29 June 2026
HomeBeritaKuliah Praktisi IMDE: Asah Kemampuan "Storytelling" di Era Transmedia Lewat "Voice Over"

Kuliah Praktisi IMDE: Asah Kemampuan “Storytelling” di Era Transmedia Lewat “Voice Over”

SHNet, Jakarta-Dalam ekosistem dan prinsip transmedia, creative skill storytelling melalui voice over tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan elemen penentu untuk menyatukan fragmen narasi di berbagai platform secara imersif. Kemampuan mengolah vokal dan emosi menjadi implementasi nyata dari prinsip dasar transmedia untuk membangun storyworld yang utuh dan lintas batas.

“Untuk bisa menyampaikan narasi secara utuh, menarik, dan menegaskan makna atau apa maksudnya, dalam voice over kita tidak bisa hanya sekadar membaca teks, tetapi lebih dari itu. Kita harus bisa menghidupkan emosi di dalam narasi dengan baik dan pas,” ujar Voice Over Talent Transmedia Zalzabilla Nadya ketika membuka sesi kuliah bersama praktisi dihadapan mahasiswa Produksi Media, di Kampus IMDE, Jakarta Barat, Kamis siang (25/06/2026).

Sebagai penutup rangkaian perkuliahan semester ini, mata kuliah Transmedia Storytelling yang diampu oleh Gadis H N Rose, S.I.Kom., M.Sos. menyelenggarakan sesi kuliah bersama praktisi bertajuk “Spill the Tea: Belajar Seni Storytelling Lewat Voice Over di Era Transmedia”. Kegiatan ini menghadirkan Zalzabilla Nadya AL, S.I.Kom., sebagai profesional Voice Over Talent dari CNN Indonesia dan berbagai program feature Transmedia, serta lainnya, guna memberikan wawasan komprehensif mengenai peran krusial suara dalam ekosistem konvergensi media.

Sesi ini pun dirancang khusus untuk menjembatani teori akademik dengan praktik industri, sekaligus membuktikan bahwa setiap individu dapat mengoptimalkan potensi warna suaranya sebagai instrumen penceritaan yang memikat untuk audiens lintas platform.

Menjadi Voice Over Talent Tidak Harus ‘Besuara Emas’

Dalam pemaparannya, lebih lanjut Zalzabilla mengupas tuntas berbagai aspek fundamental industri penceritaan atau storyteling melalu audio, yakni diawali dengan meluruskan mitos dan fakta seputar profesi voice over. Mahasiswa secara interaktif diajak mengenali modal awal berupa warna suara masing-masing, serta dibekali keterampilan dasar (basic skill) yang mencakup penguasaan artikulasi, intonasi, tempo dan ritme, hingga teknik voice acting. Secara khusus ia menegaskan terlaot mitos bahwa voice over hanya untuk orang yang terlahir dengan suara “bagus” atau “ngebass”. Mahasiswa diberikan validasi bahwa setiap orang punya potensi yang sama terkait voice skill, asal mau terus berlatih dan percaya diri.

“Kalian semua yang ada di sini punya peluang yang sama untuk bisa melakukan voice over dengan baik. Modal awalnya mengenal karakteristik suara, terus mengasah basic skill, dan konsisten berlatih. Kalian bebas mengeksplorasi karakteristik suara masing-masing sebagai alat storytelling yang kuat,” tambahnya

Lebih dari sekadar olah vokal, pemaparan praktisi juga diperluas pada elemen produksi teknis. Mahasiswa diperkenalkan pada berbagai genre suara, fungsi integrasi backsound dan efek suara (sound effect) saat proses penyuntingan, hingga pengenalan media rekam dari standar dasar hingga profesional. Dilengkapi dengan panduan langkah demi langkah (step by step) memulai karier, pemahaman komprehensif ini diharapkan mampu mempersiapkan mahasiswa

merintis langkah sebagai talenta suara yang memperkuat storyworld di industri kreatif digital secara utuh dan interaktif.

Praktik Voice Over

Tidak hanya membagikan teori, Zalzabilla juga memberikan kesempatan langsung kepada mahasiswa untuk melakukan praktik voice over secara interaktif. Sesi simulasi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji penerapan basic skill, seperti artikulasi dan intonasi yang telah dipelajari sebelumnya. Melalui praktik ini, mahasiswa ditantang untuk melatih kepercayaan diri sekaligus mengeksplorasi keunikan karakteristik suara masing-masing saat membawakan narasi.

Sesi praktik langsung ini pun disambut antusias dan berhasil menghidupkan suasana kelas yang dinamis dan kompetitif. Lebih dari sepuluh mahasiswa berani dan percaya diri untuk mencoba di hadapan kelas. Melalui keberanian tersebut, mereka pada akhirnya dapat secara langsung mengenali karakteristik suara masing-masing. Seusai simulasi, Zalzabilla juga secara komprehensif memberikan feedback sekaligus insight mendalam terkait hasil praktik mahasiswa. Feedback pun menjadi evaluasi berharga bagi mahasiswa untuk mengukur penerapan basic skill yang dimiliki secara objektif.

“Karakter dan warna suara kalian selain beragam, juga menarik. Basic skill masing-masing juga sudah dimiliki, artikulasi jelas, intonasi pas, tugas teman-teman selanjutnya tinggal konsisten berlatih dan fokus meningkatkan bagian mana yang perlu lebih fokus untuk diasah” ujar Zalzabilla sebelum menutup sesi kuliah bersama praktisi ini.

Teguh Setiawan, S.Pd., M.I.Kom (Kaprodi Produksi Media), mengatakan, kuliah bersama praktisi menjadi wujud komitmen program studi dalam menghadirkan pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan industri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori transmedia storytelling, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dari praktisi untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

Gadis HN Rose, S.I.Kom., M.Sos (Dosen Pengampu Transmedia Storytelling), menyatakan, sesi bersama praktisi ini sengaja dihadirkan sebagai penutup rangkaian perkuliahan yang menyenangkan dan tentu tetap edukatif. Sesi ini sekaligus menjadi konfirmasi nyata atas materi Creative Skill Storytelling yang telah dipelajari di kelas, yakni sebagai elemen krusial untuk menghidupkan emosi sekaligus menegaskan makna serta pesan moral dari sebuah narasi. “Selain itu, saya berharap pemahaman prinsip transmedia selama satu semester ini mahasiswa terus mampu memaksimalkan dampak pesan melalui penciptaan pengalaman audiens yang interaktif, partisipatif, dan saling melengkapi,” katanya. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU