Kupang-Setiap memasuki bulan Agustus, yang dikenal sebagai bulan perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia, semua lapisan masyarakat Indonesia selalui merayakan dengan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan peringatan hari jadi Republik Indonesia, yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Setiap kelompok dan instansi pemerintah tidak absen untuk merancang kegiatan yang membuat peringatan HUT RI bukan saja semarak, tapi menyisakan kesan yang mendalam.
Di tingkat pusat, misalnya, dalam peringatan HUT RI, mulai dari Presiden, Wakil Presiden, menteri dan pejabat tinggi negara selalu tampil dengan busana adat berbagai daerah di Indonesia. Kebiasaan yang patut dipertahankan dan ditingkatkan, karena fashion daerah merupakan kekayaan yang sangat beragam di bumi Indonesia.
Penggunaan busana daerah itu, bukan saja membuat suasana formal dengan jas dan safari yang selalu dikenakan sebelum era Presiden Jokowi mengubah suasana menjadi semarak, tetapi juga mempertontonkan kekayaan busana Indonesia. Hal ini, tentu akan membangkitkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan busana adat yang merupakan warisan turun-temurun di berbagai daerah di Indonesia.
Di tingkat daerah, juga tidak kalah dengan berbagai kreativitas, baik dari Pemerintah Daerah maupun inisiatif masyarakat. Tentu, salah satu yang dinantikan yakni berbagai perlombaan olahraga sampai dengan panjat pinang untuk memperebutkan aneka hadiah.
Kemudian bagaimana dengan perayaan HUT RI di NTT pada tahun 2023 ini? Kreativitas dari Pemda NTT tampak dari adanya perlombaan paduan suara yang wajib diikuti setiap jajaran instansi di bawah Pemerintah Provinsi NTT. Sesuai pengamatan di jagat media sosial, lagu wajib Teguhku Kuberlapis Baja, selain itu, setiap instansi juga diundi untuk menyanyikan tiga lagu, yakni dari daratan Timor, Flores dan Sumba.
Selain lagu wajib dan lagu undian, setiap instansi juga wajib menampilkan tarian berirama Woleka dari Pulau Sumba. Setiap instansi juga wajib untuk mempublikasikan dokumen rekaman ke akun youtube.
Salah satu instansi, Badan Penghubung NTT di Jakarta, Dinas PUPR, Dinas Sosial, Dinas Koperasi, Dinas Kominfo, Dinas Penanaman Modal dan PTSP NTT, Biro Umum Setda NTT, misalnya kebagian menyanyikan lagu Oli Gailaru Marada. Hal itu tampak dalam akun youtube setiap instansi. Sangat menarik, karena setiap isntansi menampilkan busana tarian adat Sumba.
Lagu Oli Gailaru Marada merupakan lagu daerah Sumba atau lebih tepatnya Sumba Tengah yang berisi syair-syair adat, yang tidak bisa diterjemahkan secara langsung untuk memahami maknanya, karena merupakan kiasan. Misalnya, Oli Gailaru Marada (Kawan, Padang yang luas), Oli Bakulu Paraingu (Kawan, kampung yang besar). Hal ini merupakan julukan untuk wilayah Anakalang, sehingga akan keliru kalau diterjemahkan secara langsung karena akan kehilangan makna.
Lagu ini diciptakan tampaknya terinspirasi dari peristiwa di wilayah Anakalang menderita kekurangan pangan karena bencana alam yang muncul akibat hama belalang pada dekade 1970an. Lagu ini antara lain mengajak agar semua orang peduli dengan situasi yang terjadi.
Sementara itu tarian Woleka merupakan tarian tradisional dari Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, yang selalu diiringi gong dengan irama riang gembira dan sukacita. Musik gong untuk irama Woleka ini terdiri dari gong pendahulu (paullu), gong yang menjawab (pasapa), gong kawukeka, gong kouka yang diserta dengan tambur, dua gong besar dan katubba (mirip tifa).
Dalam catatan Almarhum Dj. Poro, menuliskan, secara umum, irama gong di Sumba Barat, misalnya terdiri dari irama tanda duka (tudda tala kako dan tabbo), irama suka cita (woleka), irama tanda riang dan gembira (kataga), irama gong upacara adat yang penuh dengan seni (yaiwo; dodo).
Dari berbagai tayangan youtube yang sempat disimak, perwakilan dari setiap instansi di NTT menampilkan kualitas paduan suara yang sangat memukau, baik ketika membawakan lagu dari Timor, Flores maupun Sumba. Begitu juga ketika tampilan tarian Woleka yang diserta irama gong dan nyanyian Sumba, rata-rata menampilkan gerakan yang memukau dan enak dipandang.
Namun, bagaimanapun semua penari menampilkan yang terbaik. Apalagi, semua penari bukan orang Sumba yang memahami tarian Woleka. Tapi, terlepas dari semua itu, berbagai atraksi yang ditayangkan lewati Youtube itu telah menyemarakkan HUT RI tahun 2023. Semoga, di tahun-tahun mendatang, tarian dan nyanyian dari berbagai daerah di NTT bergiliran untuk dipentaskan, karena semua itu merupakan kekayaan yang layak dilestarikan dan dikembangkan. Dirgahayu RI ke-78. Merdeka!(den)

