SHNet, Jakarta – Kampung Massaleong kini dikembangkan menjadi objek wisata baru yang akan memperkaya Kampung Karst Rammang-rammang, Maros, Sulawesi Selatan. Kampung Massaleong bakal dibangun menjadi kampung budaya.
Kampung Budaya Massaleong akan menawarkan atraksi seni dan budaya sebagai kearifan masyarakat lokal. Sejarah kampung ini semakin menarik lantaran diketahui sebagai kampung tertua di Desa Salenrang, Maros.
Di samping melestarikan kebudayaan, Kampung Massaleong juga menjadi identitas bagi masyarakat setempat selain pariwisata Rammang-rammang.
Sejarah seni dan budaya memang sangat melekat dengan kampung yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga, dengan jumlah penduduk sebanyak lebih dari 80 jiwa tersebut.
Sejak dulu, kampung itu menjadikan biola, kecapi dan gambus serta beberapa alat musik lainnya sebagai alat musik yang harus selalu ada pada setiap hajatan atau pesta pernikahan. Namun dewasa ini, pertunjukan musik tradisional tersebut sudah sangat jarang ditampilkan.
Status nyaris punah, kemudian memberi semangat baru bagi para kawula muda setempat untuk mengembalikan kejayaan kesenian budaya dari Kampung Massaleong.
Pelaku musik tradisional yang tersisa kini tengah melakukan regenerasi dengan mengajarkan para pemuda dan anak-anak untuk mencintai budaya dan seni lokal.
Mereka melatih para tunas desa, bukan hanya cara menggunakan alat, namun juga cara membuat alat musik.
Regenerasi yang dibangun oleh sejumlah penggagas kampung budaya mendapat respons luar biasa dari para pemuda. Alhasil, hampir setiap rumah sudah ikut memproduksi alat musik tradisional tersebut.
Selain melestarikan seni dan budaya lokal, pembuatan alat musik ini ikut menumbuhkan ekonomi baru bagi warga setempat, dengan menjajakan hasil kerajinan tangannya. Beberapa buatan warga juga telah merambah pasar melalui pameran.

Meski belum mematok harga untuk satu unit alat musik, namun harga jualnya juga terbilang tidak murah, yakni hingga Rp350 ribu per satuannya. Karena itu, hampir setiap anak muda memiliki alat musik khas Bugis, Makassar, itu.
Hal itu menjadi salah satu wujud kesiapan masyarakat dalam menyiapkan Kampung Massaleong menjadi kampung budaya.
Saat ini sudah tinggal beberapa orang yang bisa memainkan alat musik mirip gitar itu. Sekarang pihaknya membuat grup yang mengajarkan anak-anak memainkan alat musik, dengan jadwal dua kali seminggu untuk latihan..
Salah satu warga lokal yang masih paham terkait penggunaan dan pembuatan alat musik tradisional ini adalah Haji Ali, perantau yang telah berusia sekitar 65 tahun.
Seperti dikutip Antara, Haji Ali yang lama hidup di rantau kini kembali ke kampung kelahirannya Massaleong dan baru menetap sejak dua tahun terakhir.
Ia mengakui semangat anak-anak muda di kampungnya menjadi pijar baru pada fase hidupnya yang mengingatkan kembali saat ia masih muda dan menggandrungi seni musik tradisional.
“Kami kembali semangat dan tentu terhibur sejak ada kegiatan latihan menggunakan alat kecapi, kami merasa kembali muda dan sangat menyenangkan,” ujarnya.
Selain mengembangkan seni dan budaya sebagai warisan pendahulu warga Kampung Massaleong, juga terdapat sejumlah potensi yang bisa dikembangkan di kampung itu.
Masyarakat setempat tengah mengembangkan ubi hutan bernama “sikapa” yang diketahui beracun, namun kaya dengan kandungan obat. Jenis ubi ini hanya bisa ditemukan di Kampung Massaleong, dari berbagai kampung di Kabupaten Maros.
Konon, ubi ini pernah menjadi makanan utama masyarakat terdahulu karena khasiatnya yang dapat menjadi penawar atau obat untuk beberapa jenis penyakit, salah satunya penyakit diabetes.
Namun pada perkembangannya, ubi sikapa kini jarang dikonsumsi karena proses pengolahannya juga harus serba hati-hati agar tidak beracun.
Sementara ini, ada dosen dari Makassar yang sekarang mau meneliti dan ingin menguji coba bagaimana kandungan sikapa dan tingkat khasiatnya menjadi obat. (Vicky Tjoa)

