14 March 2026
HomeBeritaKesraLawan Konten Negatif dengan Tingkatkan Literasi Digital

Lawan Konten Negatif dengan Tingkatkan Literasi Digital

SHNet, Makassar— Maraknya penggunaan internet dewasa ini, selain berdampak positif, juga memiliki efek negatif, seperti konten-konten negatif ataupun kabar bohong. Agar publik terhindar dari pengaruh konten negatif dan tidak terperangkap oleh kabar bohong, pemahaman tentang literasi digital mutlak diperlukan.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam webinar bertajuk “Awas! Kenali Berita Palsu di Media Sosial” yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (7/7).

Webinar tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu partnership & strategic MAFINDO Dewi S Sari; Jawara Internet Sehat 2022 Julianur Rajak Husain; serta Mario Antonius Birowo selaku Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta sekaligus pegiat Japelidi.

Dewi S Sari menyampaikan materi dengan judul ‘Peran Milenial dalam Mengelola Informasi’. Kreativitas, nilai positif, dan aman dalam menggunakan media digital perlu dimiliki generasi milenial. Keterampilan yang wajib dimiliki milenial di era society 5.0 diantaranya kecerdasan sosial, kepemimpinan, berpikir out of the box, manajemen waktu baik, dan cakap digital.

“Gunakan media digital secara positif berarti bijak dan bermanfaat, secara kreatif, serta jangan lupakan soal keamanan digital,” kata Dewi.

Julianur Rajak Husain menyampaikan materi etika digital berjudul ‘Tips Mengenali Hoaks atau Fakta’. Hoaks ciri-cirinya ‘too good/bad to be true’, kata ejaan dan tata bahasan cenderung provokatif, mengutip lembaga orang terkenal, dibuat seolah-olah meyakinkan, menyembunyikan fakta, dan minta diviralkan.

“Cara membedakan hoaks di media sosial yaitu rajin berpikir kritis setiap menerima informasi, mengenali ciri-ciri hoaks, periksa fakta,” tutur Julianur.

Mario Antonius Birowo menambahkan materi keamanan berjudul ‘Awas! Kenali Berita Palsu di Dunia Digital’. Konten negatif banyak beredar di dunia digital. Konten semacam ini sengaja dibuat penuh kepentingan, misalnya untuk membuat orang tertipu, susah, terpedaya. Konten negatif dapat berupa hoaks, perundungan, maupun ujaran kebencian. Motivasi pembuatan konten negatif ini diantaranya untuk mencari uang, politik, mencari kambing hitam, maupun memecah belah persatuan. 2024 akan banyak konten negatif bermunculan. Kita harus hati-hati.

“Cara melawan banjirnya konten negatif yaitu dengan membedakan motivasi dalam mencari informasi, mengendalikan keinginan mengakses informasi, menjala informasi bermanfaat, jangan mengakses informasi ‘sampah’ yang merugikan diri sendiri,” pungkasnya.

Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 mengalami peningkatan. We Are Social mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Dapat dikatakan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 61.8% dari total populasi Indonesia. Menurut Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, indeks atau skor literasi digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori “sedang”.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU