubungan antara perusahaan dengan pelestarian sumber daya alam.
Salah satu kriteria yang diperhatikan, misalnya, adalah sikap perusahaan terhadap pengelolaan limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan operasionalnya. Pilar ini juga mencakup isu-isu seperti daur ulang material, emisi gas rumah kaca (GRK), serta inisiatif menuju nol karbon (zero-carbon).
Lalu untuk Kriteria Sosial (Social) sebagai Kriteria kedua, yang diwakili oleh huruf “S” (Social), berkaitan dengan aspek sosial. Pada dasarnya, aspek ini mengevaluasi bagaimana perusahaan mengelola dan membina hubungan dengan para pemangku kepentingan (stakeholders), termasuk karyawan, pemasok, komunitas, pelanggan, dan masyarakat luas.
Dalam konteks hubungan dengan karyawan, misalnya, aspek ini meninjau bagaimana perusahaan menjamin keselamatan dan kesejahteraan di tempat kerja, mendorong keberagaman dalam peran, serta menyediakan program pelatihan dan pengembangan kualifikasi.
Terkait dengan pelanggan, kriteria ini memeriksa kualitas produk dan layanan yang ditawarkan, guna memastikan bahwa produk dan layanan tersebut aman serta bebas dari risiko. Terkait dengan komunitas, fokusnya adalah pada pengembangan program dan tindakan yang mendukung masyarakat serta lembaga yang bersinggungan dengan kegiatan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya meliputi partisipasi dalam kegiatan amal atau pemberian donasi kepada kelompok yang kurang beruntung.
Dan yang ketiga Kriteria Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) yanga mana Sesuai dengan namanya, tata kelola mengevaluasi bagaimana organisasi memposisikan dirinya dalam penerapan praktik tata kelola perusahaan yang baik.
Dengan kata lain, pilar ESG ini menunjukkan apakah organisasi tersebut menetapkan kode etik dan pedoman perilaku, menjamin keadilan, akuntabilitas, serta transparansi, dan apakah organisasi tersebut mematuhi ketentuan-ketentuan tersebut. Memiliki tata kelola yang transparan dan etis merupakan salah satu persyaratan bagi sebuah organisasi untuk dapat tercatat di segmen pasar khusus (seperti New Market) di bursa efek, misalnya.
Memahami ESG dan Dampaknya terhadap Industri Pelabuhan
Industri pelabuhan kontemporer menghadapi persaingan yang ketat, yang mendorong otoritas dan operator pelabuhan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sebagai tolok ukur daya saing. Skema Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental-Social-Governance/ESG) kini muncul sebagai sarana bagi pelabuhan untuk menciptakan nilai di luar kegiatan inti, dengan melibatkan kelompok pemangku kepentingan yang lebih luas. ESG mencakup faktor-faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola yang memengaruhi penciptaan nilai serta daya saing suatu perusahaan.
Untuk lebih meningkatkan daya saing, otoritas dan operator pelabuhan seperti PT Pelindo mulai melangkah melampaui aspek efisiensi semata, dengan berfokus pada aspek efektivitas di mana persepsi pengguna pelabuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan . Belakangan ini, otoritas dan operator pelabuhan mulai menjajaki cara-cara tambahan dalam menciptakan nilai, antara lain melalui pemanfaatan teknologi baru serta pengembangan, penerapan, dan penilaian skema ESG.
Dengan demikian, pelabuhan berupaya menciptakan nilai di luar komponen operasional inti, menjangkau kelompok pemangku kepentingan yang lebih luas, demi mewujudkan kerangka daya saing pelabuhan yang lebih beragam.
Penerapan ESG mencakup berbagai faktor yang dapat memengaruhi kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai yang meliputi: a) lingkungan (misalnya melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, optimalisasi penggunaan sumber daya, serta pengurangan dan penanganan limbah dan polusi); b) sosial (misalnya standar ketenagakerjaan terkait kesehatan dan keselamatan, keberagaman di tempat kerja, serta hubungan karyawan); dan c) tata kelola (transparansi manajemen dan akuntabilitas, struktur dewan direksi, kompensasi bagi eksekutif, serta prinsip-prinsip audit internal).
Selain itu ESG juga merujuk pada integrasi pertimbangan non keuangan ke dalam strategi bisnis dan pengambilan keputusan. Meskipun faktor-faktor ESG sering dianggap sebagai aspek non keuangan dalam konteks penciptaan nilai,namun faktor-faktor tersebut tetap berkaitan erat dengan daya saing produk atau layanan. Bagiman cara sebuah perusahaan mengelola aspek-aspek ini dapat memberikan konsekuensi finansial.
Dunia bisnis mulai mengakui ESG sebagai elemen fundamental dalam strategi mereka, seiring dengan meningkatnya pemahaman mengenai tujuan pembangunan berkelanjutan yang antara lain didorong oleh berbagai inisiatif terkait seperti pada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa . Praktik ESG yang kuat dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi organisasi. Hal ini berkaitan dengan peran pelaporan ESG dalam komunikasi perusahaan, manajemen risiko , serta transparansi keuangan .
Selain itu, pelaporan ESG memainkan peran penting dalam manajemen strategis berkelanjutan suatu perusahaan melalui berbagai parameter, yang mencakup peran dewan direksi, distribusi fungsi manajemen serta penyelarasan dengan strategi perusahaan serta taktik pengungkapan informasi , dan kerangka kerja perusahaan secara umum
Meskipun ESG memiliki signifikansi dalam penciptaan nilai, implementasinya di banyak perusahaan operator Pelabuhan seperti PT Pelindo namun masih berada pada tahap awal Dengan berfokus pada bagaimana saluran komunikasi baru antara pelabuhan dan masyarakat luas dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan pelabuhan yang juga menjadi parameter daya saing Pelabuhan ,Dimana pelaporan ESG dapat meningkatkan reputasi pelabuhan, membantu memenuhi tuntutan pemangku kepentingan maupun regulasi, serta meningkatkan ketahanan dan efisiensi operasional.
Selain itu, pelaporan ESG dapat dipandang sebagai faktor pembeda dalam industri pelabuhan, yang memungkinkan operator pelabuhan seperti Pelindo untuk meraih keunggulan kompetitif.
Pelaporan ESG kini semakin diakui sebagai elemen krusial dalam mengarahkan manajemen strategis yang berkelanjutan serta meningkatkan komunikasi perusahaan dengan para investor. Di samping metrik keuangan tradisional, data ESG memperkaya profil perusahaan, sehingga membantu investor memahami keunggulan kompetitif perusahaan serta kemampuannya dalam memanfaatkan peluang-peluang baru.
Adanya korelasi antara pelaporan ESG dengan investasi yang menguntungkan sekaligus mendukung keberlanjutan maka hasilnya akan menunjukkan bahwa perusahaan dengan skor ESG yang lebih unggul cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih baik. Serta adanya hubungan positif antara praktik ESG dan indikator keuangan, terutama ketika perusahaan berinvestasi dalam inovasi lingkungan serta kebijakan keberagaman,serta menegaskan bahwa investor memanfaatkan informasi ESG untuk mengukur kemampuan suatu bisnis dalam menghadapi perubahan lingkungan mencatat bahwa laporan ESG akan memberikan perspektif risiko yang lebih jelas bagi investor, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dan berdasar untuk berinvestasi .
Penerapan ESG di PT Pelindo Holding
Penerapan ESG menunjukkan keterlibatan perusahaan dalam mendukung keberlanjutan. Di Indonesia, contoh ESG bisa dilihat dalam sejumlah inisiatif di PT Pelindo Holding. Konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi komitmen PT Pelindo dalam era modern, di dunia termasuk di Indonesia.dmana ESG mencakup tiga pilar penting yakni aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang berkelanjutan.
Dalam konteks bisnis, ESG menjadi indikator utama dalam menilai bagaimana perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, kesejahteraan sosial, dan praktik tata kelola yang bertanggung jawab.
Seperti penerapan ESG pada anak Perusahaan PT Pelindo yaitu PT SPMT dinilai sebagai perusahaan yang berkomitmen dalam menerapkan praktik terbaik dalam mengomunikasikan diversity, equity, inclusion (DEI) dan environmental, social, governance (ESG).Sebagai upaya memajukan wilayah sekitarnya, SPMT merangkul seluruh stakeholders, salah satunya dengan membina hubungan dengan komunitas generasi muda. Program PYC (Pelindo Youth Communit ) yang di inisiasi SPMT untuk turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya untuk pilar Pembangunan sosial.
Program ini mengenalkan generasi muda akan pentingnya peran pelabuhan serta menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sosial melalui pendekatan yang disukai oleh Gen-Z.
Dan penilaian ini difokuskan pada beberapa aspek. Di antaranya, strategi dan program komunikasi yang sistematis, terukur, dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan kebijakan/inisiatif DEI dan ESG yang diterapkan , kejelasan tujuan (SMART Objectives) dan stakeholder yang dituju, strategi media dan taktik komunikasi yang digunakan, pengukuran dan evaluasi, serta dampak program komunikasi bagi stakeholder.
Kemudian dalam memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai dari upaya perusahaan menjalankan transformasi bisnis yang berkelanjutan sekaligus mendukung agenda pemerintah menuju ekonomi hijau dan percepatan aksesi Indonesia ke OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) yang kini menempatkan standar ESG sebagai prioritas nasional.
Sebagai wujud nyata, PT Pelindo Solusi Logistik Group saat ini tengah menyusun peta jalan (roadmap) ESG yang menjadi pedoman strategis dalam penguatan tata kelola, sosial, dan lingkungan di seluruh lini bisnis. Peta jalan ini akan menjadi acuan Perusahaan dalam mengintegrasikan keberlanjutan pada aktivitas operasional, mulai dari efisiensi energi dan pengelolaan limbah hingga inklusi sosial di wilayah kerja PT Pelindo Solusi Logistik Group.
Sebagai perusahaan logistik dan hinterland development yang berorientasi pada keberlanjutan, kami berkomitmen menjalankan bisnis yang tidak hanya berorientasi pada kinerja finansial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui penyelenggaraan Awareness Training ESG & Sustainability, yang diikuti oleh jajaran manajemen dan pekerja. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai konsep ESG sebagai solusi keberlanjutan bisnis serta bagaimana mengimplementasikannya dalam kegiatan operasional sehari-hari. Melalui kegiatan ini, perseroan mendorong seluruh pekerja untuk berperan aktif dalam menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab, dimulai dari langkah kecil yang memberi dampak besar terhadap keberlanjutan jangka panjang.
Dalam aspek tata kelola, PT Pelindo Solusi Logistik secara konsisten menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) sebagai bagian dari strategi peningkatan kinerja dan keberlanjutan jangka panjang. Nilai-nilai integritas juga terus diperkuat melalui prinsip 4 No’s (No Bribery, No Kickback, No Gift dan No Luxurious Hospitality) dalam setiap aktivitas bisnis.
Perusahaan secara berkala melakukan evaluasi dan penilaian atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG melalui kegiatan asesmen GCG. Sebelumnya Perusahaan telah melakukan asesmen GCG berstandar internasional, yaitu dengan menggunakan indikator ASEAN Corporate Governance Scorecard. Dalam asesmen ini Perusahaan meraih skor 90.32, dengan klasifikasi Sangat Baik.
Sebagai bukti nyata penerapan etika bisnis, perusahaan telah memperoleh sertifikasi SNI ISO 37001:2016 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) dari British Standards Institution (BSI) Group. “Perolehan sertifikasi SMAP ini memperkuat integritas dalam setiap proses bisnis. Kami ingin memastikan bahwa seluruh kegiatan perusahaan tidak hanya sesuai dengan regulasi, tetapi juga mencerminkan tata kelola yang transparan dan bertanggung jawab,”
Dalam aspek sosial dan lingkungan, Perseroan terus mengembangkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Program-program tersebut antara lain rehabilitasi ekosistem mangrove, penanaman pohon batik langka, budidaya tanaman buah langka (buah lakum), budidaya maggot untuk pengolahan sampah organik, serta pengelolaan limbah terpadu bekerjasama dengan TPS3R setempat.
PT Pelindo Solusi Logistik juga memberikan perhatian pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui berbagai inisiatif sosial, seperti pemberian kaki palsu – alat bantu Ankle Foot Orthosis (AFO), pelatihan dan sertifikasi memijat bagi tuna netra serta pelatihan UMKM untuk disabilitas guna menciptakan dampak sosial yang inklusif dan berkelanjutan untuk kelompok marjinal. Selain itu, Perseroan juga membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengikuti program magang di lingkungan perusahaan, sebagai wujud dukungan terhadap kesetaraan kesempatan kerja dan pemberdayaan kelompok difabel di dunia industri.
Di sisi internal, perseroan juga mengoptimalkan digitalisasi proses bisnis back office untuk mengurangi penggunaan kertas, serta menerapkan teknologi efisiensi energi seperti sensor lampu gerak di fasilitas kerja. Selain itu, perusahaan aktif menggalakkan budaya ramah lingkungan melalui kampanye green office, penggunaan tumbler untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai, serta penyediaan alat HSSE untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.
Sebagai pelaku utama di sektor kepelabuhanan, PT Pelindo Terminal Petikemas berkomitmen untuk menghadirkan pertumbuhan bisnis yang tidak hanya berkelanjutan secara ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi Indonesia.
Komitmen ini diwujudkan melalui integrasi prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam setiap aspek operasional. Pendekatan ini menegaskan bahwa keberhasilan bisnis bukan hanya tentang capaian jangka pendek, tetapi juga tentang kemampuan menjawab tantangan jangka panjang secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Sebagai panduan utama, PT SPTP telah mengadopsi delapan prinsip keberlanjutan yang menjadi fondasi budaya kerja diantaranya (responsible investment) adalah pendekatan menempatkan modal yang secara eksplisit mengintegrasikan faktor Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST atau Environmental, Social, and Governance / ESG) ke dalam proses analisis dan pengambilan keputusan finansial,Kemudian strategi operasional yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam inti bisnis untuk menciptakan nilai jangka panjang tanpa merusak alam atau masyarakat dengan prinsip bisnis tetap harus menghasilkan keuntungan yang layak agar dapat bertahan dan tumbuh serta Kepedulian terhadap kesejahteraan karyawan, konsumen, dan komunitas lokal (selaras dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Begitu juga denganpenerapan Tata kelola yang baik (good governance) adalah suatu konsep pengelolaan organisasi, baik di sektor publik, pemerintahan, maupun korporasi, yang dilakukan secara transparan, akuntabel, responsif, dan adil untuk mengurangi penyalahgunaan kekuasaan serta korupsi ,serta menerapkan komunikasi publik yang bertujuan untuk menyampaikan pesan, data, atau fakta kepada pihak lain agar mereka memahami suatu topik, isu, atau proses dengan jelas.
Kemudian juga PT Pelindo melalui anak perusahaan PT SPTP juga menerpakan Prinsip inklusif (khususnya dalam konteks Pendidikan dan jenjang karir dengan nilai-nilai dasar yang memastikan setiap karyawan memperoleh hak, akses, dan kesempatan belajar dan karir yang setara tanpa diskriminasi.
Serta pengembangan Sektor Unggulan Prioritas oleh PT SPTP sebagai salah satu dari 8 prinsip kegiatan berkelanjutan (ESG) yang menjadi pilar budaya kerja perusahaan dalam membentuk operasi yang efisien, produktif, serta berorientasi pada tanggung jawab sosial dan lingkungan. Implementasi pengembangan sektor unggulan prioritas di lingkup PT SPTP terbagi ke dalam dua fokus utama yaitu strategi komersial kepelabuhanan dan program tanggung jawab sosial.
Dan berfokus Portofolio Bisnis PT SPTP mengembangkan layanan berbasis kargo, komoditas spesifik, kemasan, serta pengintegrasian pelabuhan dengan kawasan industri (hinterland development, serta melakukan Transformasi Operasional Hijau dan Cerdas dengan menerapkan standardisasi Green and Smart Port (seperti program ASRI) yang berfokus pada efisiensi energi, digitalisasi end-to-end, integrasi logistik, serta reduksi emisi karbon di berbagai terminal.
Di sektor pemberdayaan masyarakat dan lingkungan, mengerucutkan program prioritasnya ke dalam 3 bidang utama yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) diantaranya Pengembangan UMK (Usaha Mikro dan Kecil): Memberikan pendanaan, pelatihan usaha, peningkatan kapasitas produksi, hingga sertifikasi produk agar mitra binaan di sekitar pelabuhan mampu menembus pasar nasional dan internasional. Fokus pada mitigasi perubahan iklim global, pengelolaan limbah, serta program konservasi nyata seperti penanaman ratusan ribu bibit mangrove dan rehabilitasi terumbu karang.
Koordinasi dan kolaborasi korporasi dalam implementasi ESG (Environmental, Social, and Governance) ) yang merupakan kunci utama untuk mengatasi hambatan pelaksanaan (execution gap) dan memastikan nilai-nilai keberlanjutan mengakar di seluruh lini bisnis. Penerapan ESG tidak dapat berjalan dalam sekat-sekat terpisah dan membutuhkan integrasi kerja lintas divisi yang terstruktur demi memenuhi tuntutan pasar modal, regulator, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Prinsip-prinsip ini membentuk budaya keberlanjutan yang tidak hanya menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan, tetapi juga ditanamkan secara menyeluruh kepada seluruh jajaran manajemen dan karyawan. Melalui berbagai saluran komunikasi, seperti situs web, media sosial, forum internal, hingga kolaborasi aktif dengan mitra kerja dan pemangku kepentingan lainnya, kami memastikan bahwa prinsip-prinsip ESG mengakar di seluruh lini organisasi.
Kemudian PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) anak Perusahaan PT Pelindo telah melakukan transformasidalam mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam operasionalnya di berbagai wilayah kepulauan yang berfokus pada jasa pemanduan dan penundaan kapal di bawah naungan Pelindo Group, tidak lagi memandang lingkungan sebagai beban biaya, melainkan sebagai pendorong inovasi. Salah satu bukti paling nyata adalah penerapan teknologi motor hibrida pada kapal-kapal pandu mereka untuk mendukung konsep Green Shipping. Langkah strategis ini secara signifikan menekan konsumsi bahan bakar fosil dan mereduksi emisi karbon di area pelabuhan yang secara historis memiliki tingkat polusi udara yang tinggi.
Selain modernisasi armada, IPCM juga sangat aktif dalam restorasi ekosistem pesisir melalui program penanaman mangrove masif. Pada akhir tahun 2025 lalu, IPCM berkolaborasi menanam 2.000 pohon mangrove bersama mitra strategisnya untuk mewujudkan ekosistem pelabuhan yang berkelanjutan. Inisiatif hijau ini melengkapi aksi penanaman 1.000 pohon di kawasan Ecomarine Muara Angke sebelumnya, yang membuktikan bahwa komitmen lingkungan mereka bersifat jangka panjang, partisipatif, dan sangat terukur. Hal ini menunjukkan kesadaran mendalam bahwa pelabuhan yang sehat harus beriringan dengan kelestarian biodiversitas laut dan pesisir di sekitarnya.
Lebih jauh, integrasi ini didukung oleh tata kelola perusahaan yang transparan. IPCM secara rutin menerbitkan Laporan Keberlanjutan yang mengacu pada regulasi ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memastikan bahwa setiap metrik lingkungan dapat dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan. Menariknya, komitmen hijau ini sejalan dengan kinerja finansial yang solid, di mana IPCM mampu mencatatkan laba bersih yang kuat dan konsisten membagikan dividen, membuktikan bahwa bisnis dapat tumbuh pesat sambil menjaga kelestarian alam.
Pendekatan komprehensif dan terintegrasi ini pada akhirnya menempatkan IPCM sebagai perintis transisi energi dan operasional hijau di sektor jasa maritim Indonesia.
Dengan Tujuan utama dari konsep ESG akhir kata PT Pelinda bertujuan agar sebagai perusahaan menerapkan kriteria untuk mencapai operasional yang lebih sadar, dengan melestarikan sumber daya lingkungan serta mengadopsi praktik keberlanjutan dan tata kelola yang baik.
Oleh karena itu, memahami ESG membantu kita menyadari betapa kompleksnya tindakan yang berkaitan dengan topik-topik ini, serta bagaimana tindakan tersebut berkontribusi terhadap hasil perusahaan di berbagai tingkatan. Aktivitas perusahaan yang selaras dengan konsep ESG menghasilkan banyak manfaat bagi organisasi, investor, dan pemangku kepentingan lainnya. Manfaat-manfaat ini akan terasa jauh lebih signifikan ketika organisasi menerapkan metodologi dan praktik manajemen yang efektif.(*)

